Tuesday, December 10, 2019

Kisah permusuhan Gus Dur Dengan Ya'i As'ad

Kisah permusuhan Gus Dur Dengan Ya'i As'ad

“Ibarat imam shalat, Gus Dur sudah batal kentut. Karena itu tak perlu lagi bermakmum kepadanya.” Beginilah salah satu ungkapan sikap KHR As’ad Syamsul Arifin, sebagaimana dikutip media nasional beberapa hari pasca Muktamar NU ke-28 di Krapyak, 26 tahun lalu.

Konon, KHR As’ad kecewa besar pada lima tahun kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU. Gus Dur dianggap kebablasan. Pemikiran dan tindak-tanduk liberalnya diniliai sudah keluar dari rel Aswaja. Dari berita yang dimuat di koran, pemikiran dan tindak-tanduk liberal yang dialamatkan pada Gus Dur antara lain terkait keikutsertaannya sebagai juri Festival Film Indonesia. KHR As’ad bahkan menyebut Gus Dur kiai ketoprak lantaran aksinya ini. Lalu terkait wacana Gus Dur mengubah salam “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”, dan beberapa kontroversi lain yang mengiringi perjalanan kepemimpinan Gus Dur.

Puncak ketidakcocokan Ketua Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar NU ke-27 ini terjadi pada hari terakhir Muktamar Krapyak, Rabu siang, 29 Nopember 1989. Di hadapan media di arena Muktamar yang telah aklamasi memilih kembali Gus Dur sebagai Ketua Umum Tanfidziyah, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini, lantang menyatakan diri mufaraqah (memisahkan diri). Ketidakcocokan KHR As’ad dengan Gus Dur sebenarnya sudah lama. Keputusan mufaraqah bisa dibilang lebih merupakan kulminasi dari perselisihan panjang antarkeduanya.

Perselisihan awal setidaknya sudah dimulai ketika pleno pertama PBNU hasil Muktamar Situbondo, di Pesantren Tebuireng, Jombang pada Januari 1985. Keputusan pleno menyatakan bahwa yang berhak mewakili NU keluar adalah Rais ‘Aam KH Ahmad Shiddiq, dan Ketua Umum Tanfidziyah KH Abdurrahman Wahid. Keputusan ini dinilai membatasi gerak dan langkah ulama sepuh lain, terutama KHR As'ad yang sebelumnya dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan menteri-menterinya.

Beberapa kontroversi Gus Dur lainnya sepanjang 1984-1989 semisal; keterlibatan Gus Dur menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), kesediaan membuka Malam Puisi Yesus Kristus, dan kecenderungan membela Syi'ah, juga turut menjadi pemicu kerenggangan komunikasi antara KHR As’ad beserta kiai-kiai sepuh lain dengan Gus Dur. Hal ini berujung peristiwa ‘gugatan’ pada Gus Dur di Pesantren Darut-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, pada Maret 1989.

Sebuah fakta politik menarik, menyusul mufaraqah KHR As’ad, Gus Dur justru makin gencar melawan Orde Baru. Gus Dur makin aktif mendukung para aktivis melawan pemerintah. Menjelang pemilu 1992, di tengah kuatnya kekuasaan Soeharto, Gus Dur bahkan berani terang-terangan menolak penguasa negeri 32 tahun itu untuk dipilih kembali. Gus Dur terus menyerang Pak Harto hingga lengser ke prabon pada 1998. Banyak literatur menyebut, KHR As’ad Syamsul Arifin adalah sosok wali quthub.

Kesaksian KH Mujib Ridwan misalnya, menyebut jika KHR As’ad pernah menangis tersedu-sedu lantaran ‘kedoknya’ terbuka, usai dibacakan sebuah surat Al-Qur’an. KH Mujib Ridwan adalah putra KH Ridwan Abdullah, pencipta lambang NU, yang lebih 20 tahun mengabdi pada KH As’ad Syamsul Arifin.

Di luar kharisma keulamaannya, KHR As’ad adalah seorang guru dan pengamal 17 jenis tarekat. Meskipun demikian beliau tidak pernah memaklumkan diri sebagai seorang mursyid tarekat di depan umum. KHR As’ad juga mendalami ilmu kanuragan yang membuat banyak bajingan bertekuk lutut kepadanya.  Konon, kewalian KHR As’ad inilah yang melatarbelakangi beberapa tindakannya sehingga tidak mudah dimengerti khalayak awam.

Satu di antaranya menyangkut kerenggangan KHR As’ad dan Gus Dur. Kala itu tentu saja tak sedikit Nahdliyin di akar rumput yang kebingungan. Meski tak sampai menciptakan kubu-kubu yang saling berseberangan, konflik panjang dua tokoh beda generasi ini memunculkan pertanyaan di banyak pihak. Tak terkecuali rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya. Suatu hari, pada 15 April 1987, mereka serombongan sowan ke ndalem KHR As’ad di kompleks Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak. Dengan menjadi juri FFI di Bali, Gus Dur dinilai sudah tidak sesuai dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari, dan penjelasan lain-lain seterusnya sebagaimana yang sudah beredar di media massa. Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember ke ndalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur. Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.”

Demikianlah yang pada intinya, Nahdliyin yang belum masuk levelnya, tidak pantas menilai sikap mufaraqah KHR As’ad dengan Gus Dur. Keduanya memiliki maqom (tingkatan spiritual) yang tinggi di atas kebanyakan. Menyikapi friksi di tingkatan elit NU yang kian membingungkan ini, suatu ketika beberapa anggota Dewan Khas IPSNU Pagar Nusa dipimpin H. Suharbillah memutuskan sowan ke KH Khotib Umar, Pengasuh Pesantren Raudhatul Ulum Sumberwiringin, Sukowono, Jember. IPSNU Pagar Nusa kebetulan saat itu baru saja dideklarasikan.

KH Khotib Umar adalah salah seorang ulama pejuang yang wara’ yang sangat disegani di kalangan Nahdliyin. Kepada para pendekar Pencak Silat NU ini, KH Khotib Umar bertutur bahwa suatu waktu beliau menghadap pada KHR As’ad Syamsul Arifin bermaksud meminta penjelasan mengenai masalah dengan Gus Dur. Dan KHR As’ad dawuh bahwa memusuhi Gus Dur merupakan strategi menghadapi rezim Orde Baru. Supaya Gus Dur tidak dihabisi maka beliau memusuhi Gus Dur.

Untuk menyelamatkan beliau. “Saya dengan Gus Dur hanya berbeda dalam siyasi, politik! Mufaraqah bukan berarti benci Gus Dur. Malah saya sangat mengasihi Gus Dur. Saya khawatir kalau Gus Dur di penjara oleh penguasa—karena sikap kritisnya­—lalu siapa yang akan membela? Demikian dawuh sang wali quthub. (Didik Suyuthi)
  * Sebagian data diperoleh dari catatan pribadi DR KH Suharbillah

Tuesday, October 15, 2019

TIRAKATNYA SEORANG SUAMI KETIKA ISTRI MENGANDUNG

TIRAKATNYA SEORANG SUAMI KETIKA ISTRI MENGANDUNG

Dari Kh sholeh bandar kidul beliau Dari KH Mahrus Ali lirboyo kediri

1.Seorang suami Seyogyanya didahului dengan berpuasa hari kamis, dan berbuka hanya dg air putih (tidak boleh makan apapun) sempai tengah malam. Kemudian dilanjutkan sholat hajat.

Kaifiyah sholat hajat
Rokaat 1 setelah fatehah membaca

(رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ)
[Surat Al-Baqarah 128]

Rokaat ke 2 setelah fateh membaca

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ.رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
[Surat Ibrahim 40, 41]

Rokaat ke 3 setelah fatehah membaca

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)
[Surat Al-Furqan 74]

Rokaat ke 4 setelah fatehah membaca
( رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضاَه وأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)
[Surat Al-Ahqaf 15]

Setelah salam membaca

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)
[Surat Al-Furqan 74]

2. Membaca sholawat 313 x, kemudian ditiupkan pada pusarnya istri yang hamil, dan di usap (di elus elus) sambil membaca

ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
3 x dalam satu nafas

3. Hadiah fatehah kepada ayah, ibu dan seterusnya

Friday, October 4, 2019

Para mujahid yang berjuang dalam Perang Badar

Para mujahid yang berjuang dalam Perang Badar:

1. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
2. Abu Bakar as-Shiddiq Radliyallahu 'Anhu.
3. Umar bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.
4. Utsman bin Affan Radliyallahu 'Anhu.
5. Ali bin Abu Tholib Karramallahu Wajhah.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah Radliyallahu 'Anhu.
7. Bilal bin Rabbah Radliyallahu 'Anhu.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
9. Abdullah bin Jahsyi Radliyallahu 'Anhu.
10. Al-Zubair bin al-Awwam Radliyallahu 'Anhu.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim Radliyallahu 'Anhu.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf Radliyallahu 'Anhu.
13. Abdullah bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.
15. Abu Kabsyah al-Faris Radliyallahu 'Anhu.
16. Anasah al-Habsyi Radliyallahu 'Anhu.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi Radliyallahu 'Anhu.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.
19. Abu Marthad al-Ghanawi Radliyallahu 'Anhu.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib Radliyallahu 'Anhu.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) Radliyallahu 'Anhu.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) Radliyallahu 'Anhu.
27. Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
29. Sinan bin Abi Sinan Radliyallahu 'Anhu.
30. Abu Sinan bin Muhsin Radliyallahu 'Anhu.
31. Syuja’ bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
32. ‘Utbah bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
33. Yazid bin Ruqais Radliyallahu 'Anhu.
34. Muhriz bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.
35. Rabi’ah bin Aksam Radliyallahu 'Anhu.
36. Thaqfu bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
37. Malik bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
38. Mudlij bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i Radliyallahu 'Anhu.
40. ‘Utbah bin Ghazwan Radliyallahu 'Anhu.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) Radliyallahu 'Anhu.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi Radliyallahu 'Anhu.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) Radliyallahu 'Anhu.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah Radliyallahu 'Anhu.
45. Umair bin Abi Waqqas Radliyallahu 'Anhu.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru Radliyallahu 'Anhu.
47. Mas’ud bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.
50. Amir bin Fuhairah Radliyallahu 'Anhu.
51. Suhaib bin Sinan Radliyallahu 'Anhu.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad Radliyallahu 'Anhu.
53. Syammas bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam Radliyallahu 'Anhu.
55. Ammar bin Yasir Radliyallahu 'Anhu.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i Radliyallahu 'Anhu.
57. Zaid bin al-Khattab Radliyallahu 'Anhu.
58. Amru bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.
59. Abdullah bin Suraqah Radliyallahu 'Anhu.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) Radliyallahu 'Anhu.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi Radliyallahu 'Anhu.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli Radliyallahu 'Anhu.
65. Amir bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
66. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
67. Aqil bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
68. Khalid bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
69. Iyas bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
70. Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
71. Qudamah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
72. Abdullah bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un Radliyallahu 'Anhu.
74. Ma’mar bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
75. Khunais bin Huzafah Radliyallahu 'Anhu.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm Radliyallahu 'Anhu.
77. Abdullah bin Makhramah Radliyallahu 'Anhu.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah Radliyallahu 'Anhu.
80. Hatib bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
81. Umair bin Auf Radliyallahu 'Anhu.
82. Sa’ad bin Khaulah Radliyallahu 'Anhu.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah Radliyallahu 'Anhu.
84. Amru bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
86. Safwan bin Wahab Radliyallahu 'Anhu.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
88. Sa’ad bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.
89. Amru bin Muaz Radliyallahu 'Anhu.
90. Al-Harith bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
91. Al-Harith bin Anas Radliyallahu 'Anhu.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi Radliyallahu 'Anhu.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz Radliyallahu 'Anhu.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi Radliyallahu 'Anhu.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy Radliyallahu 'Anhu.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan Radliyallahu 'Anhu.
102. Abdullah bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
104. Ubaid bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd Radliyallahu 'Anhu.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
108. Mas’ud bin Sa’ad Radliyallahu 'Anhu.
109. Abu Absi Jabr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah Radliyallahu 'Anhu.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail Radliyallahu 'Anhu.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar Radliyallahu 'Anhu.
115. Sahl bin Hunaif bin Wahib Radliyallahu 'Anhu.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir Radliyallahu 'Anhu.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy Radliyallahu 'Anhu.
121. Rafi’ bin Anjadah Radliyallahu 'Anhu.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid Radliyallahu 'Anhu.
123. Tha’labah bin Hatib Radliyallahu 'Anhu.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
130. Jubr bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.
131. Malik bin Numailah al-Muzani Radliyallahu 'Anhu.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
133. Abdullah bin Jubair Radliyallahu 'Anhu.
134. Asim bin Qais bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
137. Salim bin Amir bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah Radliyallahu 'Anhu.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah Radliyallahu 'Anhu.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
142. Sa’ad bin Khaithamah Radliyallahu 'Anhu.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) Radliyallahu 'Anhu.
145. Al-Harith bin Arfajah Radliyallahu 'Anhu.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair Radliyallahu 'Anhu.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
148. Abdullah bin Rawahah Radliyallahu 'Anhu.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah Radliyallahu 'Anhu.
154. Abdullah bin Abbas Radliyallahu 'Anhu.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah Radliyallahu 'Anhu.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
161. Abdullah bin Umair Radliyallahu 'Anhu.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
163. Abdullah bin ‘Urfutah Radliyallahu 'Anhu.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai Radliyallahu 'Anhu.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah Radliyallahu 'Anhu.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah Radliyallahu 'Anhu.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
170. Amir bin Salamah Radliyallahu 'Anhu.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad Radliyallahu 'Anhu.
172. Amir bin al-Bukair Radliyallahu 'Anhu.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah Radliyallahu 'Anhu.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan Radliyallahu 'Anhu.
175. ‘Ubadah bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.
176. Aus bin al-Somit Radliyallahu 'Anhu.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus Radliyallahu 'Anhu.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah Radliyallahu 'Anhu.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam Radliyallahu 'Anhu.
182. Amru bin Iyas Radliyallahu 'Anhu.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy Radliyallahu 'Anhu.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah Radliyallahu 'Anhu.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah Radliyallahu 'Anhu.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais Radliyallahu 'Anhu.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah Radliyallahu 'Anhu.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan Radliyallahu 'Anhu.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
194. Dhamrah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
195. Ziyad bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
196. Basbas bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi Radliyallahu 'Anhu.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) Radliyallahu 'Anhu.
202. Abdullah bin Amru bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh Radliyallahu 'Anhu.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
207. Hubaib bin Aswad Radliyallahu 'Anhu.
208. Thabit bin al-Jiz’i Radliyallahu 'Anhu.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah Radliyallahu 'Anhu.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur Radliyallahu 'Anhu.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ Radliyallahu 'Anhu.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr Radliyallahu 'Anhu.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr Radliyallahu 'Anhu.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah Radliyallahu 'Anhu.
221. Al-Dhahlak bin Harithah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
222. Sawad bin Razni bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
225. Abdullah bin Abdi Manaf Radliyallahu 'Anhu.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab Radliyallahu 'Anhu.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
228. An-Nu’man bin Yasar Radliyallahu 'Anhu.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah Radliyallahu 'Anhu.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) Radliyallahu 'Anhu.
233. Abbas bin Amir bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad Radliyallahu 'Anhu.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais Radliyallahu 'Anhu.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah Radliyallahu 'Anhu.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus Radliyallahu 'Anhu.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman Radliyallahu 'Anhu.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih Radliyallahu 'Anhu.
245. Al-Fakih bin Bisyr Radliyallahu 'Anhu.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah Radliyallahu 'Anhu.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir Radliyallahu 'Anhu.
257. Khalifah bin Adi bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan Radliyallahu 'Anhu.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari Radliyallahu 'Anhu.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza Radliyallahu 'Anhu.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru Radliyallahu 'Anhu.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah Radliyallahu 'Anhu.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid Radliyallahu 'Anhu.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani Radliyallahu 'Anhu.
274. Ishmah al-Asyja’i Radliyallahu 'Anhu.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man Radliyallahu 'Anhu.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan Radliyallahu 'Anhu.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram Radliyallahu 'Anhu.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl Radliyallahu 'Anhu.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit Radliyallahu 'Anhu.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith Radliyallahu 'Anhu.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi Radliyallahu 'Anhu.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik Radliyallahu 'Anhu.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid Radliyallahu 'Anhu.
291. Muhriz bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
292. Sawad bin Ghaziyyah Radliyallahu 'Anhu.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan Radliyallahu 'Anhu.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim Radliyallahu 'Anhu.
295. Sulaim bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.
296. Haram bin Milhan Radliyallahu 'Anhu.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah Radliyallahu 'Anhu.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru Radliyallahu 'Anhu.
299. ‘Ishmah al-Asadi Radliyallahu 'Anhu.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik Radliyallahu 'Anhu.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah Radliyallahu 'Anhu.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru Radliyallahu 'Anhu.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah Radliyallahu 'Anhu.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud Radliyallahu 'Anhu.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal Radliyallahu 'Anhu.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais Radliyallahu 'Anhu.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi Radliyallahu 'Anhu.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan Radliyallahu 'Anhu.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah Radliyallahu 'Anhu.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj Radliyallahu 'Anhu.
313. Oleh bin Syuqrat Radliyallahu 'Anhu.

Lahum Al-Fatihah

Friday, September 20, 2019

Kisah Nabi Shaleh (3): Unta Betina dari Batu (1)

Di tengah situasi menyimpangnya Kaum Tsamud, Allah kemudian mengutus Nabi Shales AS kepada mereka, yakni seseorang yang berasal dari kaum mereka sendiri. Silsilah lengkap Shaleh adalah: Shaleh bin Ubaid bin Asif bin Masikh bin Ubaid bin Khadir bin Tsamud bin Gether bin Aram bin Sem bin Nuh. Dia kemudian menyeru umatnya untuk menyembah Allah semata, dan tidak mempersekutukan-Nya.[1]

Seruan Nabi Shaleh tercatat di dalam Alquran, “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).’.” (Q.S 11: 61)

Menurut Quraish Shihab, apa yang disampaikan Shaleh untuk umatnya sama persis dengan apa yang telah disampaikan oleh Nabi Nuh dan Nabi Hud kepada umat mereka masing-masing.[2] Dan respon yang didapatnya, juga serupa. Sementara sebagian kecil Kaum Tsamud beriman kepadanya, namun  sebagian besar dari mereka tidak percaya dan melukainya, baik melalui kata-kata maupun perbuatan.[3]

Sebelum mendapatkan wahyu dari Allah SWT, Shaleh di antara Kaum Tsamud dikenal sebagai seseorang yang bijaksana, suci, berakhlak baik, dan sangat dihormati oleh mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Kaum Tsamud sendiri di dalam Alquran, “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.” (Q.S 11: 62)

Mereka hanya ingin menyembah tuhan yang sama seperti yang dimiliki oleh orang tua mereka. Tidak perlu alasan, tidak perlu bukti, dan tidak perlu dipikirkan. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Shaleh adalah bukti itu sendiri, karena tidak ada manusia manapun yang mampu mengucapkan kata-kata seperti nabi. Meski demikian, sebagian besar umatnya tetap tidak mempercayainya.

Mereka meragukan kata-katanya, mengira bahwa Shaleh hanyalah seorang penyihir, dan mereka melihat bahwa dia tidak akan berhenti berkhotbah. Khawatir bahwa para pengikut Shaleh akan terus bertambah, maka mereka mencoba untuk membendungnya dengan memberikan dia tugas penting yang seolah-olah mustahul. Sebagai bukti bahwa dia adalah seorang nabi, maka mereka memintanya untuk melakukan mukjizat.[4]

Seperti yang pernah disinggung, Kaum Tsamud adalah kaum yang mempunyai keahlian memahat gunung. Mereka mampu membuat relief-relief yang sangat indah, sehingga gambar-gambar yang dihasilkan oleh mereka bagaikan sesuatu yang benar-benar hidup. Maka mereka menuntut sesuatu yang melebihi kemampuan mereka.[5]

Kaum Tsamud berkata, “Jika engkau benar, tunjukkanlah kepada kami suatu tanda.”[6]

Mereka kemudian menunjuk sebuah batu karang dan memintanya, “Mintalah kepada Tuhanmu untuk membuatkan unta betina, yang harus sepuluh bulan hamil, tinggi, dan menarik. Buatkanlah dari batu itu untuk kami.”

Shaleh menjawab, “Lihatlah sekarang! Jika Allah mengirimkan kalian apa yang kalian minta, seperti yang telah kalian deskripsikan, akankah kalian beriman kepada apa yang telah aku datangkan kepada kalian, dan beriman kepada risalah yang telah aku sampaikan?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Shaleh kemudian mengambil sumpah dari mereka tentang hal ini, lalu berdoa kepada Allah SWT untuk mengabulkan permintaan mereka. Allah kemudian memerintahkan batu itu untuk membelah diri, dan memunculkan unta yang hamil sepuluh bulan. Ketika mata mereka menatapnya, mereka kagum. Mereka melihat hal yang hebat, pemandangan yang indah, kekuatan yang menakjubkan dan bukti yang jelas![7]

Dalam riwayat lain, sebagaimana disampaikan oleh Abu al-Tufail, kisahnya berjalan seperti ini:

Tsamud berkata kepada Shaleh, “Tunjukkanlah kami tanda jika engkau memang benar.”

Shalih berkata kepada mereka, “Pergilah ke ketinggian di atas tanah,” dan (batu) itu berguncang keras, bagaikan seorang wanita yang bergetar ketika sedang melahirkan, dan terbelah, dan dari tengahnya muncullah seekor unta.

Shaleh berkata, “Ini adalah unta Allah, sebuah tanda bagi kalian. Biarkan dia makan di tanah Allah, dan jangan menyakitinya, jangan sampai siksaan yang menyakitkan merenggutmu. Ia memiliki hak untuk minum, dan kalian memiliki hak untuk minum, masing-masing pada hari yang ditentukan.”[8] (PH)

Bersambung ke: