Wednesday, September 2, 2020

NDRESMO Makkah nya tanah jawatempat mukim nya Habaib yg berwajah njowo

NDRESMO Makkah nya tanah jawa
tempat mukim nya Habaib yg berwajah njowo 

   Ada yg bilang SIDOSERMO atau SIDORESMO . namun nama asal dari kampung itu bernama NDRESMO .Perkampungan yang terletak di perbatasan antara Kecamatan Wonokromo dan Kecamatan Wonocolo, tepatnya di Jalan Sidosermo Dalam Surabaya, Jawa Timur,  hampir seluruh daerah bahkan negara2 lain terlebih timur tengah banyak yg kenal desa itu . ya karena kebanyakan penduduk nya punya pesantren . ya ! jumlahnya sangat banyak . dan lagi para penduduk asli situ adalah dari keturunan baginda nabi MUHAMMAD SAW dari berbagai arah silsilah yg berbeda . ada dua jalur silsilah yg menghubungkan nasab penduduk ndresmo ke-baginda nabi muhammad . yaitu dari keturunan Sayyid Abu Bakar Basyaiban dan sayyid adhmat khon ( bisa jadi ada yang lain dari kedua keturunan itu ).

nama " NDRESMO" itu bukan sebuah kebetulan saja . namun terdapat sejarah awal penamaan itu . dahulu sekali , setelah Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  dan kakaknya Sayyid ali ( keduanya adalah putra dari sayyid abdurrahman suami dari syarifah khodijah putri syarif hidayatullah , sunan gunung jati ) berkelana dalam penyi'aran islam , akhirnya beliau berdua menetap disuatu tempat . Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban berakhir di mojoagung hingga wafat beliau dan dikebumikan disana . namun sebelum ke-mojoagung beliau sudah mendirikan sebuah pesantren dipasuruan yg hingga kini masih berdiri kokoh dan besar . nama pesantren itu adalah SIDOGIRI . 
sedangkan kakaknya , Sayyid Ali Al-arif bin Abdurrahman Basyaiban menetap dan mengajar didaerah pasuruan yg terkenal dg sebutan SEGOROPURO . beliau-pun diwafat dan dikebumikan disana . Disaat Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban masih memangku pesantren dipasuruan itu-lah , beliau berkeinginan lebih meluaskan syi'ar islamnya ke-daerah2 lain . beliau menyuruh putra2-nya agar semakin giat dalam hal penyebaran islam diberbagai daerah . terdapat beberapa nama dari putra2 beliau yang tercatat diberbagai silsilah . diantaranya : 
abdul wahab , hazam , tsabit , ali akbar , abdulloh , abid , hasan , husein dan muhammad baqeer . ( mungkin ada yg lain ? allahu a'lam ) .

para putra2 Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  itu banyak yg menyebar untuk melaksanakan keinginan ayah mereka utk memperluas penyebaran islam . tak terkecuali putra beliau yg bernama Sayyid Ali Akbar . dalam masa pengembaraan , beliau ( Sayyid Ali Akbar ) bermunajat pada Allah agar diberi petunjuk dimana tempat atau daerah yg layak buat dirinya menetap . dan ternyata AllahS.W.T memberikan petunjukNYA . terlihat oleh Sayyid Ali Akbar ditengah2 munajatnya , sebuah cahaya yg terang yang mengarah kesuatu tempat yg kala itu masih sebuah hutan yg angker . 
menurut riwayat tidak ada satupun orang yg sanggup memasuki hutan itu . orang banyak yg menyebutkan nama daerah itu dengan nama ' alas demungan ' . akhirnya Sayyid Ali Akbar  melaporkan hal itu pada ayahandanya  . mendengar penuturan putranya itu , Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban  menyuruh Sayyid Ali Akbar agar membabat dan menakhlukkan hutan itu dan membangun tempat tinggal disitu . beberapa santri ayahnya dipesantren sidogiri di-ikut sertakan untuk membantu putranya mengemban tugas itu . 

singkat cerita , Sayyid Ali Akbar berhasil membabat dan menakhlukkan hutan itu . berbagai kendala dan cobaan alhamdulillah berhasil beliau lalui . setelah selesai , beliau membangun satu rumah sederhana yang dihalaman depan-nya terdapat sebuah ' gutek'an ' atau istilah sekarang satu tempat yg disediakan untuk santri menetap . setelah selesai semuanya , tak lama ayahanda beliau datang untuk melihat hasil kerja putranya itu . cukup puas perasaan Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban melihat semua hasilnya . maka beliau berpesan pada putranya agar menetap disitu dan beliau menyuruh sebagian santrinya yg tadinya membantu Sayyid Ali Akbar akbar agar ikut menetap bersama putranya . Sayyid Sulaiman memilih beberapa santri yg berjumlah 5 orang . akhirnya Sayyid Sulaiman kembali kepasuruan dan meninggalkan 5 santri buat putranya , ali akbar . 

hari terus berganti . kehidupan Sayyid Ali Akbar penuh berisi dengan ibadah , ngaji dan pembenahan . setiap tak ada kegiatan ngaji bagi para 5 santri tersebut , mereka isi dengan muthola'ah ( belajar ) kitab2 yg telah diajarkan sayyid ali akbar . hingga suara mereka dalam hal membaca kitab terdengar oleh beliau . akhirnya beliau segera menghampiri para santri-nya itu . dihadapan para 5 santri itu beliau berkata : 

" kang , tiap malam aku selalu mendengar kalian belajar bersama saling nderes ( membaca ) kitab yg telah aku ajarkan . maka ingat baik-baik , sejak saat ini yang mulanya desa ini bernama ndemungan , maka aku ganti dengan nama NDRESMO . sing nderes kabehe limo ( yang belajar lima orang ) . 

" inggih kyai " ( iya kyai ) jawab para 5 santri itu kompak . 

maka sejak itulah , desa itu mulai dikenal orang dengan nama ndresmo . dan lama kelamaan ndresmo mulai berdatangan para murid Sayyid Ali Akbar yang ingin menimba ilmu dipesantren beliau ini . semakin ramai dan terkenal desa itu . dan hingga kini kampung ndresmo terkenal dengan sebutan ' mekkah-nya tanah jawa ' . 

perlu diketahui , salah satu dari 5 santri Sayyid Ali Akbar tersebut adalah ' ki ageng hasan besari ' yg terkenal dg ki kasan besari ponorogo . seorang ulama besar dan sangat terkenal hingga kini . 

NDRESMO DIMASA PENJAJAHAN 

Sudah sejak dulu atau tepatnya sejak zaman penjajahan desa itu selalu dikunjungi banyak orang . bagaimanapun juga keamanan didesa itu terjamin sejak terikatnya perjanjian antara Sayyid Ali Akbar  dan pemererintah kolonial belanda . lalu diperkuat lagi perjanjian sayyid iskandar (putra beliau). 
jadi para tamu-tamu yang memasuki desa ndresmo dulunya itu bisa dipastikan ada 2 hal : yaitu niat belajar mengaji atau cari perlindungan dari kejaran para tentara belanda . perjanjian antar belanda dan kedua tokoh sentral ndresmo itu sudah tertulis . hingga sekarang konon tulisan perjanjian untuk menjadikan desa ndresmo sebagai tempat yg di-istimewakan masih tersimpan rapi dinegara belanda sana . desa itu memang membuat masalah dan mati kutu bagi para penjajah . tak bisa berbuat banyak jika berurusan dengan penduduk desa itu . dan itupun berlanjut hingga kepenjajahan jepang . sudah menjadi rahasia umum disaat penjajahan belanda dan jepang dulu , jika ada tentara yg berusaha melanggar perjanjian tersebut bisa dipastikan terkena musibah yg mengenaskan . bahkan jika ada tentara yg berusaha masuk kedesa itu , banyak yang matanya tertutupi dengan sesuatu hal, hingga keberadaan ndresmo se-akan hilang tak berbekas ( baca dipostingan sayyid iskandar bin sayyid sulaiman ). 

ada banyak beberapa peninggalan kuno yang masih ada didesa ndresmo . yaitu masih utuhnya rumah bekas kediaman Sayyid Ali Akbar  hingga keputranya Sayyid Ali Ashghor . yang kini rumah itu ditempati oleh K.H.Mas Mas'ud (almarhum ) . lalu celana panjang yg biasa dipakai dalaman jubah milik sayyid ali ashghor yg masih tetap utuh . kemudian sumur yang dulunya biasa dipakai Sayyid Ali Akbar untuk memberi minuman para pejuang, hingga sesiapapun yg habis meminumnya secara fakta tak mempan oleh segala macam senjata para penjajah . sekarang keberadaan sumur itu ditutup karena pernah terjadi hal yg sangat menakjubkan . ada seseorang yang mencuci buah pepaya yang masih utuh disitu . lalu setelah habis dicuci ternyata pepaya itu tak mempan dikuliti oleh pisau . dan masih banyak lagi kejadian yg berhubungan dengan sumur itu hingga membuat orang yg meminumnya kebal akan segala senjata tajam ( fakta tak terbantahkan dan banyak saksi yg masih hidup hingga saat ini ) . 

NDRESMO DIMASA tahun 1950 - 2009 . 

Dimasa itu desa ndresmo ibarat bunga yang segar dan indah . dimasa itu pula makin banyak berdatangan para santri disetiap rumah-rumah anak cucu keturunan baginda nabi Muhammad SAW didesa itu . banyak tokoh-tokoh kyai ndresmo kala itu yang berwibawa dan kharismatik . baik kyai ndremo yg menetap didesa itu, ataupun kyai ndresmo ( ahli ndresmo ) yang berada dikota-kota lain seperti pasuruan dll . atau baik kyai ndresmo dari fam ( Anak Cucu )  Basyaiban atau fam ( anak Cucu ) adhamat khan atau fam lainnya .
Para sesepuh dulu dengan tindakan nyata memberikan contoh terhadap keturunan mereka kelak , agar senantiasa mementingkan ilmu agama daripada duniawi . juga pentingnya berserah diri pada Allah SWT disaat kondisi apapun . membiasakan diri utuk selalu meng-khatamkan alqu'an minimal 3 hari sekali .membiasakan diri agar tak tidur malam untuk memuji Allah hingga pagi . semua itu masih terlaksana hingga saat ini . maka jangan heran jika kita melihat dirumah-rumah keturunan baginda nabi di-ndresmo jika malam jarang yang tidur . ada yang dimasjid 'ali akbar' dan ada yang dirumah membaca alqu'an , ada yang memimpin para santrinya untuk istighotsah , ada yang ngelalar pelajaran agama . namun jika siang hari jarang yg keluar rumah ( ingat , bukan rumah para pendatang lo ) . terdapat nama-nama para kyai yang bisa mempertahankan kewibawaan ndresmo dari dulu hingga saat ini . 
yaitu kyai mujahid , kyai mansur bin thoha , kyai muhibbin , kyai baqer , kyai abdul qadir , kyai yahya , kyai thoha , kyai ahmad dan kyai2 lainnya 
kini , ndresmo masih tetap sebuah desa yg sangat religius sekali . makin banyak kegiatan saadah ( para sayyid ) dimasa modern ini . tak seperti sesepuh ndresmo hadapi, yg berupa para penjajahan dan peristiwa keganasan PKI yang penuh dengan kekerasan , maka para saadah sekarang menghadapi sesuatu yg complicated . baik dalam kehidupan bermasyarakat yg lain dg yg dulu . karena para pendatang baru makin banyak . apalagi teknologi yg maju pesat dan zaman telah banyak berubah . tapi alhamdulillah tak bisa merubah ke-religiusan ndresmo itu . 

Meski "ndremo"  desa yg sangat kecil tapi terdapat puluhan pesantren disitu , meski rata-rata santrinya cuma sedikit . terhitung hanya 2 pesantren yg bisa dikatakan besar dindresmo itu . yaitu ponpes annajiyah dan ponpes at-tauhid . dan inilah nama pesantren didesa ndremo yg memang sudah punya nama : 

1 . Pondok Pesantren An-Najiyah ( pim. KH.Mas yusuf muhajir , diponpes barat ) 
2 . Pondok Pesantren An-Najiyah  ( pim. KH.Mas Abdullah muhajir , diponpes timur ) 
3 . Pondok Pesantren Islam At – Tauhid  ( pim. KH.Mansyur Tholhah ) 
5 . Yanaabi'ul-ulum ( pim. KH.Mas Khotib ) 
6 . Pondok Pesantren Islam Al-Haqiqi Al-Falahi Joyonegoro ". ( pim. KH.Mas Lukman abdul qadir ) 
7 . Al-wasilah ( pim. KH. Anshor Muhajir ) 
8 . Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Khalim dan K.Mas Abdul Qadir
9 . Pondok Pesantren pim. K.Mas Faqor
10. Pondok Pesantren pim. Nyai Hj. Mas Farohah 
11. Al-irsyad ( pim. Nyai Hj. Mas Afifah binti KH.Mas Nur Rosul ) 
12. Pondok Pesantren pim. Nyai Mas Luthfa binti KH.Mas Abu Dzarrin 
13. Pondok Pesantren Al-hasan ( pim . . . . ) 
14. At-Taqowwiyah ( pim. saya sendiri, pemilik blog ini,bin KH.Mas Nur Rosul ) 
15. Pondok Pesantren pim. Kyai Mas Qadir 
16. Al-Ahih ( pim. KH.Mas Dawam ) 
17. Pondok Pesantren  pim. KH.Mas Busyairi 
18. Al-badar ( pim . KH.Mas Nur ) 
19. Pondok Pesantren pim. KH.Mas abdul qahar  
20. Al-badar putri ( pim. KH.Mas Muzammil ) 
21. Pondok Pesantren pim. KH.Mas Yazid.  dll
Foto KH Mas Muhajir Manshur 
Naqil : Alfaqir bingits Dhody Romeo 
Nuqilat min Diwani Buya Abi Alkhoir Basyaiban bi wasilati Ning Uswah 
Visit :ndresmo.blogspot.com ...

Tuesday, August 18, 2020

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno

Jejak Tasawuf dalam Kepemimpinan Bung Karno
Kamis 18 Agustus 2016 08:51 WIB
Oleh Ren Muhammad

Kiai Muhammad Muchtar Mu’thi bin KH Abdul Mu'thi, dari Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah, Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, mengungkapkan bahwa kurang lebih lima bulan jelang kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamirkan oleh Dwi Tunggal: Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, keduanya telah menemui empat orang ulama tasawuf yang mukasyafah (terbuka mata batinnya). Empat ulama tasawuf itu adalah Syeikh Musa dari Sukanegara, Cianjur; KH Abdul Mu'thi dari Madiun; Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung; dan Hadratusysyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, Jombang (pendiri Nahdlatul Ulama). Kesimpulan dari pertemuan Sukarno dengan empat ulama tasawuf tersebut adalah: Akan ada berkat Rahmat Allah yang besar turun di Indonesia, pada Jumat legi, 9 Ramadhan 1364 Hijriah. Bila meleset, harus menunggu tiga abad lagi. Titimangsa itu sama persis dengan Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Nama Hatta kerap diabaikan sebagai bagian penting sejarah Proklamasi. Padahal dialah yang menyusun teks Proklamasi itu dan Sukarno yang membacanya. Hal ini bisa kita temukan dalam tulisan Hatta di otobiografinya, Untuk Negeriku, yang ia rampungkan penulisannya sebelum wafat pada 1980. Atas sumbangsih Hatta itulah, maka menjadi sah julukan yang diembannya sebagai dwitunggal RI. Ungkapan Kiai Muchtar di atas, sejajar dengan yang dikatakan Prof. Mansur Suryanegara saat diwawancarai situs Eramuslim pada 11 Syawal 1434 H/17 Agustus 2013, yang menguraikan siapa saja ulama penyokong pembacaan Proklamasi. “Pertama. Syeikh Musa, ulama dari Sukanegara, Cianjur Selatan. Kedua. Drs. Sosrokartono, kakaknya RA Kartini. Ketiga. KH Abdul Mukti, dan keempat, KH Hasyim Asy’ari. Mereka inilah yang memberi tahu bahwa Jepang tidak akan mengganggu Indonesia lagi. Kiai Hasyim pada waktuitu juga mengatakan bahwa presiden pertama Indonesia adalah Bung Karno, dan hal itu telah disetujui angkatan laut Jepang.” Dari deretan nama tersebut, hanya Syeikh Musa saja yang belum terjelaskan dengan baik dalam catatan sejarah. Perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait hal ini. Prof. Mansur Suryanegara masih memberi tambahan data lagi selain peran empat orang pembesar di atas. “Jadi ketika 10 Ramadhan atau 18 Agustus 1945, Pancasila sebagai dasar negara dikukuhkan oleh tiga orang, KH Wahid Hasyim (NU), Ki Bagus Hadi Kusumo, dan Kasman Singodimejo (keduanya dari Muhammadiyah). Mereka itulah yang membuat kesimpulan Pancasila sebagai adicita negara, dan UUD ‘45 sebagai konstitusi. Kalau tidak ada mereka, BPUPKI takkan mencapai kata sepakat, walaupun diketuai oleh Bung Karno sendiri. Dari situ pula, Bung Karno diangkat jadi presiden, dan Bung Hatta sebagai wakilnya. Jadi negara ini yang memberi kesempatan Proklamasi seperti itu adalah ulama.” Terkait hubungan Sukarno dengan RMP Sosrokartono, memang sangat sedikit buku sejarah yang mencatatnya. Bagi Sukarno, Sosrokartonoyang poliglot itu, tak hanya sekadar guru bahasanya, melainkan juga guru spiritual yang memang ia akui. Posisi penting Sosrokartono itu bisa kita amini ketika Sukarno dan tiga pembelanya di Landraad (Pengadilan) Bandung pada 18 Agustus 1930, ketika membacakan “Indonesia Klaagt Aan” (Indonesia Menggugat), yang ia susun di Penjara Banceuy, mendatangi rumah sekaligus balai pengobatan Sosrokartono—semalamsebelum putusan pengadilan dijatuhkan. Kedatangan mereka secara diamdiam itu, ternyata telah diketahui lebih dulu oleh Sosrokartono melalui mukasyafah-nya. Di dalam rumah, telah disediakan empat bangku kosong. Sedang Sosrokartono telah duduk mendahului tamunya. Sebelum para tamu yang gelisah itu angkat bicara, tuan rumah seketika berujar. “Sukarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja jatuh, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.” Apa yang terjadi keesokan harinya? Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Paling berat di antara tiga kawan seperjuangannya, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata, yang hanya diganjar hukuman separuh dari waktu yang harus dilalui Sukarno. Meski mereka berupaya mengajukan banding ke Raud van Justitie (Pengadilan Tinggi), namun hasilnya nihil. Hukuman Sukarno telah mantap dikukuhkan. Di sebuah rumah panggung di Jalan Pungkur No. 7, Bandung (sekarang tepat di seberang terminal Kebon Kalapa), pernah berdiri rumah pengobatan bernama Pondok Darussalam. Rumah inilah yang menjadi pelabuhan terakhir Sosrokartono setelah pengembaraannya di Eropa selama 27 tahun. Rumah panggung itu terbuat dari kayu berdinding bambu. Dibangun memanjang membentuk huruf L. Sosrokartono diminta menempati gedung itu oleh RM Suryodiputro, adik Ki Hajar Dewantara. Gedung inilah yang menjadi saksi kesaktian Sosrokartono mengobati pasiennya hanya dengan mencelupkan telunjuk ke dalam air di gelas. Jari telunjuk itu adalah simbolisasi dari huruf alif (١) yang jadi ciri khasnya saat mengobati orang sakit. Kenapa huruf alif? Ja’far Ash-Shadiq ra (dalam Schimmel, 1996: 230) mengungkapkan: ”Tuhan membuat huruf Hijaiyyah sebagai induk segala benda; indeks dari segala sesuatu yang bisa dilihat... Segala sesuatu bisa diketahui melalui huruf.” Kemampuan ajaib Sosrokartono inilah yang membuat ia digelari persoonlijke magnetisme oleh seorang dokter yang anak kerabatnya disembuhkan Sosrokartono ketika masih melanglang buana di Eropa. Menurut Budya Pradipta, Ketua Paguyuban Sosrokartanan Jakarta dan dosen tetap bahasa, sastra, dan budaya Jawa, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, “Darussalam adalah bekas gedung Taman Siswa, Bandung. Eyang Sosro di sana karena diminta menjadi pimpinan Nationale Middelbare School (Sekolah Menengah Nasional) milik Taman Siswa.”Para guru di sekolah Taman Siswa itu antara lain, Ir. Sukarno, Dr. Samsi, Mr. Sunario SH, dan Mr. Usman Sastroamijoyo. RMP Sosrokartono juga ikut aktif dalam kegiatan politik saat zaman pergerakan nasional Indonesia. Kegiatan Sosrokartono dapat dilihat dari laporan para pejabat kolonial Belanda.Dalam laporan rahasia yang dibuat Van Der Plas pejabat Adviseur Voor Inlandse Zaken tertulis, kalau (Doctorandus) Drs. Sosrokartono termasuk pelopor gerakan nasional Indonesia dan tidak dapat dipercaya oleh pemerintah kolonial Belanda. Ada lagi laporan dari Komisi Istimewa yang terdiri Herwerden dan Toxopeus langsung kepada Ratu Wilhelmina, yang berisi kalau Sosrokartono penganjur swadesi dan sangat berbahaya bagi berlangsungnya ketenteraman dan kedamaian di Hindia Belanda. Kelak, gedung ini juga pernah dipakai oleh Partai Nasional Indonesia pimpinan Sukarno, dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisastie pimpinan Abdul Rachim, mertua Bung Hatta.Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, menuturkan ingatannya, “Darussalam tak pernah sepi. Tamunya beragam. Sedari orang Belanda, pribumi, hingga Cina peranakan. Ia juga pernah melihat Sukarno datang menemui Sosrokartono. Saat itu Sosrokartono sedang menggoreskan huruf alif di atas kertas putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Sukarno muda, entah untuk apa. Saat itu, Sukarno dan kawan seperjuangannya sudah kerap datang ke Darussalam guna belajar bahasa pada Sosrokartono. Hubungan mesra Sukarno dengan para ulama tasawuf sebelum kemerdekaan, juga bisa kita lacak dari laporan Jose Hendra untuk Majalah Historia pada Rabu, 1 Juni 2016, yang berjudul Sila Ketuhanan dari Ulama Padang Japang. Syeikh Abbas Abdullah adalah tokoh yang memberi wejangan kepada Sukarno terkait sila pertama Pancasila. Kala itu, ia berkunjung ke Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, yang didirikan Syeikh Abbas. “Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya landasan bagi negara Indonesia yang akan didirikan kelak, bila kemerdekaan sungguh benar tercapai. Syeikh Abbas menyarankan negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muslim Syam dalam Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, terbitan Islamic Centre Sumatera Barat (1981). Syeikh Abbas, yang juga dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Japang, menambahkan kalau hal demikian diabaikan, revolusi takkan membawa hasil yang diharapkan. Fachrul Rasyid HF, yang turut menulis dalam buku tersebut, mengatakan, tidak banyak orang tahu pembicaraan mereka berdua sebelum Syeikh Abbas mengungkapkannya tiga hari kemudian, “Di hadapan guru dan siswa DFA—usaishalat Jumat di Masjid al-Abbasyiah. Syeikh Abbas mengatakan kedatangan Sukarno ke DFA untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Persisnya, Syeikh Abbas menyarankan bahwa negara harus berdasar ketuhanan,”ujar Fachrul menirukan kembali cerita yang ia dapat dari keluarga Syeikh Abbas dan masyarakat setempat. Kedatangan Sukarno ke Padang Japang masih menjadi ingatan kolektif masyarakat Padang Japang saat ini. Yulfian Azrial, anggota Masyarakat Sejarahwan Indonesia Sumatera Barat, mengatakan, Darul Funun merupakan madrasah yang cukup berpengaruh berkat kebesaran dua syeikhnya, yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syeikh Mustafa Abdullah.Kebesaran kedua syeikh yang bersaudara ini membuat Sukarno merasa perlu ke Padang Japang, setelah bebas dari pembuangan di Bengkulu. Syeikh Abbas dan Syeikh Mustafa adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Makkah, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Syeikh Abbas juga berkawan dekat dengan Syeikh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul. Bersama Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lain, Syeikh Abbas mendirikan Madrasah Sumatera Thawalib. Pada 1930, Syeikh Abbas mengubah Sumatera Thawalib di Padang Japang menjadi DFA karena menolak bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi). Syeikh Abbas sendiri kala itu bukan sekadar ulama melainkan juga panglima jihad Sumatera Tengah. Pasukan jihad ini didirikan DFA sebagai basis perjuangan menghadapi Belanda. Anggotanya adalah Hizbul Wathan dan Laskar Hizbullah.Sementara sekolah tetap menjadi basis untuk menggapai dan mengisi kemerdekaan. “Wajar Sukarno menemui Syeikh Abbas, karena ia bukan saja ulama tapi panglima perang,” tukas Fachrul, wartawan senior di Sumatera Barat. Menurut Fachrul, perjumpaan Sukarno dengan Syeikh Abbas hanya berlangsung sebentar. Ia datang sekitar pukul satu siang, lalu balik sore hari. Sukarnoberada di Padang ketika era transisi Belanda ke Jepang. Ia berada di Sumatera Barat selama lima bulan, sedari Februari 1942 hingga Juli 1942. Ketika sudah menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno masih terus melakukan kontak dengan para ulama kawakan, terutama dari barisan Nahdliyin. Dua di antaranya yang paling terkenal rapat dengan Sukarno adalah KH.Abdul Wahab Chasbullah dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Kemerdekaan Indonesia yang masih terus dirongrong Belanda dengan membonceng tentara Sekutu, membuat Sukarno dan para tetua bangsa kita, resah dan cemas. Maka Sukarno, Mohammad Hatta, dan Jenderal Sudirman pun meminta wejangan pada KH Wahab terkait hukummempertahankan kemerdekaan pada awal Oktober 1945. KH Wahab yang mumpuni di bidangushul fiqih menyatakan, bahwa kemerdekaan yang telah diraih bangsa ini wajib dipertahankan. Guru Bangsa, HOS Cokroaminoto, juga merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang pernah urun rembuk dengan Kiai Wahab terkait persoalan kebangsaan yang tengah dihadapi bersama. Kiai Wahab dan Kiai Hasyim memang memiliki hubungan darah yang cukup erat. Secara silsilah, dua kiai sepuh ini merupakan keturunan dari Kiai Sikhah. Anak buah Pangeran Diponegoro yang kemudian masuk ke Kabupaten Jombang saat Perang Jawa meletus. Mereka berdua pernah satu pesantren namun beda angkatan, yakni ketika nyantri di pesantren Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura. Sejauh yang bisa kita telusuri, mungkin hanya Sukarno satusatunya presiden dunia yang berhubungan baik dengan para ulama. Bahkan kecenderungan itu sudah ia lakukan tanpa sadar sejak masih usia belia, saat keluarganya menetap di Pojokkrapak, Jombang. KH Abdul Mu’thi yang pernah ia temui sebelum kemerdekaan, misal, adalah sahabat kental sekaligus guru ayahnya, Raden Sukeni. Wajar bila sosok kharismatik itu didatangi lagi oleh Sukarno ketika ia harus mengambil keputusan besar bagi bangsa ini: mendirikan satusatunya negara tauhid di dunia. HOS Cokroaminoto yang juga induk semang sekaligus cermin utama bagi Sukarno, juga pegiat tasawuf. Sebelum tampil sebagai Raja Jawa Tak Bermahkota, ia sudah lebih dulu belajar pada Kiai Ageng Muhammad Besari (Hasan Besari I) yang adalah buyutnya sendiri. Kiai Hasan Besari, adalah panglima perang Pangeran Diponegoro yang sangat ditakuti Belanda. Jadi antara Kiai Hasan Besari, Kiai Wahab Chasbullah, dan Kiai Hasyim, terjadi hubungan unik. Ketiganya, punya keterkaitan dengan Pangeran Diponegoro. Mereka bertiga adalah kiai pejuang yang tangguh pada zamannya. Atas dasar itulah, menjadi sah jika sebelum dan semasa menjabat sebagai presiden Indonesia, Sukarno cenderung menampung semua aspirasi yang berdatangan ke kursi kekuasaannya. Peran sebagai Manusia Indonesia (bukan Nusantara) Pertama, ia jalankan sesuai fungsi. Anak-anak republik yang baru lahir, punya hak yang sama untuk tumbuh. Barisan agamis, nasionalis, sosialis, komunis, ia gandeng erat. Corak tasawuf dalam kepemimpinannya bahkan masih terasa ketika Suharto berusaha mengudeta pemerintahan. Demi alasan menghindari perang saudara, Sukarno angkat kaki secara sukarela dari Istana Negara, dan kembali pada fitrah kebangsaannya menjadi rakyat jelata. Penulis adalah pecinta Indonesia dengan melakukan studi atasnya

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/70499/jejak-tasawuf-dalam-kepemimpinan-bung-karno

Friday, August 7, 2020

KEHEBATAN ILMU TAFSIR IBNU ABBAS


Posted By: Adminon: August 05, 2020In: TafsirNo Comments

Oleh : Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās itu menakjubkan. Jika beliau menafsirkan Al-Qur’an, seakan-akan beliau menyibak tirai gaib lalu menggambarkan alam gaib itu dengan cara yang indah seaakan-akan kita melihatnya sendiri dengan mata kepala. Kemampuan menjelaskan isi Al-Qur’an layaknya seorang nabi seperti ini memang anugerah besar untuk beliau. Rasa-rasanya keilmuan terhadap Al-Qur’an sedalam Ibnu ‘Abbās tidak akan pernah berulang muncul di tengah-tengah umat Islam setelah masa Nabi  dan masa Sahabat sampai hari kiamat. Hal itu dikarenakan Ibnu ‘Abbās mendapatkan kesempatan anugerah ilahiyyah istimewa yang tidak mungkin ditiru oleh siapapun kecuali memang semata-mata dikehendaki oleh Allah.

Keistimewaan Ibnu ‘Abbās yang membedakannya dengan semua ahli tafsir di masa Sahabat maupun masa sesudahnya adalah doa Rasulullah . Secara khusus Rasulullah  memang mendoakan Ibnu ‘Abbās sejak kecil agar menjadi hamba Allah yang fakih, ahli dalam ilmu agama, dan menguasai ilmu tafsir. Doa seperti ini, siapakah yang bisa meniru untuk mendapatkannya? Ahmad meriwayatkan doa Rasulullah  untuk Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَضَعَ يَدَهُ عَلَى كَتِفِي – أَوْ عَلَى مَنْكِبِي، شَكَّ سَعِيدٌ – ثُمَّ قَالَ: ” اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ (مسند أحمد ط الرسالة (4/ 225)

Artinya,
“Dari Ibnu Abbas: bahwa Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya di atas bahuku atau di atas pundaku, -Sa’id merasa ragu, – kemudian beliau berdoa: “ALLAHUMMA FAQQIHHU FI AD DIN WA ‘ALLIMHU AT TA`WIL (Ya Allah fahamkanlah ia terhadap agama dan ajarilah ia ta`wil (H.R.Ahmad)

Tentu saja doa Rasulullah  tidak seperti doa-doa kita. 100 kali kita berdoa bersungguh-sungguh dan menghiba-hiba belum tentu Allah berkenan mendengar apalagi mengabulkan. Adapun Rasulullah , berdoa satu kali saja sudah cukup mustajab dan akan langsung dikabulkan oleh Allah. Wajar jika Ibnu ‘Abbas kemudian tumbuh menjadi pemuda yang sangat mencintai ilmu, memiliki daya tahan tinggi untuk memburu ilmu dari berbagai sumber, dan menyerap sangat baik semua ilmu yang beliau dapatkan dari Rasulullah , Sahabat, maupun ahli kitab yang tidak bertentangan dengan Islam. Akhirnya Ibnu ‘Abbas dikenal para Sahabat sebagai seorang penafsir Al-Qur’an terbaik yang pernah dimiliki umat Islam. Ibnu Mas‘ūd bersaksi ketinggian kualitas ilmu tafsir Ibnu ‘Abbās sebagai berikut,

نَعَمْ تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ» تفسير الطبري = جامع البيان ط هجر (1/ 84)

Artinya,
“Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu Abbas” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 84)

Pada saat Umar bin Al-Khaṭṭāb menjadi Khalifah, Ibnu ‘Abbās pernah diundang untuk hadir dalam semacam pertemuan yang dihadiri para sesepuh veteran perang Badar. Lalu Umar bertanya kepada hadirin tentang tafsir Surah Al-Naṣr. Sebagian dari mereka menjawab bahwa dalam Surah Al-Naṣr, Allah memerintahkan kita agar beristighfar dan bertasbih mensucikanNya. Ketika Umar bertanya kepada Ibnu ‘Abbās, ternyata jawabannya lain. Kata Ibnu ‘Abbās, ayat itu adalah isyarat ajal Rasulullah . Maksudnya, jika sudah datang pertolongan Allah dan terjadi Fathu Makkah, maka itu pertanda bahwa ajal Rasulullah  sudah dekat. Oleh karena itu perbanyaklah istighfar dan tasbih dalam rangka persiapan menyambut hari pertemuan dengan Allah itu. Umar setuju dengan tafsir itu.

Riwayat ini menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbās mampu melihat yang tidak bisa dilihat umumnya Sahabat dan mampu menafsirkan dengan tafsir yang tidak bisa diphami oleh umumnya Sahabat.

Lebih menakjubkan lagi adalah kejadian pidato Ibnu ‘Abbās di depan jamaah haji di zaman kekhilafahan Ali bin Abū Ṭālib.

Syaqīq bersaksi, waktu itu Ibnu ‘Abbās berpidato dengan sebuah pidato yang luar biasa dengan menafsirkan Al-Qur’an yang seandainya didengar oleh bangsa Turki, Romawi dan Al-Dailam niscaya mereka semua akan masuk Islam! Al-Ṭabarī meriwayatkan,

عن شقيق، قال: استعمل عليٌّ ابنَ عباسٍ على الحج، قال: فخطب الناسَ خطبة لو سمعها الترك والرُّوم لأسلموا، ثم قرأ عليهم سُورة النور، فجعل يفسرها. تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,
“Dari Syaqīq, ia berkata, ‘Ali menugasi Ibnu ‘Abbās untuk mengurusi haji. Syaqīq berkata, ‘Ibnu Abbaspun berpidato di tengah orang-orang dengan sebuah pidato yang seandainya didengar oleh bangsa Turki dan Romawi pasti mereka akan masuk Islam. Kemudian Ibnu ‘Abbās membacakan kepada mereka Surah An-Nur dan mulai menafsirkannya (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Riwayat lain Al-Ṭabarī berbunyi,

عن أبي وائل شقيق بن سلمة، قال: قرأ ابنُ عباسٍ سورة البقرة، فجعل يُفسِّرها، فقال رجل: لو سمعتْ هذا الديلمُ لأسلمتْ (تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (1/ 81)

Artinya,

“Dari Abū Wā’il Syaqīq bin Salamah, beliau berkata, ‘Ibnu ‘Abbās membacakan Surah Albaqarah dan mulai menafsirkannya. Seorang lelaki berkata, ‘Seandainya suku Al-Dailam mendengar ini mereka pasti akan masuk Islam” (Tafsīr Al-Ṭabarī, juz 1 hlm 81)

Hanya saja, tafsir Ibnu ‘Abbās banyak dipalsukan. Ada dua Sahabat yang banyak dipalsukan tafsirnya yakni Ali bin Abū Ṭālib dan Ibnu ‘Abbās. Mungkin karena keduanya sangat rapat dengan Nabi ﷺ dan termasuk ahlul bait, maka pemalsuan atas nama mereka lebih banyak daripada Sahabat yang lain karena peluang dipercaya banyak orang lebih besar daripada yang lain. Oleh karena itu kita harus berhati-hati saat menerima tafsir yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Abbās. Ada sanad yang kuat, ada yang masih perlu diteliti dan ada sanad yang lemah. Ibnu Ḥajar Al- ‘Asqalānī menjelaskan kualitas jalur-jalur tersebut secara panjang lebar dalam mukadimah kitab Al-‘Ujāb fī Bayāni Al-Asbāb.

Jalur-jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang bisa dipercaya adalah,

• Dari Mu‘āwiyah bin Ṣāliḥ dari ‘Alī bin Abū Ṭalḥah dari Ibnu ‘Abbās (ini jalur terbaik)
• Dari Ibnu Abī Najīḥ dari Mujāhid bin Jabr dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Qais bin Muslim Al-Kūfī dari ‘Aṭā’ bin Al-Sā’ib dari Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Isḥāq ṣāḥibussiyar dari Muhammad bin Abu Muhammad Maulā āli Zaid bin Ṡābit dari ‘Ikrimah atau Sa‘īd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Ibnu Juraij dari ‘Aṭā’ bin Abū Rabāḥ dari Ibnu ‘Abbās (tapi hanya terkait Surah Al-Baqarah dan Ālu ‘Imrān)
• Dari Ismā‘īl bin Abdurrahman Al-Suddī Al-Kabīr dari Abu Mālik atau Abū Ṣāliḥ dari Ibnu ‘Abbās (Al-Suddī adalah Tābi‘īn Syi‘ah. Hanya saja Muslim memakainya. Ibnu Abū Ḥatim sama sekali tidak mau memakainya, tapi Ibnu Jarīr Al-Ṭabarī mau memakainya)

Jalur riwayat dari Ibnu ‘Abbās yang masih harus diteliti adalah,

• Dari Abdul Malik bin Juraij dari Ibnu ‘Abbās. Riwayat Al-Ḥajjāj bin Muhammad bisa dipegang. Riwayat Bakr bin Sahl Al-Dimyāṭī tidak bisa dipegang

Jalur-jalur riwayat lemah dari Ibnu ‘Abbās adalah,
• Dari Al-Ḍaḥḥāk bin Muzāḥim Al-Hilālī dari Ibnu ‘Abbās. Al-Ḍaḥḥāk sendiri ṡiqah. Hanya saja riwayatnya dari Ibnu ‘Abbās munqaṭi‘.
• Dari ‘Aṭiyyah Al-‘Aufī dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muqātil bin Sulaimān dari Ibnu ‘Abbās
• Dari Muhammad bin Al-Sā’ib Al-Kalbī dari Abū Ṣālih dari Ibnu ‘Abbās. Ini adalah jalur yang paling lemah

Dengan kondisi seperti ini wajar jika riwayat sahih dari tafsir Ibnu ‘Abbas itu jumlahnya tidak banyak, Murid Al-Syāfi‘ī yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Ḥakam meriwayatkan bahwa Al-Syāfi‘ī pernah mengatakan kalau tafsir sahih dari Ibnu ‘Abbās itu hanya sekitar 100 saja. Al-Syāfi‘ī berkata,

لم يثبت عن ابن عباس في التفسير إلا شبيه بمائة حديث. (مناقب الشافعي للبيهقي (2/ 23)

Artinya,
“Tidak valid tafsir dari Ibnu ‘Abbās kecuali sekitar 100-an” (Manāqib Al-Syāfi‘ī, juz 2 hlm 23)

Demikianlah kondisi riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Informasi ini sangat berguna untuk menyaring riwayat-riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās yang tercantum dalam kitab-kitab tafsir bil ma’ṡūr seperti tafsir Ibnu Kaṡīr, tafsir Al-Ṭabarī, Al-Durru Al-Manṡūr dan semisalnya.

Ada satu kitab khusus yang dikarang untuk mengumpulkan semua riwayat tafsir dari Ibnu ‘Abbās. Nama kitab tersebut adalah Tanwīru Al-Miqbās min Tafsīri Ibni ‘Abbās yang dihimpun oleh Abū Ṭahir Muhammad bin Ya‘qūb Al-Fairuza Ābādī, pengarang kamus terkenal bernama Al-Qāmūs Al-Muḥīṭ.

Hanya saja, kumpulan riwayat tafsir Ibnu ‘Abbas dalam Tanwīru Al-Miqbās itu mayoritas berasal dari jalur Al-Suddī dan Al-Kalbī. Telah kita ketahui, jalur Al-Kalbī adalah jalur yang paling lemah semnetara jalur Al-Suddī adalah jalur yang masih harus diteliti kembali karena kadang bisa kuat dan kadang bisa lemah. Oleh karena itu, mengambil riwayat dari kitab Tanwīru Al-Miqbās itu harus ekstra hati-hati, meskipun dari sisi nilai ilmiah kadang konten tafsirnya sungguh menarik.

رضي الله عن ابن عباس والصحابة أحمعين
اللهم اجعلنا من محبي أصحاب رسول الله واجمعنا معهم في الفردوس الأعلى

Monday, June 1, 2020

Cara Menyucikan Pakaian Najis lewat Mesin Cuci

Ketentuan yang masyhur dalam mazhab Syafi’i tentang air yang terkena najis adalah: jika volume air sudah sampai dua qullah (216 liter atau kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 60 cm) maka air tidak dihukumi najis kecuali warna air berubah (taghayyur); sedangkan jika volume air tidak sampai dua qullah maka seluruh air secara langsung menjadi najis ketika bersentuhan dengan benda yang najis. Namun menurut pendapat lain—seperti dalam mazhab Maliki misalnya—air tidak dihukumi najis kecuali dengan berubahnya warna air, baik volume air sampai dua qullah ataupun kurang dari dua qullah.  Sedangkan cara menyucikan benda yang terkena najis (mutanajjis) dengan air yang kurang dari dua qullah adalah dengan cara menghilangkan wujud najis yang ada dalam benda tersebut terlebih dahulu, lalu mengalirkan air (warid) pada benda yang terkena najis yang telah dihilangkan najisnya. Mengalirkan air pada benda yang terkena najis merupakan syarat agar suatu benda dapat menjadi suci, sebab jika air tidak dialirkan, tapi benda yang terkena najis ditaruh pada air yang kurang dari dua qullah, maka air tersebut justru akan ikut menjadi najis.  Pendapat demikian merupakan pendapat mayoritas ulama Syaf’iyyah. Kewajiban mengalirkan air itu dikarenakan mengalirkan air adalah cara yang paling kuat dalam menyucikan benda yang terkena najis.  Namun dalam hal ini, Imam al-Ghazali berbeda pandangan. Beliau berpendapat bahwa mengalirkan air bukanlah syarat dalam menyucikan benda yang terkena najis. Sebab, menurut beliau, tidak ada bedanya antara mengalirkan air pada benda yang terkena najis (warid) dan menaruh benda tersebut pada air (maurud). Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Suraij. Ketika  ketentuan-ketentuan di atas kita terapkan dalam konteks menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci, maka cara yang paling baik dan disepakati oleh para ulama adalah dengan cara menghilangkan wujud najis (‘ain an-najasah) terlebih dahulu sebelum memasukkan pakaian ke dalam mesin. Menghilangkan najis ini bisa dengan cara menggosok-gosok pakaian agar wujud najis hilang, atau langsung dengan cara menyiram pakaian (baik itu secara manual, atau langsung dengan cara dimasukkan pada mesin cuci) ketika memang diyakini najis yang melekat akan hilang dengan siraman air tersebut. Sehingga ketika wujud najis telah hilang, maka status pakaian menjadi najis hukmiyyah (najis secara hukum, meski wujud tak terlihat) yang dapat suci cukup dengan disiram air.  Berbeda halnya pada pakaian yang tidak terdapat bekas najis, atau tidak tampak warna, bau dan ciri khas lain dari najis, maka tidak perlu dilakukan hal di atas, sebab pakaian tersebut sudah dapat suci cukup dengan disiram.  Lalu ketika wujud najis sudah hilang dalam pakaian, maka pakaian sudah dapat dimasukkan dalam mesin cuci untuk disiram. Dalam hal ini, mesin cuci terdapat dua jenis. Pertama, mesin cuci otomatis, yaitu mesin cuci yang mengalirkan air dari atas dan air tersebut langsung dialirkan keluar, setelah itu dialirkan kembali air baru dan dialirkan keluar, demikian secara terus-menerus sesuai kehendak pemakai mesin cuci. Maka dalam jenis mesin cuci demikian, ulama sepakat bahwa pakaian yang dicuci dengan mesin cuci jenis ini dapat dihukumi suci.  Sedangkan jenis kedua, yaitu mesin cuci biasa (‘adi). Mesin cuci jenis ini adalah yang umum terlaku dan digunakan masyarakat. Yaitu mesin cuci yang mengalirkan air ke dalam tempat penampungan pakaian, namun air tidak langsung dikeluarkan, tapi dibiarkan ke dalam tempat penampungan pakaian, yang di dalamnya bercampur pakaian suci dan najis. Setelah jeda waktu cukup lama, air tersebut dikeluarkan dan diganti dengan air baru yang juga mengalami proses yang sama dengan cara kerja air yang awal.  Maka dalam mesin cuci jenis kedua ini, pakaian yang terkena najis tidak dapat dihukumi suci menurut pandangan mayoritas ulama, bahkan pakaian yang suci ikut menjadi najis, jika memang masih terdapat wujud najis pada salah satu pakaian yang ada dalam mesin cuci tersebut.  Sedangkan bila mengikuti pandangan dari Al-Ghazali, Ibnu Suraij, serta pendapat mazhab Maliki di atas, maka air yang dicuci dengan mesin cuci jenis kedua (apalagi jenis pertama) dapat dihukumi suci. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Syarah al-Yaqut an-Nafis: والغسالات نوعان: نوع يسمونه أوتوماتيكي يرد إليها الماء ثم ينصرف فيرد ماء جديد ثم يتكرر إيراد الماء عدة مرات فهذا لاخلاف فيه في طهارة الملابس. والنوع الثاني من الغسالات عادي وتلك يوضع الماء فيها وهو دون القلتين وتغسل به الملابس الطاهرة والنجسة ثم يصرفونه فيبقى شيء منه في الغسالة والثياب مبللة منه فيصبّون عليه ماء آخر فوق الباقي المتنجس ثم يكتفون بالغسلتين  “Mesin cuci terbagi menjadi dua. Pertama, mesin cuci yang otomatis, yaitu air dialirkan pada mesin cuci lalu di alirkan keluar dari mesin cuci, setelah itu dialirkan kembali air baru dan dialirkan keluar, begitu juga seterusnya. Maka dalam mesin cuci jenis demikian tidak ada perbedaan pendapat antar ulama dalam sucinya pakaian yang di cuci pada mesin cuci jenis ini. Kedua, mesin cuci biasa, yaitu air yang kurang dari dua qullah ditaruh di dalam mesin cuci, yang nantinya air tersebut digunakan untuk membasuh pakaian yang suci dan najis, lalu air tersebut dialirkan keluar, meski masih terdapat sebagian air yang menetap pada mesin cuci, sedangkan pakaian yang terdapat dalam cucian berada dalam keadaan basah, kemudian dialirkan air lain di atas sisa air yang terkena najis (di pakaian) tadi dan basuhan air dalam mesin cuci ini dicukupkan dengan dua kali basuhan oleh sebagian ulama.” فهؤلاء يحملهم قول الذين لايشترطون ورودالماء مع القول في مذهب مالك. وهناك قول آخر نقله ابن حجر في التحفة يحملهم وإن قرر على أن الماء القليل ينجس بمجرد وقوع النجاسة فيه لكن نقل القول الآخر وهو أنه لاينجس إلا بالتغير وهو مذهب مالك وعندنا أنه ينجس بملاقته النجاسة والقول الذي يقول لاينجس الماء إلا بالتغير “Para ulama ini mengarahkan kasus demikian pada pendapat para ulama yang tidak mensyaratkan mengalirnya air pada pakaian serta berpijak pada pendapat mazhab imam malik. Sebab dalam permasalahan membasuh benda yang terkena najis ini terdapat pendapat lain yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj, meskipun Imam Ibnu Hajar menetapkan bahwa air yang sedikit (kurang dari dua qullah) akan menjadi najis dengan hanya jatuhnya najis pada air tersebut, tetapi ia menukil pendapat lain yaitu Air tidak menjadi najis kecuali dengan berubahnya (warna) air.” (Muhammad bin Ahmad Asy-Syatiri, Syarah al-Yaqut an-Nafis, Hal. 98-99) Namun patut dipahami bahwa ketentuan yang dijelaskan tentang menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci, seperti yang dijelaskan di muka, adalah ketika pakaian yang dimasukkan dalam mesin cuci belum dicampuri dengan detergen. Sedangkan ketika pakaian sudah dicampuri dengan detergen sebelum dialiri air dalam mesin cuci, maka air yang bercampur dengan detergen ini tidak dapat menyucikan pakaian yang terkena najis secara mutlak, sebab air ini tergolong air yang mukhalith (bercampur dengan sesuatu lain) yang tidak dapat menyucikan benda yang terkena najis, sebab hanya air murni (ma’ al-muthlaq) yang dapat menyucikan sesuatu yang terkena najis.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci biasa (‘adi) adalah hal yang dapat dilakukan menurut para ulama yang berpandangan bahwa air yang kurang dari dua qullah dapat menyucikan benda yang najis tanpa perlu dialiri air dari atas (warid). Namun dengan batasan selama pakaian dalam mesin cuci tidak terlebih dahulu dicampur dengan detergen. Barulah setelah pakaian dialiri air maka tempat penampungan pakaian dalam mesin cuci diganti air yang baru dan diberi detergen.  Meski cara yang umum dilakukan masyarakat dapat dibenarkan dengan cara di atas, namun alangkah baiknya dalam rangka mengambil jalan kehati-hatian dalam mengamalkan syariat, seseorang hendaknya membasuh secara manual terlebih dahulu pada pakaian yang terkena najis dengan air murni, lalu setelah itu pakaian yang telah dibasuh dicuci dalam mesin cuci, sebab cara demikianlah yang dibenarkan oleh mayoritas ulama. Wallahu a’lam. (Ustadz Ali Zainal Abidin)

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/101869/cara-menyucikan-pakaian-najis-lewat-mesin-cuci