Saturday, October 20, 2018

PASANGAN MAKRUH

PASANGAN MAKRUH

(Ringkasan Mauidhoh alm KH. Syaerozi)

Saat walimatul arsy putra pengasuh PP Mambaul Maarif Denanyar, Umar bin KH Zainal Arifin Abu Bakar dan Muzadlifah Nur binti KH M Slamet Jakarta di Denanyar, Sabtu (17/2/2018), KH Saerozi Lamongan menjelaskan pasangan yang makruh. ’’Lelaki juwelek menikah dengan perempuan cuwantik itu makruh,’’ ucapnya disambut ger-geran ribuan tamu yang hadir termasuk Gus Ipul.

’’Karena mengganggu ketenangan lingkungan,’’ tambahnya, kembali disambut ger-geran. Ketika si istri memperkenalkan sang suami, bisa jadi dia dituduh telah diguna-guna. ’’Nemu nok endi   Nduk arek lanang koyok ngunu,’’ ucapnya, lagi-lagi disambut tawa hadirin. ’’Malah bisa menimbulkan fitnah. Banyak yang mendoakan agar si suami segera mati. Akeh sing arep-arep rondone,’’ ucapnya.

Inginkan menikah dengan cewek secantik apapun, menurut Kiai Saerozi adalah hak kita. Sah-sah saja. Demikian pula perempuan ingin menikah dengan cowok seperti apapun juga haknya. Sah-sah saja. ’’Tapi mbok yo bercermin. Modalku iki koyok opo. Biar tidak menyusahkan yang ngelamarno, karena bolak-balik ditolak,’’ ucapnya.

Kiai Saerozi juga berpesan agar ibu-ibu tidak gampang menyampaikan segala yang terlintas dibenaknya kepada suami. Lihat rumah bagus, ngomong ke suami. Lihat kursi bagus, ngomong ke suami. Walaupun istri maunya ngomong saja, itu sudah membebani pikiran suami. ’’Sebab perempuan itu bawaannya ngomong, laki-laki bawaannya mikir. Semakin banyak wanita ngomong, semakin banyak pula suami mikir. Kalau suami banyak mikir, ususnya jadi kaku. Akhirnya banyak suami yang mati duluan,’’ tuturnya.

Sebanyak 85 persen penyakit, kata Kiai Saerozi, disebabkan oleh pikiran. ’’Tidak ada penyakit yang disebabkan oleh omongan. Itulah sebabnya orang sakit jiwa badannya sehat-sehat. Sakit flu dan pilek saja tidak pernah, karena tidak pernah mikir,’’ paparnya disambut tawa hadirin.

Diminta atau tidak, kata Kiai Saerozi, suami cari uang itu pasti untuk istri. Hanya saja suami tidak berani ngomong akan belikan ini,  akan belikan itu. ’’Sebab kalau suami ngomong duluan, istri nagihnya ngalah-ngalahi bank. Dan istri selalu ingat, tak pernah lupa omongan suami,’’ ucapnya disambut ger-geran ribuan tamu yang hadir.

Sebenarnya, Kiai Saerozi menjelaskan empat maqolah. Saya datang hanya menangi dua yang terakhir. Orang mencari kenikmatan pada kemewahan, padahal adanya kenikmatan itu pada kesehatan. Semewah apapun, kalau tidak sehat, pasti rasanya tidak nikmat. Sebaliknya, sesederhana apapun jika sehat, pasti nikmat.

Orang mencari rezeki  di bumi, padahal adanya rezeki itu aslinya di langit. Rezeki itu pemberian Allah, bukan hasil jerih payah kita. ’’Hanya saja Allah memberikannya bersamaan usaha kita. Makanya Rosulullah SAW bersabda, harrik yadak, unzil alaika rizqo, gerakkan tanganmu niscaya Allah pasti menurunkan rezeki kepadamu,’’ jelasnya.

Nyambut gawe yang paling baik itu apa? ’’Yang sesuai hatimu. Istafti qolbak. Tanya hatimu. Jadikan kerjamu adalah hiburanmu,’’ pesannya.

Kerja apapun, jika hati kita senang, hasilnya pasti bagus. ’’Ngulang kok seneng, anak rame seperti apapun tidak ngersulo. Alhamdulillah aku teko arek-arek rame. Kalau tidak senang ngulang, anak rame bisa ditutuki,’’ urainya.

Senang itu tanda bersyukur. Jika hati kita senang dalam melakukan apapun, Allah yang akan membangun, menyempurnakan dan memberikan hasil terbaik. ’’Guru ngulang kok atine suweneng, muridnya pasti pinter-pinter,’’ bebernya.

Inilah sebabnya, murid selalu dianjurkan untuk menyenangkan hati guru. Jangan sampai menyakiti hati guru. KH Djamaludin Ahmad sering menyampaikan dawuh. Kata beliau, dawuh ini juga sering disampaikan KH Mahrus Ali Lirboyo. Intinya, murid yang menyakiti guru akan diuji tiga hal. Pertama, hilang ilmunya. Kedua, lidahnya ketul tidak bisa menyampaikan ilmu. Ketiga, jadi orang fakir miskin sebelum wafat

  
Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang menyenangkan bagi semua makhluk Allah.

(Rojiful M)

Wednesday, October 17, 2018

keluhuran budi pekerti Alhabib Umar ibn Hafidz

Berikut ini ada sekelumit kisah menarik tentang keluhuran budi pekerti Alhabib Umar ibn Hafidz yang dikisahkan langsung oleh Si Penulisnya. Berikut saya akan kutip kisahnya, semoga lantaran kisah ini semakin membuat kita akan rindu kehadiran beliau di bumi Indonesia pertiwi ditahun-tahun berikutnya.
Ini adalah pengalaman pribadi saya (Habib Ahmad ibn Muhammad Alkaff) yang tak akan pernah terlupa tentang kemuliaan akhlak Alhabib Umar ibn Hafidz. Waktu itu pertengahan april 1994 musim sejuk di kota Tarim-Hadramaut mulai menyapa kami yang memang kami belum terbiasa dengan dinginnya cuaca Tarim ketika musim dingin. Alhabib Umar pun telah menyiapkan untuk kami para pelajarnya dari Indonesia yang waktu itu sangatlah manja dengan sebuah selimut tebal yang mahal, masing-masing dari kami mendapatkan satu selimut.
Kisah pun bermula, seperti biasanya selepas Ashar kami dan Alhabib Umar menuju kota Tarim untuk menghadiri “rauhah” dan maulid di kota tersebut. Selepas acara kami pun kembali ke kediaman Alhabib Umar di kota Aidid. Biasanya kami pulang larut malam dan kerana pada waktu itu Alhabib Umar hanya memiliki 1 mobil maka kami pun selalu berebutan untuk menaiki kereta tersebut. Terkadang kereta Nissan patrol itu dimuat oleh 20 orang lebih sehingga penuh di dalam dan di atas kereta. Kami berebut kerana memang jika kami tidak dapat tempat di kereta tersebut terpaksa kami akan pulang dengan berjalan kaki yang berjarak kurang lebihnya 5 km. Saya dan dua teman saya pada waktu itu kurang beruntung. Walhasil, kami bertiga berjalan kaki untuk pulang ke rumah Alhabib Umar. Sesampainya di tempat Alhabib Umar, kami mendapati teman-teman kami yang lain telah mendapatkan selimut tebal yang baru saja dibagikan oleh Alhabib Umar. Kami pun bergegas menemui Alhabib Umar. Tetapi, lagi-lagi kami kurang beruntung karena selimutnya telah habis. Alhabib Umar mengatakan bahawa kedai penjual selimutnya kehabisan stok dan berjanji akan memenuhi kekurangannya besok pagi.
Kami pun minta izin pergi kepada beliau untuk tidur. Akan tetapi, sebelum kami pergi Alhabib Umar menyuruh kami untuk menunggu. Kami menunggu Alhabib Umar yang masuk ke dalam rumahnya. Beberapa saat kemudian Habib Umar pun keluar dengan membawa beberapa selimut tipis dan lusuh dan membagikannya kepada kami bertiga. Kami pun menerima selimut itu tanpa pikir panjang lalu kami pun pulang menuju asrama yang berada tepat di belakang rumah Alhabib Umar. Kami membagikan selimut tipis dan lusuh pemberian Alhabib Umar yang berjumlah 2 selimut besar dan 3 selimut kecil untuk kami bertiga.
Baru saja kami meluruskan badan untuk tidur terdengar tangisan bayi yang tak henti-hentinya yang kami yakin itu adalah tangisan anak Alhabib Umar yang masih bayi pada waktu itu. Kami pun sempat bertanya tanya dalam hati kenapa bayi itu menangis sepanjang malam. Sambil tetap berusaha untuk memejamkan mata. Menjelang Subuh suara tangisan bayi pun berhenti, mungkin karena kelelahan menangis sepanjang malam. Kami pun bergegas menuju ke masjid Aidid yang terletak persis di depan rumah Alhabib Umar sambil membawa kitab Nahwu yang akan kami pelajari setelah shoat Subuh di bawah bimbingan langsung Alhabib Umar.
Setelah selesai belajar Nahwu kami pun pulang ke asrama kami. Di pertengahan jalan kami bertemu dengan Habib Salim anak dari Alhabib Umar bin Hafidz yang waktu itu masih berusia 6 tahun. Kami cuba menyapa dan bertanya, “Wahai Salim mengapa adik bayimu menangis tak henti-hentinya tadi malam? Apakah dia sakit?
Habib Salim pun menjawab, “Tidak, adikku tidak sakit.” Jawab Habib Salim.
“Lalu apa yang membuatnya menangis?” Tanya lagi kami.
Dengan keluguannya Salim pun menjawab, “Mungkin kerana kedinginan, kerana semalam kami sekeluarga tidur tanpa selimut?!”
Bagai tersambar petir kami terkejut mendengar ucapan tersebut. Kami pun berlari menuju asrama untuk mengambil selimut lusuh yang ternyata milik keluarga Alhabib Umar yang beliau berikan kepada kami, dan beliau sekeluarga rela tidur tanpa selimut didinginnya malam kota Tarim demi anak-anak muridnya. Kami kembalikan selimut tersebut kepada Alhabib Umar sambil membendung air mata dan tanpa tahu harus berkata apa. Dengan senyum dan seolah-olah tak terjadi apa-apa, Alhabib Umar menerima selimut dari kami dan menggantikan selimut tersebut dengan yang baru, yang juga baru saja dikirim oleh pemilik toko. Kami pun kembali ke asrama tanpa dapat membendung lagi air mata kami yang melihat kemuliaan yang beliau berikan kepada kami.
Sambil berkata di dalam hati, “Ya Allah ternyata di abad ini masih ada orang yang berhati begitu mulia seperti beliau. Terimakasih Ya Allah yang telah mempertemukan aku dengan manusia mulia dikehidupanku ini.

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Kisah Nyata Keindahan Akhlak Putri Al-Habib Umar bin Hafidz - Yaman

Selagi aku masih duduk di Daruzzahro, Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau :
“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.

Al Habib Umar bin Hafidz

Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:

“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“

Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:

“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.

Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.

Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.

Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.

Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:

“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:

“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.

Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang.

Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?

Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.

Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.

Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu.

Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya.

Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku.

Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru.

Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.

Wallohu ‘Alam.

(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya‎).

KITAB-KITAB AN-NAWAWI YANG TIDAK TUNTAS DITULIS

KITAB-KITAB AN-NAWAWI YANG TIDAK TUNTAS DITULIS

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Manusia bisa saja memiliki rencana, tetapi Allah-lah yang menakdirkan. Tidak semua keinginan manusia (yang baik sekalipun) bisa terwujudkan karena kematian lebih cepat menyambarnya. Hal seperti ini terjadi juga pada An-Nawawi. Ada sejumlah kitab yang mana An-Nawawi bertekat menuliskannya sampai tuntas, tetapi datangnya ajal menghalangi beliau untuk menuntaskannya sehingga sampai hari ini peninggalan An-Nawawi itu tersimpan di rak-rak perpustakaan kaum muslimin dalam bentuk kitab yang tidak tuntas. Kisah An-Nawawi ini seharusnya sekaligus menjadi pelajaran penting bagi kita, bahwa jika kita punya niat kebaikan, bersegeralah melakukannya tanpa menunda (mubadaroh), karena kita tidak tahu kapan Allah memutuskan untuk mencabut nyawa kita.

Dari sisi ketuntasan, kitab-kitab An-Nawawi sebenarnya ada tiga macam.

Pertama, kitab-kitab yang ditulis secara tuntas seperti kitab “Al-Arba’in An-Nawawiyyah”, “Riyadhu Ash-Sholihin”, “Al-Adzkar”, “Roudhotu Ath-Tholibin”, dan semisalnya

Kedua, kitab-kitab yang tidak tuntas tertulis karena Allah keburu mewafatkan An-Nawawi, seperti kitab Al-Majmu’ yang merupakan syarah kitab Al-Muhadzdzab karya Asy-Syirozi.

Ketiga, kitab-kitab yang telah ditulis oleh An-Nawawi tapi kemudian An-Nawawi berubah pikiran dan memutuskan untuk menghapusnya. Motivasi menghapus kitab yang sudah ditulis ini hanya Allah dan An-Nawawi yang tahu. Bisa jadi karena An-Nawawi kuatir dengan niatnya, bisa jadi ada konten ilmu yang kurang akurat, atau sebab-sebab yang lain. Yang jelas, jenis kitab kategori ketiga ini memang ada sebagaimana diceritakan oleh murid An-Nawawi yang bernama Ibnu Al-‘Atthor berikut ini,

ولقد أمرني مرة ببيع كراريس نحو ألف كرَّاس بخطه، وأمرني بأن أقف على غسلها في الورَّاقة، وخوَّفني إن خالفت أمره في ذلك، فما أمكنني إلا طاعته، وإلى الآن في قلبي منها حَسَراتٌ (تحفة الطالبين في ترجمة الإمام محيي الدين (ص: 94)

“Sungguh, suatu saat beliau memerintahkan kepadaku untuk menjual kurrosah-kurrosah (satu bendel lembaran yang berisi 10 waroqoh/lembaran kertas) sekitar 1000 kurrosah yang bertuliskan tangan beliau sendiri. Beliau memerintahkan aku agar menghapus tulisan pada kurrosah-kurrosah itu pada seorang tukang salin kitab. Beliau menakut-nakuti aku supaya aku tidak melanggar perintah beliau dalam hal itu. Jadi, aku tak kuasa kecuali menaatinya. Sampai sekarang di hatiku ada banyak penyesalan karena (hilangnya) tulisan-tulisan (berharga) itu” (Tuhfatu Ath-Tholibin, hlm. 94).

Berikut ini disajikan daftar enam belas kitab An-Nawawi yang disebut tidak selesai ditulis karena keburu wafat. Sekedar catatan tambahan, di antara manfaat mengetahui daftar ini adalah kita bisa lebih cepat dalam menentukan rujukan apa yang kita baca dari karya-karya An-Nawawi pada saat ingin mencari pembahasan tertentu. Jika kita ingin mencari pembahasan fikih yang ditulis An-Nawawi tentang hukum-hukum pernikahan misalnya, maka menjadi langkah yang keliru jika mencarinya di kitab Al-Majmu’ karena kitab ini pembahasannya hanya sampai bab riba (pendapat lain; bab Al-Mushorrot).

Kitab-kitab yang disebut tidak tuntas ditulis An-Nawawi adalah,

1. “Al-Majmu’” (المجموع). Kitab ini adalah syarah muthowwal untuk kitab Asy-Syirozi yang bernama “Al-Muhadzdzab”. Penulisannya hanya sampai bab riba (pendapat lain; sampai bab mushorrot). Lanjutannya diteruskan Taqiyyuddin As-Subki dan Al-Muthi’i. Resensi lebih detail kitab ini bisa dibaca pada artikel saya yang berjudul “Mengenal Kitab Al-Majmu’ Karya An-Nawawi”.

2. “At-Tahqiq” (التحقيق). Penulisannya hanya sampai bab solat musafir.

3. “At-Tanqih” (التنقيح). Kitab ini adalah syarah dari kitab “Al-Wasith” karya Al-Ghozzali. Penulisannya hanya sampai bab syarat-syarat salat.

4. “Daqo-iqu Al-Minhaj” (دقائق المنهاج). Penulisannya hanya sampai pada bab al-jiroh/luka-luka

5. “Daqo-iqu Ar-Roudhoh” (دقائق الروضة). Penulisannya hanya sampai pada bab salat.

6. “Khulashotu Al-Ahkam” (خلاصة الأحكام). Kitab ini ditulis hanya sampai bab zakat saja.

7. “At-Talkhish Syarhu Al-Jami’ Ash-Shohih li Al-Bukhori” (التلخيص شرح الجامع الصحيح للبخاري). Penulisannya hanya sampai bab “kitabul ilmi”.

8. “Al-Ijaz fi Syarhi Sunan Abi Dawud” (الإيجاز في شرح سنن أبي داود). Penulisannya hanya sampai bab wudhu.

9. “Tuhfatu Ath-Tholib An-Nabih” (تحفة الطالب النبيه). Penulisannya baru sampai bab haid. Masih berupa manuskrip.

10. “Jami’u As-Sunnah” (جامع السنة). Ditulis tidak sampai satu kurrosah. Masih berupa manuskrip.

11. “Muhimmatu Al-Ahkam” (مهمات الأحكام). Penulisannya baru sampai bab “thoharotu Ats-tsaub wa Al-badan”. Masih berupa manuskrip.

12. “Al-Ushul wa Adh-Dhowabith” (الأصول والضوابط). As-Suyuthi dalam “Al-Minhaj As-Sawiyy” menyebut kitab ini tidak selesai ditulis An-Nawawi. Saya belum mengerti alasan As-Suyuthi menyebut kitab ini belum tuntas. Edisi cetak yang ditahqiq Hitou mengesankan kitab ini sudah tuntas ditulis.

13. “Thobaqot Al-Fuqoha’” (طبقات الفقهاء). Barangkali lebih tepat kitab ini baru ditulis dalam bentuk “musawwadah”. Keterangan para penulis biografi An-Nawawi, Al-Mizzi-lah yang melalakukan “tabyidh” terhadap kitab ini. Penjelasan detail makna “tabyidh” dan “musawwadah” bisa dibaca pada artikel saya yang berjudul “Apa Makna ‘Tabyidh‘ Kitab?”

14. “Tahdzibu Al-Asma’ wa Al-Lughot” (تهذيب الأسماء واللغات). Kitab ini masih berbentuk “musawwadah”, lalu di”tabyidh” oleh Al-Mizzi.

15. “Al-Imla’ ‘ala Haditsi Al-A’mal bi An-Niyyat” (الإملاء على حديث الأعمال بالنيات). As-Suyuthi dalam Al-Minhaj As-Sawiyy menyebut bahwa An-Nawawi belum menuntaskan kitab ini. Bisa jadi nama lain dari kitab ini adalah “Al-Amali” yang disebut sebagai salah satu kitab An-Nawawi juga sebagaimana disebut para penulis biografi An-Nawawi. Masih berupa manuskrip.

16. “Bustanu Al-‘Arifin” (بستان العارفين). Kata Asy-Suyuthi dalam “ Al-Minhaj As-Sawiyy” An-Nawawi tidak menuntaskan kitab ini. Versi cetak yang ditahqiq oleh Al-Hajjar menampilkan bab terakhirnya adalah tentang “hikayat mustathrofah”

رحم الله النووي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/10/17/kitab-kitab-nawawi-yang-tidak-tuntas-ditulis/

***
6 Shofar 1440 H