Thursday, January 24, 2019

FADHILAH ISTRI 'MINTA' DULUAN

*FADHILAH ISTRI 'MINTA' DULUAN*

ﺃﺩﺏ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺑﻦ ﺣﺒﻴﺐ ﺝ ١ ﺹ ٢٩٢ - ٢٩٣ ﺍﻟﻤﻜﺘﺒﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ :

(ﻭﺃﻳﻤﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓٍ ﻓﺮﺷﺖ ﻟﺰﻭﺟﻬﺎ ﺑﻄﻴﺐ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﺪﺭﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺭ، ﻭﺃﻋﻄﺎﻫﺎ ﺛﻮﺍﺏ ﻣﺎﺋﺘﻲ ﺣﺠﺔٍ ﻭﻋﻤﺮﺓٍ، ﻭﻛﺘﺐ ﻟﻬﺎ ﻣﺎﺋﺘﻲ ﺃﻟﻒ ﺣﺴﻨﺔٍ، ﻭﺭﻓﻊ ﻟﻬﺎ ﻣﺎﺋﺘﻲ ﺃﻟﻒ ﺩﺭﺟﺔٍ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ!)

_Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuksuaminya dengan suka-rela, maka: (1) Alloh akan mengharamkan dirinya dari api neraka; (2) memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh; (3) dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan; (4) diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga._

(ﻭﺃﻳﻤﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓٍ ﺩﺧﻠﺖ ﻣﻊ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻓﻲ ﻓﺮﺍﺵٍ ﻭﺍﺣﺪٍ ﻧﺎﺩﺍﻫﺎ ﻣﻠﻚٌ ﻣﻦ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﻌﺮﺵ: ﻟﺘﺴﺘﺄﻧﻔﻲ ﺍﻟﻌﻤﻞ ! ﻓﻘﺪ ﻏﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻚ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻚ ﻭﻣﺎ ﺗﺄﺧﺮ ﻭﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻬﺎ ﺛﻮﺍﺏ ﻣﻦ ﺃﻋﺘﻖ ﻣﺎﺋﺔ ﺭﻗﺒﺔٍ، ﻭﻛﺘﺐ ﻟﻬﺎ ﺑﻜﻞ ﺷﻌﺮﺓٍ ﺣﺴﻨﺔً !) .

_Dan siapa saja seorang istri yang masuk bersama suaminya dalam satu slimut, maka Malaikat dari bawah 'Arsy memanggilnya, "Mulailah duluan olehmu perbuatan itu (merangsang suami): (1) Maka Allah akan mengampuni untukmu dari dosamu yang telah lalu dan yang akan datang; (2) Dan Allah akan mencatat untuknya pahala seorang yang memerdekan seratus budak; (3) Dan mencatat untuknya dari setiap sehelai rambut dengan satu kebaikan._

(ﻭﺃﻳﻤﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓٍ ﻗﺒﻠﺖ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﺑﻄﻴﺐ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﻗﺮﺃﺕ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ‏[ ﺍﺛﻨﺘﻲ ﻋﺸﺮﺓ‏] ﻣﺮﺓً ﻭﻛﺘﺐ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻬﺎ ﺑﻜﻞ ﺁﻳﺔٍ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺣﺴﻨﺔً ﻭﺑﻨﻰ ﻟﻬﺎ ﺑﻜﻞ ﻗﺒﻠﺔٍ ﻣﺪﻳﻨﺔً ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ !)

_Dan siapa saja seorang istri yang mencium suaminya dengan suka rela maka: (1) Dia bagaikan menghatamkan Al-Qur'an (dua belas) kali; (2) Dan dengannya Allah akan mencatat dari setiap ayat dalam Al-Qur’an lima puluh kebaikan; (3) Dan dari setiap ciuman dibangunkan sebuah kota di Surga untuknya._

(ﻭﺃﻳﻤﺎ ﺍﻣﺮﺃﺓٍ ﻗﺒﻠﺖ ﺭﺃﺱ ﺯﻭﺟﻬﺎ ﻭﻣﺸﻄﺖ ﺭﺃﺳﻪ ﻭﻟﺤﻴﺘﻪ ﻛﺘﺒﺎﻟﻠﻪ ﻟﻬﺎ ﺑﻌﺪﺩ ﻛﻞ ﺷﻌﺮﺓٍ ﺣﺴﻨﺔً، ﻭﻏﺮﺱ ﻟﻬﺎ ﺑﻜﻞ ﺷﻌﺮﺓٍ ﻧﺨﻠﺔً ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ) .

_Dan siapa saja seorang istri yang mencium kepala suaminya, menyisir rambut dan jenggotnya, maka: (1) Allah akan mencatat untuknya pahala kebaikan dengan bilangan setiap sehelai rambut; (2) Dan ditanamkan untuknya dari setiap sehelai rambut dengan pohon kurma di Surga._

_Wallahu a'lam._

Kitab Uqudul Lujain syaikh nawawi albantani

Tuesday, January 22, 2019

Gus Baha'

* Gus Baha'

Saya begitu antusias ketika mendengar bahwa Gus Baha' akan mengadakan seminar di Madura tempo hari lalu. Namun saya sempat mengernyitkan dahi ketika Muhammad Ismail Al-Ascholy (En) mengupdate kabar bahwa ia sedang berada di Surabaya untuk menjemput Gus Baha' di terminal Bungurasih.

" Lah emangnya beliau nggak bawa mobil.. ? " tanyaku heran. " masak.. ? Sekelas beliau ? Aku seakan tak percaya.

" Haha.. Iya , beliau emang orang pe-ngebis-an. Kemana-mana lebih suka naik bis " Jawab En.

Gus Baha' ternyata memang seperti itu orangnya. Bahkan di momen penting seperti akad nikahnya pun Gus Baha' lebih memilih naik bis kelas ekonomi dari rumahnya ke rumah mertuanya di Sidogiri. Beliau memang Sesederhana itu..

Malam itu Gus Baha' nggak jadi ngebis ke Surabaya, katanya gak dibolehin Gus Ghofur. beliau akhirnya mengalah dengan menaiki mobil salah satu muhibbinnya di daerah Tuban. Beliau sampai di Bangkalan sebelum tengah malam. Saya  langsung saja menuju makam Syaikhona Kholil ketika mendapat kabar bahwa beliau sudah sampai disana. Awalnya saya berniat untuk mengaturi beliau masuk ke area dalam makam. Tapi melihat kesederhanaan beliau yang kebangetan itu, sepertinya beliau gak bakal kerso. Betul saja, ketika sampai di Masjid Syaikhona Kholil, saya dan En kesulitan mencari dimana Gus Baha'. Setelah nolah-noleh kesana-sini akhirnya beliau ditemukan juga. Memakai peci hitam miring khas-nya, kemeja sederhana dan jaket putih. Beliau tampak 'nyempil' di tengah-tengah peziarah.

Ketika Beliau selesai berziarah, kami lekas saja duduk mengerubungi beliau. Dan disitu rangkaian percakapan menakjubkan itu dimulai. Gus Baha' mungkin berhasil menyembunyikan kealimannya dibalik penampilan sederhananya itu, tapi ketika beliau berbicara beliau selalu gagal menampakkan bahwa beliau adalah orang biasa. Ketika berbicara Gus Baha' benar-benar bagaikan lautan ilmu yang airnya meluber kemana-mana. Setelah mengetahui bahwa saya baru saja pulang dari Tarim, beliau langsung saja membahas tentang Yaman, Saadah Ba'alawi dan sejarahnya, hingga kritik beliau pada Kitab Ihya' dan pengakuannya bahwa ia nyaris menghafal semua isi juz 3-nya.

Yang membuat saya kaget, Gus Baha' ternyata juga membaca atau bahkan menghatamkan kitab Taujihunnabih yang berisi kumpulan kalam Habib Umar itu. Toh padahal kitab itu bisa dibilang sebagai kitab 'khusus' yang hanya diketahui santri-santri Habib Umar. Entah darimana beliau mendapatkan kitab itu.

Di masjid Syaikhona Kholil petang itu, hampir dua jam kami cangkruan ilmu bersama Gus Baha'. terkadang beliau menukil ibarat-ibarat kitab kuning secara lengkap lewat hafalannya. Saya hanya bisa mengimbangi dengan sekali-kali bertanya atau mengemukakan sebuah maklumat. Dan beliau selalu saja bisa menjawab atau 'sudah tau' dengan faedah yang saya munculkan. Sampai pada obrolan ketika beliau membahas tentang hubungan erat Indonesia dan Yaman. Saya berkomentar :

" salah satu bukti nyatanya gus.. Banyak bahasa-bahasa Hadhramaut yang diadopsi dari bahasa Melayu.. Misalnya صارون (sarung), سليموت (selimut).. "

" oh iya ta.. "? Gus Baha' tampak kaget.

" Enjeh.. Sampai-sampai suatu hari ada pelajar baru yang hendak pergi ke pasar Tarim untuk membeli selimut. Sebelum berangkat ia melihat di kamus bahwa bahasa Arab selimut adalah 'lihaf'. Sesampainya di toko ia berkata pada penjual dengan bahasa Arab fashih :

" Uriidu an asytariya lihaafan.. "

" Eisy... ? Lihaf.. ?" si penjual menggeleng tak mengerti.

" aiwah.. Lihaf.. Ghitho' linnaum.. "

Namun si penjual masih saja nggak paham-paham. Setelah melihat kesana-kesini akhirnya pelajar tadi menemukan barang yang ia cari.. Langsung saja ia menunjuk kepada si penjual yang spontan berkata :

" Owalah...Selimut too.."

Si pelajar bengong. Ngapain ribet-ribet buka kamus kalo Selimut bahasa Tarimnya ya Selimut bukan lihaf ghito' atau semacamnya. ??

Gus Baha' tertawa keras, apalagi ketika saya jelaskan bahwa orang-orang Tarim menjamakkan selimut menjadi 'Salamiit'. Beliau lalu berkomentar :

" Kalo ini saya baru tahu.. " ..

Yess.. Saya tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya saya bisa memberikan sebuah faedah yang belum pernah diketahui oleh orang se-alim Gus Baha'.. Haha.

Di malam itu saya banyak belajar dari sosok Gus Baha'. mulai dari tiap tetes ucapnya yang selalu mempunyai bobot keilmuan, kesederhaan dan ketawadhu'annya, hingga akhlak beliau yang apa adanya tanpa harus menjaga wibawa 'kealimannya' dihadapan siapapun. Tentunya saya sudah nggak kaget melihat sosok super alim tapi sangat sederhana seperti beliau. Di Tarim banyak sekali ulama yang se-type dengan Gus Baha'. Beliau mengingatkan saya kepada salah satu guru saya. Syaikh Salim bahraiys namanya. Tanyakan padanya ilmu apa saja. Fiqih, Hadits, Aqidah dll. Beliau akan menjawab dengan mudahnya. Beliau bahkan juga dipasrahkan untuk mengajar 'kubrol Yaqiiniyat' Kitab Syaikh Buthy yang super njlimet itu. Tapi siapa saja yang melihat penampilannya tak akan pernah menyangka bahwa ia adalah seorang Alim yang kualitasnya bahkan diakui oleh Habib Salim Assyathiri. Dengan peci putih tanpa surban, kemeja lusuh dan sarung sederhana, penampilan beliau bahkan tak terlihat 'beda' dari penjual-penjual baju di pasar Tarim.

Orang-orang seperti Gus Baha' dan Syaikh Salim seakan ingin menegaskan bahwa kemuliaan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan penampilan atau pakaian. Sama seperti Sayyidina Umar yang kala itu diminta untuk mengganti bajunya yang dipenuhi oleh belasan tambalan. Beliau menjawab :

" نحن قوم اعزنا الله بالاسلام .. فإذا ابتغينا العزة من غيره اذلنا الله.. "

" kita ini adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kita.. "

* Ismael Amin Kholil, Bangkalan, 22 Januari, 2019.

Alasan Rasulullah Menikahi Aisyah

Muchlishon, NU Online | Senin, 09 April 2018 20:30

Aisyah adalah satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi dalam keadaan masih gadis. Ia merupakan istri ketiga Rasulullah. Sebelumnya, istri Rasulullah yang pertama, Khadijah wafat. Kemudian Rasulullah menikahi Saudah binti Zam’ah, seorang janda berusia 30an tahun, sebelum akhirnya mempersunting Aisyah.

Aisyah merupakan seorang putri dari pasangan Abu Bakar al-Siddiq dan Ummu Ruman. Jika nasabnya ditelurusi hingga ke atas, maka nasab Aisyah bertemu Rasulullah yaitu pada Murrah bin Ka’ab. Dalam struktur masyarakat Quraish, marga Ummahatul Mukminin ini adalah Bani Taim. 

Al-Husaini dalam buku Baitun Nubuwwah, Rumah Tangga Nabi Muhammad saw. menyebutkan bahwa wanita marga Bani Taim terkenal patuh, lemah lembut, dan dapat bergaul dengan baik. Sementara kaum lelakinya dikenal berpikir cerdas, dermawan, jujur, dan pemberani. 

Humaira (pipinya yang merona) merupakan julukan Aisyah. Ia adalah seorang perempuan yang memiliki perangai yang sangat baik, berkulit putih, berparas elok, bermata besar, berambut kriting, dan bertubuh langsing. Dan tentunya memiliki pipi yang merona dan kemerah-merahan.    

Ada banyak versi terkait dengan usia Aisyah ketika dinikahi Rasulullah. Ada yang menyebut bahwa usia Aisyah adalah 6 atau 7 tahun ketika dinikahi dan 10 tahun saat diajak Rasulullah untuk tinggal satu rumah. Pendapat lain –yang didasarkan pada riwayat Abdurrahman bin Abu Abi Zannad dan Ibnu Hajar al-Asqalani- menyebutkan bahwa usia Aisyah ketika berumah tangga adalah 19 atau 20 tahun.

Terlepas dari itu semua, Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih menyatakan bahwa tidak ada kritikan atau cemoohan dari musuh-musuh Rasulullah tentang pernikahan Rasulullah dan Aisyah pada saat itu. Namun anehnya, kritikan dan cemoohan itu –dengan tujuan melecehkan dan mendiskreditkan Rasulullah- datang ratusan tahun setelah kejadian itu. Artinya, seseorang yang sudah sepuh menikah dengan ‘perempuan muda’ adalah sesuatu yang wajar dan lumrah terjadi pada zaman masyarakat waktu itu.

Rasulullah menikahi Aisyah tepat pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian di Makkah atau sekitar tiga tahun setelah sang istri pertama, Khadijah binti Khuwailid, wafat. Mahar yang diberikan Rasulullah untuk Aisyah sebesar 12 uqiyyah atau 400 dirham.

Lalu, apa yang membuat Rasulullah mempersunting Aisyah? Padahal Rasulullah juga sudah menikahi Saudah binti Zam’ah. Di sisi lain, sahabat Muth’im bin Adiy juga pernah menanyakan kepada Abu Bakar akan mengawinkan Aisyah untuk anaknya, Jubair, sebelum utusan Rasulullah menanyakan hal yang sama.

Dalam sebuah riwayat, Aisyah pernah mengungkapkan bahwa alasan Rasulullah menikahinya adalah 'karena mimpi.' Suatu ketika, Rasulullah bermimpi didatangi malaikat membawa Aisyah dengan dibalut kain sutera. Malaikat tersebut mengatakan kepada Rasulullah bahwa perempuan yang dibalut kain sutera tersebut adalah istrinya. Mimpi Rasulullah ini berulang hingga tiga kali. 

“Jika mimpi ini dari Allah, tentu Dia akan mengabulkannya,” kata Rasulullah merespons ucapan malaikat itu. Dan benar saja, akhirnya Allah mengabulkannya. 

Sebelumnya, Abu Bakar keberatan ketika Khaulah, utusan Rasulullah, datang untuk melamar Aisyah karena Muth’im sudah datang terlebih dahulu. Namun, setelah mengetahui keburukan keluarga Muth’im, Abu Bakar tidak lagi menghendaki anak lelaki Muth’im untuk menikahi Aisyah. Walhasil, Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah untuk menikahi anaknya. (A Muchlishon Rochmat

Monday, January 21, 2019

MUBALIGH BESAR

MUBALIGH BESAR

Sebagaimana pondok atau lembaga pendidikan yang lain, penutupan akhir tahun atau biasa disebut akhirus sanah adalah momen penutupan kegiatan yang tidak hanya diisi dengan mewisuda santri atau siswa, namun juga sebagai ajang unjuk gigi kepada masyarakat sekitar atas perkembangan pondok.

Salah satu unsur yang ingin di’tunjuk’kan dalam acara akhirus sanah biasanya adalah mubaligh, atau pengisi acara utama. Semakin kondang sang pengisi, maka gengsi akan semakin tinggi. Dikwagean pun sama, sejak meningkatnya perekonomian pondok, dan juga semakin berkembangnya pondok, pengurus mulai berani menaikkan kualitas mubaligh. Kualitas disini dari kadar ketenaran, bukan kadar kualitas keilmuan.

Karena seringkali, kualitas ketenaran tak berbanding lurus dengan kualitas keilmuan.

Sebelum saya pulang, pengurus telah beberapa kali mencoba mengundang mubaligh besar kelas wahid, namun tak pernah berhasil. Sudah sowan, dan dikasih jadwal sama sang mubaligh, eh ketika harinya malah digantikan oleh santrinya atau orang lain.

Saya yang hanya mendengar cerita dari panitia pun ikut kecewa, entah memang karena ada udzur atau bertepatan dengan acara yang lebih besar, yang jelas saya merasa kwagean belum di’anggap’ oleh para mubaligh besar itu.

Dan kekecewaan saya bertambah ketika saya menemukan cerita yang hampir sama dipondok teman saya, dimalang. Mengundang mubaligh besar yang sama, telah sowan, dan sang mubaligh yang menentukan tanggalnya. Namun menjelang hari H, malah mengabarkan kalau tidak bisa hadir.

Saking mangkelnya, teman saya nyeletuk:”kulo i radi jengkel, wes tanggal acara manut mriko, geh sudah di dp lumayan katah. Kok malah iseh mboten rawuh. Nopo kurang to jane bayarane?(saya agak jengkel, tanggal acara sudah ngikut beliau, sang mubaligh. Dp juga sudah masuk lumayan besar. Kok ya malah tidak hadir. Apa memang kurang bayarannya?)”.  Hahaha

Saya pun hanya tertawa mendengarnya. Antara geli dan ikut merasa kecewa.

Saya tak mau su’udzon, semoga saja memang karena ada udzur yang benar-benar membuat sang mubaligh tidak bisa rawuh. Namun yang membuat hati kecil jengkel, seringkali diacara besar(jumlah massa dan liputannya), atau acara ditempat pondok besar, beliaunya hampir dipastikan sering rawuh.

Wallahua’lam.

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada bapak, beliau hanya berpesan:”yo gak usah mikir aneh-aneh. Gae pembelajaran wae. Lek diundang sopo ae, kapan ae wes nyanggupi, diusahakne kudu rawuh. Gak perduli wong cilik opo wong gede(gak usah mikir aneh-aneh. Dijadikan pembelajaran saja. Kalau diundang siapa saja, kapan sudah menyanggupi hadir, harus diusahakan untuk hadir. Tidak perduli yang mengundang orang besar atau orang kecil)”.

Dan memang itu yang selalu dicontohkan bapak kekami, setiap hari. Bapak punya satu kalender khusus(bapak tak punya asisten khusus bagian penjadwalan). Bapak yang melingkari sendiri kalender tersebut setiap ada undangan masuk, biasanya bahkan sebelum sang tamu pulang dari rumah bapak. Bila belum ada lingkaran, dan bapak masih memungkinkan hadir, maka bapak akan menyanggupi. Namun bila sudah ada lingkaran, bapak akan menanyakan waktunya. Bila memang tidak bertabrakan dengan jadwal awal, dan memungkinkan jarak dan waktunya, bapak akan berusaha hadir.

Dulu, almarhumah ibuk saya selalu berpesan:”sok awakmu kudu niru bapakmu, lek diundang sopo wae wong kwagean opo sopo kudu teko. Meskipun seng ngundang wong ra nduwe. Ojo nekani undangan wong seng ketoke sugeh tok(nanti, kamu harus niru bapakmu, kalau diundang oleh orang kwagean atau siapa saja harus hadir-bila mampu-. Meskipun yang mengundang orang tak punya. Jangan hanya menghadiri undangan orang kaya saja)”.

Mubalig sendiri dalam kbbi berarti juru dakwah. Saya tambahi h karena saya merasa gh lebih patut menjadi ghoin dalam bahasa arab. Sedangkan besar, dalam konteks mubaligh ini saya maksudkan pada para kiai atau penceramah yang sudah kondang ditingkat nasional.

Disetiap bapak mendapat undangan, dan diaturi menjadi mubaligh, bapak pasti akan matur bila ada yang lain, lainnya saja. Bapak selalu merasa tak ahli dalam hal ceramah.

“Dadi mubaligh ki abot. Kudu ngomong opo anane. Gak oleh nambah-nambah i cerito. Gak oleh ngarang-ngarang cerito. Opo maneh goroh. Kadang akeh seng ngunu kui, gur ben seneng jamaah e. Aku ra sanggup lek ngunu kuwi(menjadi mubaligh itu berat. Harus berbicara apa adanya. Tidak boleh menambah-nambahi cerita. Tidak boleh mengarang-ngarang cerita. Apalagi berbohong hanya agar jamaahnya senang. Saya tak sanggup kalau harus seperti itu)”. Kata bapak seringkali pada kami.

Dan biasanya, bila memang yang mengundang memaksa bapak tetap mengisi acara, bapak seringkali mengisinya dengan ngaji.

Iya ngaji, bapak akan menulis cuplikan kitab(biasanya ihya’), lalu dimaknai gandul(utawi iki iku) dan selanjutnya diterangkan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari beserta pengalaman hidup bapak.

Persis ngaji ihya’ setiap hari dikwagean, hanya saja porsinya ditambahi dibagian cerita-cerita.

Dan pada akhirnya, saya selalu belajar untuk memosisikan diri. Saat mengundang, kita harus tahu diri, dan jangan berharap lebih. Selalu berharap yang terbaik, namun mempersiapkan diri pada yang terburuk.

Dan bila diundang, jangan pilih-pilih. Dahulukan yang lebih awal mengundang.

Semoga mampu selalu adil, bahkan sejak dalam fikiran(ini dawuh tokoh).

#salamKWAGEAN