Friday, January 11, 2019

SURAT DALAM AL-QURAN

Oleh; Syukri Rifai, S.Pd.I

A. Definisi Surat

1.  Secara Bahasa/Lughowiy

Surat dari segi bahasa merupakan jamak dari kata suwar (سُوَرٌ) yang berarti kedudukan atau tempat yang tinggi[1], sesuai dengan kedudukan Al-Quran karena dia diturunkan dari tempat yang tinggi yaitu Lauh al-Mahfûzh dari sisi Tuhan yang Maha Tinggi pula yaitu Allah Swt.

2.  Secara Istilah

Adapun secara istilah surat adalah:

وَالسُّوْرَةُ هِيَ الْجُمْلَةُ مِنْ آيَاتِ اْلقُرْآنِ ذَاتُ الْمَطْلَعِ وَالْمَقْطَعِ

Surat adalah sejumlah beberapa ayat Al-Quran yang memiliki permulaan dan penghabisan.[2]

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa surat adalah kumpulan beberapa ayat, maka tidak ada satu surat yang terdiri hanya satu ayat. Surat harus memiliki sejumlah ayat minimal 3 ayat seperti dalam Surat Al-Kautsar. Kumpulan beberapa ayat ini syaratnya mempunyai permulaan dan akhiran. Jika terkumpul sejumlah ayat sekalipun banyak tetapi tidak ada permulaan atau belum mencapai akhiran dan atau tidak ada keduanya, maka belum dinamakan surat dalam Al-Quran.

B. Macam-macam Surat

Dilihat dari segi panjang pendeknya, surat dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu sebagai berikut:

Surat Ath-Thiwâl (الطِّوَالٌ = panjang)

Yaitu surat yang jumlah ayatnya lebih dari 100 sampai 200-an atau memang lebih panjang dari yang lain. Surat panjang ini ada tujuh, oleh karena itu disebut As-Sab’u Ath-Thiwâl (السَّبْعُ الطِّوَالُ = surat tujuh), yaitu sebagai berikut:

Surat Al-Baqarah (2): 286 ayatSurat Ȃli ‘Imrân (3): 200 ayatSurat An-Nisâ’ (4): 176 ayatSurat Al-Mâ’idah (5): 120 ayatSurat Al-An’âm (6): 165 ayatSurat Al-A’râf (7): 206 ayatSebagian ulama berpendapat Surat Al-Anfâl (8) 75 ayat bersama Surat Al-Barâ’ah atau At-Taubah (9): 129 ayat karena tidak ada pemisah dengan basmalah dan sebagian pendapat mengatakan Surat Yûnus (10): 108 ayat.Surat Al-Mi’ûn (اْلِمؤُن = seratusan)

Yaitu surat yang banyak ayatnya sekitar seratus atau lebih.

Surat Al-Matsânî (المثانى)

Yaitu surat yang panjang ayatnya di bawah Al-Mi’ûn (seratusan ayat) di atas. Al-Farra’ berkata: yaitu surat yang jumlah ayatnya kurang sedikit dari 100 ayat. Kata Al-Matsânî artinya ‘terulang-ulang’, karena surat-surat itu terulang-ulang dibaca dalam shalat dari pada surat Al-Mi’ûn dan Ath-Thiwâl.

Surat Al-Mufashshâl(اْلمفَصَّل)

Yaitu surat yang panjang ayat-ayatnya mendekati Al-Matsânîyang disebut juga sebagai surat pendek. Menurut An-Nawawi surat Al-Mufashshâlini adalah dari surat Al-Hujurât (49) sebanyak 18 ayat sampai akhir surat dalam Al-Quran. Al-Mufashshâlberasal dari kata fashala yang artinya memisah atau terpisah. Surah dinamakan Al-Mufashshâlkarena banyak dipisah dengan Basmalah pada setiap awal surat. Karena jumlah ayat-ayatnya tidak terlalu banyak, maka sering dipisah dengan Basmalah tersebut. Kemudian surat Al-Mufashshâlini dibagi lagi menjadi tiga bagian, yaitu:

a)    Ath-Thiwâl(panjang), yaitu Al-Mufashshâltetapi yang panjang dari surat Qâf (50) atau dari surat Al-Hujurât (49) sampai dengan surat An-Naba’ (78) atau surat Al-Burȗj (85).

b)    Al-Awsath (pertengahan), yaitu surat Al-Mufashshâlyang pertengahan dari surat Ath-Thâriq (86) sampai dengan surat Adh-Dhuhâ (93) atau Al-Bayyinah (98).

c)    Al-Qishâr (pendek), yakni Al-Mufashshâlyang pendek dari surat Adh-Dhuhâ (93) atau surat Al-Bayyinah (98) sampai dengan akhir surat dalam Al-Quran yakni An-Nâs (114).

Di samping penggolongan kelompok surat-surat di atas didasarkan pada jumlah banyak dan sedikitnya, juga didasarkan pada panjang dan pendeknya ayat. Karena ada sebagian surat yang jumlah ayatnya tidak banyak tetapi ayat-ayatnya panjang-panjang atau jumlah ayatnya banyak tetapi mayoritas ayatnya pendek-pendek seperti surat Asy-Syu’arâ’ (26): 227 ayat padahal surat ini tidak termasuk ke dalam surat Ath-Thiwâl.[3]

Dilihat dari segi masa atau tempat turunnya Al-Quran terbagi menjadi 2 macam, yaitu surat Makiyah dan surat Madaniyah. Namun, untuk  pembahasan secara lebih mendalam tentang surat Makiyah dan surat Madaniyah ini akan dibahas di tulisan berikutnya, insya Allah.

[1] Majma’ Al-Lughah Al-‘Arabiyah, Al-Mu’jam Al-Wajiz, hlm. 328. Bandingkan dengan Hasbi Ash-Shiddieqi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, hlm. 58

[2] Al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Qur’an, hlm. 139

[3] Abdul Majid Khon, Praktikum Qira’at; Keanehan Bacaan Alquran Qira’at Ashim dari Hafash, Jakarta: Amzah, 2008, h. 7-8

Friday, January 4, 2019

Air hujan obat segala penyakit

Amalkan napa jar sidin pun😊🙏

- Kumpulkan Air Hujan Dengan Wadah Ukuran Sedang Untuk Tampungan Air Hujan.
- Pastikan Air Hujan Jangan Sampai Menyentuh Bekas Dari Atap (Air Hujan Harus Jatuhnya Mengenai Wadah Tersebut).
- Kemudian Ketika Hendak Minum Air Tadi Bacakan Surah : Al-Fatihah,Al-Ikhlas,Al-Falaq,An-Naas. = 1x (Al-Fatihah ampat Dalam Bahasa Banjar).
- Sebelum minum air tadi Bacakan = "Bismillahir Rahmaanir Rahim Nawaitu Syifa Bi Barkatil Musthafa Saw.
- Ketika Air Menuju Tenggorokan Sebutkan Hajat Penyakit Yang Ingin disembuhkan.
.
Semoga Bermanfaat.

~Syaikhona KH.Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari~

#Minta_Rela ulun pun😊🙏

Thursday, January 3, 2019

Dari Habib Munzir Almusawa :

Dari Habib Munzir Almusawa :

Mengenai pertanyaan di alam kubur ini ada riwayat yg mengatakan yg pertama ditanya adalah siapa Tuhan kita, lalu dst dst., itu adalah riwayat yg masyhur.

Namun sebenarnya riwayat yg lebih shahih, sebagaimana berkali kali diulang pada shahih Bukhari, bahwa yang pertama di tanyakan adalah :

"Apa pengetahuanmu tentang Muhammad", demikian dalam riwayat yg berulang ulang pada Shahih Bukhari, dan ia lebih shahih dari riwayat yg masyhur yg kita kenal.
Sebagaimana sabda Rasul saw yang menceritakan hal itu; ketika seorang ditanya
dikuburnya dengan pertanyaan :

"Apa pengetahuanmu pada pria ini (Rasul saw), maka jika ia Mukmin maka ia menjawab :

"Dia Muhammad Rasulullah, diutus pada kami membawa penjelasan dan hidayah, maka kami menerimanya dan mengikutinya. Dia Muhammad, Dia Muhammad, Dia Muhammad."

Maka berkata malaikat : "tidur istirahatlah wahai shalih, kami telah mengetahui bahwa kau orang yg mantap dalam iman."

Namun jika ia munafik maka ia menjawab : "aku tidak tahu". (Shahih Bukhari)

Tentunya semua orang beriman akan bisa
menjawab seperti ini walau tak menghafalnya,
Sebaliknya para pendosa besar tak akan mampu mengucapkan nya walau ia telah menghafalnya di dunia.

Habibana MUNZIR pun menambahkan Bahwa :
Saat seseorang yg sering merindukan Rasul SAW ketika di dunia, barangkali saat ia di temukan dengan Rasul maka Rasul sendiri yang mengatakan bahwa : "dia ummat ku dia umat ku". Sebab Rasul sangat cinta kepada mereka yg mencintai beliau. Terlebih lagi ummat yg cinta itu adalah ummat yg hidup setelah beliau wafat.Tak pernah jumpa dan tak pernah bertemu.

Wahai saudaraku, semoga kelak Allah kumpulkan kita dengan baginda Rasul dan tak pernah terpisahkan. Aamiin Allahumma aamiin :'(

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa'ala aalihi washohbihi wasalim

Wednesday, January 2, 2019

Kosa kata dari Nusantara di dalam al-Qur’an

Bahasa dan budaya itu dinamis. Telah terjadi pertemuan antar bangsa, baik lewat jalur perdagangan ataupun lainnya, yang membuat terjadinya penyerapan bahasa maupun percampuran budaya. Termasuk juga bahasa Arab. Dan karena al-Qur’an turun dalam bahasa Arab, maka penyerapan berbagai istilah dan nama non-Arab pun ikut terserap ke dalam kosa kata al-Qur’an.

Apakah dengan demikian ada bahasa non-Arab di dalam al-Qur’an? Saya kutip penjelasan Tafsir al-Qurthubi:

‎لَا خِلَافَ بَيْنَ الْأَئِمَّةِ أَنَّهُ لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ كَلَامٌ مُرَكَّبٌ عَلَى أَسَالِيبَ غَيْرِ الْعَرَبِ، وَأَنَّ فِيهِ أَسْمَاءٌ أَعْلَامًا لِمَنْ لِسَانُهُ غَيْرُ الْعَرَبِ، كَإِسْرَائِيلَ وَجِبْرِيلَ وَعِمْرَانَ وَنُوحٍ وَلُوطٍ. وَاخْتَلَفُوا هَلْ وَقَعَ فِيهِ أَلْفَاظٌ غَيْرُ أَعْلَامٍ مُفْرَدَةٍ من كلام غير الْعَرَبِ، فَذَهَبَ الْقَاضِي أَبُو بَكْرِ بْنُ الطَّيِّبِ وَالطَّبَرَيُّ وَغَيْرُهُمَا إِلَى أَنَّ ذَلِكَ لَا يُوجَدُ فِيهِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ عَرَبِيٌّ صَرِيحٌ، وَمَا وُجِدَ فِيهِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الَّتِي تُنْسَبُ إِلَى سَائِرِ اللُّغَاتِ إِنَّمَا اتُّفِقَ فِيهَا أَنْ تَوَارَدَتِ اللُّغَاتُ عَلَيْهَا فَتَكَلَّمَتْ بِهَا الْعَرَبُ وَالْفُرْسُ وَالْحَبَشَةُ وَغَيْرُهُمْ، وَذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى وُجُودِهَا فِيهِ، وَأَنَّ تِلْكَ الْأَلْفَاظَ لِقِلَّتِهَا لَا تُخْرِجُ الْقُرْآنُ عَنْ كَوْنِهِ عَرَبِيًّا مُبَيِنًا، وَلَا رَسُولَ اللَّهِ عَنْ كَوْنِهِ متكلما بلسان قومه، فالمشكاة: الكوة وو نشأ: قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، وَمِنْهُ” إِنَّ ناشِئَةَ اللَّيْلِ” و” يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ” أي ضعفين. و” فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ” أَيِ الْأَسَدِ، كُلُّهُ بِلِسَانِ الْحَبَشَةِ. وَالْغَسَّاقُ: الْبَارِدُ الْمُنْتِنُ بِلِسَانِ التُّرْكِ. وَالْقِسْطَاسُ: الْمِيزَانُ، بِلُغَةِ الرُّومِ. وَالسِّجِّيلُ: الْحِجَارَةُ وَالطِّينُ بِلِسَانِ الْفُرْسِ. وَالطُّورُ الْجَبَلُ. وَالْيَمُّ الْبَحْرُ بِالسُّرْيَانِيَّةِ. وَالتَّنُّورُ: وَجْهُ الْأَرْضِ بِالْعَجَمِيَّةِ. 
‎قَالَ ابْنُ عَطِيَّةَ:” فَحَقِيقَةُ الْعِبَارَةِ عَنْ هَذِهِ الْأَلْفَاظِ أَنَّهَا فِي 
‎الْأَصْلِ أَعْجَمِيَّةٌ لَكِنِ اسْتَعْمَلَتْهَا الْعَرَبُ وَعَرَّبَتْهَا فَهِيَ عَرَبِيَّةٌ بِهَذَا الْوَجْهِ.

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan pendapat bahwa al-Qur’an berisikan kata yang disusun dari term dan nama yang berasal dari non Arab. Misalnya: Israil, Jibril, Imran, Nuh dan Lut.

Namun demikian mereka berbeda pandangan apakah ada kata lain yg non-Arab? Imam Qurtubi menyebut nama Qadhi Ibn at-Thayyibat-Thabari dan ulama lainnya yang percaya bahwa al-Qur’an itu murni berbahasa Arab dan tidak ada kata lain yg non Arab dalam al-Qur’an.

Kalaupun ada kata yg tersusun dari bahasa non Arab, menurut mereka, itu hanya kesamaan saja antara bahasa Arab dan non Arab seperti Habasyah, Persia dan lainnya.

Imam Qurtubi juga menyebutkan bahwa ada pula yang berpendapat kalaupun ada kosa kata non Arab jumlahnya hanya sedikit dan tidak menghapus kenyataan bahwa al-Qur’an murni berbahasa Arab.

Imam Qurthubi kemudian menyebutkan beberapa contoh kosa kata tersebut seperti Misykat (QS 24:35), Nasya-a (QS 73:6), Qaswarah (QS 74:51). Ini contoh kosa kata yang berasal dari Habasyah (Ethiopia).

Imam Qurthubi juga menyebut al-Ghassaq (QS 38:57) dari Turki, Qisthas (QS 17:35) dari Romawi. Sijjil (QS 21:104) dari Persia. Dan contoh-contoh lainnya.

Imam Qurthubi kemudian mengutip Ibn ‘Athiyyah yang mengatakan: “hakikatnya adalah kosa kata tersebut asing namun orang Arab telah menggunakannya dan mengarabkannya. Jadi kosa kata itu juga dianggap bahasa Arab.”

Mungkin untuk memahami penjelasan di atas kita bisa lihat sendiri dengan bahasa Indonesia yang seringkali telah bercampur dengan bahasa asing dan kemudian kita gunakan sehari-hari dan menjadi bahasa Indonesia. Misalnya kata rakyat, musyawarah, wakil, tunggal, mutakhir, adil, introspeksi, dan lain sebagainya. Ada yang diserap dari bahasa Arab, Inggris, sanskrit, melayu dan lainnya.

Sekali lagi itu menunjukkan betapa dinamisnya bahasa itu.

Nah, satu hal yang tidak disebut dalam penjelasan kitab Tafsir al-Qurthubi di atas, ternyata ada juga bahasa Nusantara yang diadopsi dalam al-Qur’an.

‎إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur (QS 76: 5).

Sejak abad 4 Masehi (atau lebih awal lagi), kapur barus yang berasal dari daerah Barus di Sumatera telah terkenal di dunia Arab dan Asia. Maka itulah sebabnya al-Qur’an mengdopsi kata “kafur” ini. Al-Qur’an menyebutkan bahwa penduduk surga kelak akan minum dari mata air di surga yang airnya seputih, sewangi, dan sedingin kapur barus, tapi tidak rasa dan bahayanya.

Penjelasan di atas diperoleh dari Tafsir ar-Razi:

‎أَنَّ الْكَافُورَ اسْمُ عَيْنٍ فِي الْجَنَّةِ مَاؤُهَا فِي بَيَاضِ الْكَافُورِ وَرَائِحَتِهِ وَبَرْدِهِ، وَلَكِنْ لَا يَكُونُ فِيهِ طَعْمُهُ وَلَا مَضَرَّتُهُ

Dahulu kafur ini komoditi yang sangat mahal (konon seharga emas) dan dicari oleh banyak pihak. Kafur digunakan sebagai wewangian, bumbu masak, bahkan untuk obat-obatan. Di surga kelak, minuman yang dicampur dengan kafur inilah yang dihidangkan untuk orang-orang beriman. Kafur ini menjadi simbol kemewahan. Interaksi awal perdagangan antara wilayah Nusantara dengan dunia Arab bisa dilacak dari diserapnya kosa kata ini ke dalam tradisi Arab, sehingga turut pula masuk dalam bahasa al-Qur’an.

Saat ini kapur barus di tanah air dikenal dengan camphor atau kamper. Masih dipakai untuk wewangian di dalam lemari pakaian. University of Texas dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa kamper bisa menyembuhkan batuk, gatal-gatal di kulit, dan bisa pula membantu untuk menumbuhkan rambut untuk pria gundul, serta manfaat lainnya. Bahkan ada yg mencampurnya ke dalam teh untuk meraih efeknya. Namun para peneliti mengingatkan bahayanya bila konsumsinya tidak terkontrol.

Sampai di sini kita menyadari bahwa bukan saja relasi antara Nusantara dengan Arab sudah terjadi sebelum masa turunnya wahyu al-Qur’an, tapi juga begitu dinamisnya bahasa (dan juga budaya) itu. Kosa kata Arab diserap dalam bahasa Indonesia, sementara kosa kata dari Nusantara malah diadopsi dan diabadikan dalam al-Qur’an.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
dan Dosen Senior Monash Law School