Tuesday, May 14, 2019

Setelah Akad Nikah, Suami Dianjurkan Baca Doa Ini

BincangSyariah.Com – Akad nikah merupakan jalan untuk menghalalkan ikatan hubungan antara lelaki dan wanita. Setelah akad nikah, biasanya kedua mempelai masih mempunyai sikap malu-malu satu sama lain. Untuk mencairkan keadaan tersebut, karena itu suami harus pintar mencari solusi. Syekh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin di antaranya memberikan solusi berikut.

ويسن للزوج الأخذ بناصيتها أوّل لقائها، وأن يقول بارك الله لكل منا في صاحبه

Disunahkan bagi seorang suami untuk menggapai dan dan mengecup ubun-ubun istri saat pertama kali bertemu sambil berdoa bārakallah li kullin minna fi shahibihi (Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kami satu sama lain untuk pasangan kami).

Friday, May 3, 2019

AGAR PUASA MENGHASILKAN CAHAYA

AGAR PUASA MENGHASILKAN CAHAYA
_______________________________________
Berkata sebagian arifin,
الصوم بقدر ما يكون تجويعا للبطن فانه يكون غذاء للروح
Besarnya makanan bagi ruh sesuai kadar kosongnya perut seseorang. Semakin lapar perut seseorang ketika berpuasa semakin besar cahaya yang masuk ke dalam ruhnya.

Al-Imam Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata
ﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺪﺍﺩ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ: ﻭﻣﻦ ﺁﺩﺍﺏ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﺎﻟﻨﻬﺎﺭ ، ﻭﻻ ﻳﻜﺜﺮ ﺍﻷﻛﻞ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻟﻴﻘﺘﺼﺪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻳﺠﺪ ﻣﺲ ﺍﻟﺠﻮﻉ ﻭﺍﻟﻌﻄﺶ ؛ ﻓﺘﺘﻬﺬﺏ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﺗﻀﻌﻒ ﺷﻬﻮﺗﻪ ، ﻭﻳﺴﺘﻨﻴﺮ ﻗﻠﺒﻪ ...ﻭﺫﻟﻚ ﺳﺮ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻭﻣﻘﺼﻮﺩﻩ (ﺍﻟﻨﺼﺎﺋﺢ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﺹ 138)

"Diantara adab-adabnya orang yang berpuasa, hendaknya ia tidak memperbanyak tidur di siang hari dan tidak memperbanyak makan di malam hari. Hendaknya ia bersikap wajar saja akan hal tersebut, sehingga ia tetap merasakan rasa lapar dan dahaga (di siang harinya karena tidak banyak tidur, dan di malam harinya mampu berjaga karena tidak terlalu kenyang). Dengan demikian jiwanya akan bersih, nafsu syahwatnya akan melemah dan hatinya akan bercahaya. Inilah rahasia dan tujuan dari ibadah puasa"

Berkata Jalaluddin Rumi,
"Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api nya akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan di dalam hasratmu".

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tiga tingkatan dalam berpuasa.
Tingkatan pertama, adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat.
Tingkatan kedua, selain menahan makan dan minum serta syahwat juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa.
Tingkatan ketiga, menjaga pandangan hati agar senantiasa memandang Allah dan tidak terbersit kepada selainNya.

Bulan puasa adalah bulan riyadhoh.Kata Abah Guru Sekumpul,
"Arti riyadhoh itu tarkul manam (meninggalkan tidur),
tarkul anam (meninggalkan manusia, uzlah),
tarkul tho'am ( meninggalkan makanan, lapar),
tarkul kalam (meninggalkan berbicara, banyak diam)."

Berkata Syekh Abil Hasan As Syadzili,
"Jika engkau ingin diberikan khusyu' maka janganlah memandang hal-hal yang diharamkan Allah.
Jika engkau ingin dianugerahi hikmah maka janganlah berlebihan dalam berbicara (perbanyaklah diam).
Jika engkau ingin merasakan lezatnya iman maka janganlah berlebihan dalam makanan."

Mudah-mudahan berkat Rasulullah,Auliya Allah,Guru-guru kita dan orang-orang sholeh Allah ampuni dosa-dosa kita, dipanjangkan umur sehingga dapat bertemu dengan bulan ramadhan.
ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ
ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﷺ

Saturday, April 27, 2019

SANG WALI MASTUR YANG KH. HASYIM ASY'ARI INGIN MENDENGAR SUARANYA Oleh: Gus Ainur Rofiq Al -Amin

SANG WALI MASTUR YANG KH. HASYIM ASY'ARI INGIN MENDENGAR SUARANYA
Oleh: Gus Ainur Rofiq Al -Amin

Mbah Karim (70 an tahun) Tulungagung didawuhi Kiai Mustaqim (abahnya Kiai Abdul Djalil, pondok Peta Tulungagung) bahwa Mbah Irom itu wali.  Di lain waktu,  Mbah Karim datang ke Mbah Irom, lalu Mbah Irom bilang bahwa Kiai Mustaqim adalah orang sholeh. Siapa Mbah Irom?

Mbah Irom (Mukarrom)  lahir di Tulungagung sekitar tahun 1901 dan wafat tahun 1976. Beliau santri sepuh (lama mondoknya) di Mojosari Nganjuk. Saat mau mondok ke Mojosari, beliau dipesani oleh ibunya agar jangan menjadi tukang ngliwet  dan harus ngirit karena abahnya sudah meninggal. Selanjutnya Mbah Irom berangkat mondok dengan berjalan kaki dari Tulungagung ke Mojosari. Sampai di sungai untuk menyeberang,  uang sedikit untuk sangunya jatuh di dasar sungai, dan hilang.

Setiba di Mojosari dengan tanpa bekal,  karena uangnya hilang,  Mbah Irom akhirnya riyadloh yang dalam keseharaiannya selama tiga bulan pertama hanya makan kacang dari hasil ngasak atau mengais sisa panen di sawah dari para petani yang baru memetik kacangnya. Tiga bulan kedua ngasak kedele di sawah, dan itu yang dimakan. Tiga bulan ketiga makan ares (hatinya batang pisang). Kalau ares pisang tentu di desa banyak. Tiga bulan keempat hanya meminum air putih.

Setelah itu,  badan Mbah Irom lemah sekali karena hanya air putih yang masuk ke tubuhnya. Saat membuka kitab, tanpa disengaja terdapat uang yang pas untuk membeli satu porsi makanan. Demikian tiap hari kalau lapar, dan membuka kitab,  akan mendapatkan uang yang hanya pas untuk membeli nasi satu porsi (teringat cerita guru saya yang mirip. Yakni beras di kuali kecil dan gula di toples kecil tidak habis dan uang di lemari tiap awal bulan ada,  tapi  hanya pas  kebutuhan minim rumah tangga, tidak lebih sedikitpun).

Kata Mbah Karim,  setelah itu Mbah Irom mbruwah (memanen atas hasil tirakatnya). Di antara mbruwahnya muncul "keanehan",  Mbah Irom sering diajak makan orang-orang, sehari bisa lebih tiga kali dan mampu saja menghabiskan makanan,  tapi beliau juga mampu tidak makan tujuh hari.

Mbah Irom pesan kepada Mbah Karim,  "Kalau punya 'ilmu', harus kamu pendam di bumi sap (tingkat) tujuh yang bawah sendiri. Kalau di langit,  letakkan di langit sap (tingkat)  tujuh, yang atas sendiri."

Model khumul yang demikian ketat dan rapat tentu banyak orang akan terkecoh dengan tampilan luarnya yang bisa jadi kayak orang gembel, bodoh, cuek, apalagi tampilan dan gayanya tidak kayak di tivi yang penuh "ornamen" sehingga dapat "memukau-menipu" pemirsa.

Maka bisa dipahami saat Mbah Irom tidak berkenan membaca ayat di hadapan khalayak ramai saat ada tamu Mbah Kiai Hasyim Asy'ari yang menyebut sebagai santri kung. Dalam dunia perkutut, ada katuranggan dari perkutut yang memiliki suara bagus (kung). Perkutut yang kung menurut mereka terkadang tidak hanya menunjukkan bagusnya suara,  tapi ada dimensi supra yang mereka percaya. Dalam konteks santri kung, tentu bukan hanya suara saja, tapi berdimensi lebih dari itu. Artinya Mbah Irom santri unggulan yang mempunyai daya linuwih spiritual,  sehingga Kiai Hasyim yang waskita ingin menjumpai dan mendengarnya.

Wajar juga saat para santri Mojosari ingin mengaji kepada Mbah Irom,  selalu ditolak. Tapi pernah suatu kali ada santri yang ngringik (maksa halus secara terus menerus), maka terpaksa Mbah Irom membacakan kitab sekali duduk dikhatamkan. Tentu santri tidak kuat, akhirnya setelah itu tidak ada yang berani lagi minta mengaji.

Kiai Ghufron pernah bercerita, saat Kiai Zainuddin menjelang wafat,  beliau jatuh sakit.  Untuk itu, Kiai Zainuddin menugaskan kepada Mbah Irom menjadi imam sholat,  temasuk imam sholat Jum'at.

Sekitar seminggu sebelum wafat pas hari Jumat, Mbah Irom menjadi imam dengan membaca surat pendek.  Sekalipun Kiai Zainuddin sakit,  beliau ikut sholat Jum'at. Selesai sholat Jum'at, Kiai Zainuddin berteriak,  "Siapa tadi pak tua ngimami kok lama sekali. Dia harus didenda seratus rupiah."

Tidak berhenti sampai di situ,  beliau memanggil lurah santri supaya memanggil Mbah Irom.  Sesampai Mbah Irom di hadapan Kiai Zainuddin,  Kiai Zainuddin mengulangi ucapan di atas. Lalu Mbah Irom menjawab, "Saya tidak punya uang,  dendanya diganti membaca qulhu saja."

Kiai Ghufron memungkasi, ternyata betul,  sekitar satu mingguan,  Kiai Zainuddin wafat dan dibacakan qulhu (fida'an)  oleh Mbah Irom.

Anda yang belum paham karakter kiai dan santri pondok Mojosari tempo dulu akan masygul dengan cerita-cerita nyleneh seperti. Kiai Abdul Mun'im DZ, sejarawan NU bercerita bahwa di antara sekian banyak pesantren, maka pesantren Mojosari ini, terutama KH Zainuddin, yang paling mempengaruhi dalam pembetukan kepribadian KH. Wahab Chasbullah. Pikiran, bicara sikap dan tindakan Kiai Wahab, sudah melampaui logika, beyond gramatika (nahwu shorof), beyond fikih. Kelihatan "anarkis" tapi sangat kreatif. Ini persis sikap Kiai Zainuddin dan Kiai alumni Mojosari lainnya.
Walupun mereka "anarkis" dan jadzab, tetapi sangat disiplin.

Mbah Irom jelang wafat,  saat naza' yang menunggu dan membacakan Yasin adalah Gus Tom Mojosari dan Mbah Karim.

Lahum al-Fatihah
****
Saya menunggu masukan dan koreksi dari semua pembaca
****

Sumber kisah:
1. Mbah Karim pada 26 April 2019 di Pondok Peta. Mbah Karim dapat cerita dari abahnya sendiri dan juga dari Mbah Irom.  Mbah Karim masih famili dengan Mbah Irom (cucu ponakan).

2. Kiai Ghufron pada 10 Pebruari 2019
****

Foto Mbah Karim di makam Mbah Irom desa Plandaan Tulungagung.  Ciri khas makamnya, kijingnya miring ke barat.

Saturday, April 20, 2019

Kisah Sunan Drajat menguji orang sakti di Lamongan dan menjadi teman

Kisah Wali

Kisah Sunan Drajat menguji orang sakti di Lamongan dan menjadi teman

GAGAK RIMANG - Terdapatlah seorang sakti yang di Tanah Jawa bernama Raden Noer Rahmad. Sunan Drajat penasaran dengan kesaktian Raden Noer Rahmad yang sudah populer di kalangan masyarakat. Dia berniat mengujinya. Pergilah ia dengan para pengawalnya ke Kampung Patunon.

Ketika sudah bertemu dengan Raden Noer Rahmad, Sunan Drajat meminta izin untuk menikmati air nira dan buah siwalan. Dia ingin mengambilnya sendiri. Dengan senang hati Raden Noer Rahmad mempersilakan.

"Itu pohonnya diketuk tiga kali, langsung buahnya jatuh sendiri. Seluruh buah di pohon itu yang jatuh enggak tersisa," ungkap juru kunci Makam Sunan Drajat, Yahya di komplek Makam Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Senin (1/6).

Setelah buahnya berjatuhan, Raden Noer Rahmad bukannya heran akan tetapi dia malah geram. Raden tersebut berkata pada Sunan bahwa jika cara mengambilnya semacam itu, maka anak cucu kita kelak tak akan bisa menikmati buah siwalan dan air legen. Pasalnya Sunan telah menjatuhkan seluruh buah dari tiap pohon siwalan.

Setelah itu Raden Noer Rahmad menghampiri salah satu pohon siwalan. Dia mengelus pohon itu sebanyak tiga kali. Seketika pohon siwalan tersebut merunduk di hadapannya. Kemudian Sunan Drajat diminta untuk mengambil air legen dan buah siwalan sebanyak yang dibutuhkan saja. Setelah buah dipetik, pohon itu kembali tegak seperti sediakala.

Akhirnya Sunan Drajat menyaksikan sendiri kesaktian yang dimiliki Raden Noer Rahmad. Atas ujian yang mampu dilewati oleh Raden Noer Rahmad tersebut, Sunan Drajat memberinya gelar sebagai Sunan Sendang Duwur.

Kejadian ini membuat keduanya kompak, dalam banyak hal akhirnya Sunan Sendang Duwur membantunya. Dulu Desa Patunon lebih sering disebut Sendang Duwur oleh masyarakat. Kini desa tersebut menjelma menjadi sebuah pemukiman yang semakin padat penduduk sehingga membutuhkan ulama lain yang dapat membantu Sunan Drajat.

Tanggung jawab untuk menyebarkan agama Islam di Lamongan kemudian tidak hanya dipegang Sunan Drajat semata, tetapi juga Sunan Sendang Duwur