Wednesday, September 30, 2020

Menyegarkan Kembali Ingatan Gestapu, Sebuah Kegagalan Operasi Militer PKI

Adalah salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Republik Indonesia pasca kemerdekaan; Gerakan September Tiga Puluh atau biasa disebut Gestapu dan G30S/PKI. Peristiwa yang kita peringati dengan pengibaran bendera setengah tiang ini begitu dahsyat, hingga mengubah haluan bernegara kita, melahirkan Pahlawan Revolusi, dan menjadi saksi kesaktian Pancasila. G30S/PKI (baca; pengkhianatan PKI ini) telah menjadi trauma bangsa yang akan terus diingat dalam memori kolektif berlintas-lintas generasi selama Republik ini masih berdiri.
Oleh karena amat penting, Gestapu akan selalu menarik untuk dibahas walau berulang-ulang sekalipun, di samping memang tragedi ini meninggalkan banyak pertanyaan yang menggugah rasa ingin tahu, dan bahkan sebagian diantaranya masih terselimuti kabut misteri hingga kini. Mengapa tujuh Jenderal itu dibunuh? Bagaimana kronologinya? Siapa dalang dibaliknya? benarkah hanya PKI?. Layaknya sebuah kisah detektif misteri, saat membacanya kita akan dibuat tegang dan penasaran sampai ke alam mimpi.
Sumbangsih terbesar dalam menguak tabir misteri tersebut berasal dari Magnum Opusnya Prof. Salim Haji Said, sebuah buku berjudul Dari Gestapu ke Reformasi. Tulisan ini sekedar ikhtiar membuat ikhtisar dari buku tersebut, namun karena tidak memungkinkan untuk merekonstruksi secara utuh dalam berlembar halaman saja, penulis hanya akan mengambil sudut pembahasan dari latar belakang dan hubungan-hubungan para tokoh atau pihak sentral peristiwa tersebut dengan Bung Karno sebagai pusaran intrik, dan mencoba menjawab pertanyaan mengapa peristiwa Gestapu ini dapat terjadi dan siapa sutradara dibaliknya.
Gestapu adalah sebuah penghujung dari rangkaian konflik politik dan gesekan antara Angkatan Darat melawan PKI di kanan-kiri Bung Karno, konflik ini adalah awal mula sejarah ini mesti diceritakan, karenanya penulis akan mulai dari situ sambil berharap pembaca untuk sedikit bersabar.

Angkatan Darat yang Anti Komunis PKI

Perlu dipahami sebelumnya, tidak seperti sekarang, ketika supremasi sipil dapat ditegakkan, pada November 1958, setahun sebelum Dekret Presiden yang menandai perubahan Ideologi Politik Negara dari Demokrasi Liberal menjadi Demokrasi Terpimpin, Angkatan Bersenjata (ABRI) telah dimasukkan ke dalam Golongan Karya yang artinya mereka punya hak di kabinet dan parlemen, atau kita kenal kemudian sebagai dwifungsi ABRI (fungsi pertahanan Negara dan fungsi politik/partai). Dwifungsi ABRI ini kemudian ditinggalkan sejak Reformasi sampai sekarang ini.
Dengan kewenangan berpolitiknya ini, Angkatan Darat yang merupakan bagian utama ABRI memosisikan diri sebagai  partai tandingan dan satu-satunya bagi PKI, dikarenakan Partai besar lainnya, Masyumi dan PSI, dibubarkan oleh Bung Karno pada 1960 dengan tuduhan keterlibatan atas pemberontakan PRRI/Permesta, dan sedangkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut hanya sendiko dawuh saja pada Presiden Sukarno yang menganakemaskan PKI.
Selanjutnya, berdasarkan cara Angkatan Darat berkonfrontasi dengan PKI, dalam tubuh organisasi militer tersebut terdapat tiga kubu yang berbeda, Yaitu kubu KSAB (Kepala Staf Angkatan Bersenjata) Jenderal TNI Abdul Haris Nasution, KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) Jenderal TNI A. Yani, dan Pangkostrad Mayor Jenderal TNI Soeharto.
Sebagai Perwira yang amat senior dan pernah menjadi Wakil Panglima Besar Soedirman, Jenderal AH. Nasution sangat lantang menyerang PKI sekaligus mengkritik Sukarno yang semakin mesra dengan PKI, hal ini merupakan alasan mengapa Bung Karno Pada tahun 1962 “menyingkirkannya” dengan mengangkatnya dari KSAD menjadi KSAB agar tidak memiliki garis komando ke tubuh Angkatan Darat, menggantinya dengan Jenderal Yani yang Sukarno kira “mudah dikendalikan” namun ternyata juga tidak.
Jenderal Yani merupakan perwira yang anti komunis namun setia kepada Bung Karno, kesetiaan ini bahkan pernah akan ditunjukkan olehnya dengan mendaulat (menculik dan mencopot jabatan) Jenderal Nasution, namun atas bujukan perwira-perwira senior lainnya, rencana itu urung dilaksanakan. Ketidaksukaannya terhadap komunis pernah ia ungkapkan dalam pidato berbahasa Belanda dihadapan para perwiranya yang artinya “Bung Besar boleh memiliki banyak kekasih lain siapapun itu, namun kalau Bung Besar bermain mata dengan Komunis, maka dia harus berhadapan dengan Angkatan Darat”.
Adapun Mayjen Soeharto adalah Panglima Kostrad (Komando Setrategis Angkatan Darat), waktu itu tidak banyak yang mengenalnya. Sebelum Gestapu, sikap kelompok Soeharto terhadap PKI sulit untuk dicium, kendati demikian, tidak diragukan tentang sikap anti komunisnya sebab Pangdam Diponegoro Brigjen Soeharto (pangkatnya waktu itu) pernah dimarahi oleh Sukarno karena berani mengingatkan Sang Presiden mengenai bahaya komunis. Ini terjadi setelah kemenangan PKI pada pemilu daerah Jateng dan Jatim pada 1957. Dia juga yang meredam pemberontakan PKI pimpinan Muso di Madiun tahun 1948 atas perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Soeharto sebetulnya lebih senior dari A. Yani ketika keduanya masih di Kodim Diponegoro, namun ia tidak disenangi oleh Sukarno sehingga karirnya terhambat.

Kedekatan Bung Karno dengan PKI dan Kerancuan Doktrin Nasakom

Kedekatan Sukarno pada PKI nampak dari banyaknya anggota partai palu arit itu yang masuk ke dalam jajaran pemerintahan, kebijakannya juga semakin meminggirkan organisasi atau komunitas yang secara terang mengaku anti komunis, Misalnya membredel banyak media cetak anti komunis - di tengah maraknya surat kabar milik PKI seperti Harian Rakyat - dan melarang Manifes Kebudayaan yaitu perkumpulan seniman-seniman senior untuk menandatangi pernyataan anti komunis, Pelarangan ini menyebabkan seniman-seniman tersebut mengalami persekusi dan diskriminasi di berbagai tempat.
Dalam setiap pidato, khususnya pasca Dekret Presiden 59, Bung Karno selalu mengidentifikasikan dirinya sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan penyambung lidah rakyat, dan senantiasa mengampanyekan semangat kerukunan baru yaitu Nasakom, Nasionalis Agamis dan Komunis. Nasakom ini juga merupakan jargon kampanye Presiden di kancah politik internasional, menjadi bagian implementasi gerakan Non-Blok atau politik bebas aktif. Sukarno berharap diterima oleh negara-negara dunia ketiga (yang sebagian besar bermazhab Komunis) dan kemudian muncul sebagai pemimpin kekuatan tandingan baru bagi dua Negara Adi Daya di masa Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di kemudian hari setelah peristiwa Gestapu, ambisi Sukarno inilah yang menjadi sebab keengganannya membubarkan PKI.
Namun persatuan berdasarkan Nasakom ini menuai polemik, sebuah keliru besar meyakini gagasan ini dapat merukunkan bangsa, sudah maklum diketahui bahwa Komunisme tidak mengakui adanya Tuhan (Atheis) dan menganggap Agama adalah candu, lantas bagaimana mungkin Agamis dan Komunis dapat dirukunkan kalau seseorang menjadi Agamis sama dengan menjadi anti komunis sebab komunis tidak mengakui adanya Tuhan, Sedangkan menjadi Komunis sama artinya menjadi anti Agama karena Agama adalah candu menurut mereka?.
Ironisnya kemudian, Orang-orang Komunis PKI yang terang-terangan menyerang kelompok Agamis di biarkan begitu saja oleh Sukarno, sedang orang-orang Nasionalis apalagi Agamis yang vokal menentang pemikiran Komunis justru dianggap anti Nasakom, dan tidak paham semangat Revolusi oleh Sukarno, Sang Pemimpin Besar Revolusi.
Apa yang terjadi di atas tak lepas karena bagi Sukarno sendiri, PKI bukan hanya salah satu pilar Nasakom, melainkan juga sebuah kekuatan politik yang dimanfaatkannya mengimbangi Angkatan Darat, Sukarno yang tidak lagi memiliki partai sadar betul akan mudah menjadi “sandera” para Jenderal jika tidak memiliki kekuatan pengimbang yang berdiri dibelakangnya.

Ketidakpercayaan Presiden Sukarno terhadap Angkatan Darat

Oleh karena kecenderungan Presiden kepada PKI, dan semangat Nasakom-nya yang rancu, Angkatan Darat yang Anti komunis dianggap Presiden Sukarno sebagai anak revolusi yang membangkang terhadap Pemimpin Besar Revolusi, bukan hanya terhadap Kubu KSAB Jenderal Nasution, namun juga kapada KSAD Jenderal A. Yani.
Selain itu, sikap Jenderal Yani yang terkesan “setengah-setengah” dengan tidak mengirimkan kekuatan penuh militernya ke perbatasan serawak, ketika Sukarno menggaungkan Ganyang Malaysia sebagai program anti-Nekolimnya (Neo Kolonialisme Imperialisme), membuat Sukarno semakin tidak mempercayainya, padahal dalam sebuah kesempatan dihadapan para perwira senior, Jenderal Yani mengaku cemas andai kekuatan penuh TNI AD dikirim ke serawak, tidak ada cukup pasukan di Pulau Jawa untuk menghadapi PKI jika terjadi perebutan kekuasaan, “Saya tidak ingin RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang disebut Kopassus) terlibat dalam konfrontasi - dengan Malaysia -” kata Yani. “Saya tidak punya pasukan lain”, tambahnya.
Hal ini semakin diperparah oleh beredarnya Dokumen Gilchrist, sebuah Dokumen rahasia yang dicetak dalam lembaran kertas bertanda kedutaan Besar Inggris di Jakarta, yang isinya menyebutkan adanya Dewan Jenderal di Republik Indonesia yang berencana melakukan kudeta. Oleh PKI Dokumen ini dijadikan isu utama untuk menyerang para Jenderal dan menuduh mereka bekerjasama dengan CIA, sembari terus membisiki Sukarno untuk melakukan tindakan tegas pada para Jenderal tersebut. Di kemudian hari terungkap bahwa Dokumen tersebut palsu, dibuat oleh Ladislav Bittman, seorang intel Cekoslowakia yang bekerja untuk dinas rahasia Uni Soviet, KGB.

Gestapu, Skenario Awal dan Kegagalannya

Presiden yang makin kewalahan menghadapi Angkatan Darat - dicurigai akan melakukan tindakan subversif, terus menolak Nasakom dan tidak secara serius melakukan konfrontasi dengan Malaysia malahan sibuk mengatur barisan kaum anti komunis - mendorong sang Presiden tiba pada kesimpulan untuk tidak punya pilihan lain, kecuali mencopot Jenderal Yani. Namun karena Presiden tidak cukup percaya diri dapat melakukan pencopotan dengan cara biasa - karena sistem pergantian komandan belum tercipta dan mengingat solidnya loyalitas tentara dengan komandannya, Jenderal Yani – opsi pencopotan dengan cara daulat dalam bentuk penculikan menjadi keputusan Presiden.
Sebuah tradisi pada zaman revolusi, adalah daulat, mendaulat dan pendaulatan yang sering muncul dalam bentuk penculikan seorang tokoh politik untuk tujuan tertentu. Yang paling mencolok tentu penculikan Sukarno Hatta oleh pemuda secara “sedikit memaksa” menuju Rengas Dengklok agar didaulat mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan. Dari sini dapat dipahami, rencana penculikan Para Jenderal yang menjadi skenario Presiden adalah mencopot jabatannya dan menggantinya dengan perwira yang loyal terhadap visi Nasakom dan Anti Nekolim-nya, bukan untuk sebuah pembantaian.
Tugas ini dibebankan pada Komandan Cakrabirawa (saat ini dinamai Paspampres), pengawal presiden sendiri yaitu Letkol Untung, dan dibantu oleh Kononel Latif, dan Brigjen TNI Supardji. Namun kemudian rencana gubahan Presiden tersebut menjadi seperti ember Muhafadzoh kalian (bocor maksude, rek), terdengar oleh Kepala Biro Khusus PKI, Syam Kamaruzaman. Ini dapat mudah dimaklumi sebab Letkol Untung merupakan perwira beraliran kiri yang sudah lama menjadi tentara binaan Syam, yang PKI biasa sebut sebagai “perwira berpikiran maju”.
Ketua Umum PKI, DN. Aidit yang sudah lama berambisi menyingkirkan saingan politiknya, ketika mendengar info rencana Presiden tersebut dari Syam, segera menyusun rencana untuk menumpang ke dalam operasi tersebut, dengan menargetkan bukan hanya KSAD Jenderal A. Yani, namun ketujuh Jenderal yang memobilisasi kekuatan anti komunis. Sebab itu, dapat mudah kita ketahui kenapa Mayjen Soeharto tidak dijadikan target operasi oleh PKI, mengingat sikapnya yang seolah tidak nampak menjadi ancaman bagi PKI.
Tentunya rencana Aidit itu bukan pula berupa pembantaian, sebab membunuh para Jenderal hanya akan menjadi alasan bagi tentara dan kekuatan anti komunis lainnya untuk beramai-ramai mengeroyok dan menghancurkan PKI, seperti terbukti kemudian. Oleh karenanya, ketika skenario awal Gestapu baik dari Sukarno maupun Aidit adalah penculikan saja, maka Gestapu yang menjadi ajang pembantaian para Jenderal tersebut “hanya” dapat dipahami sebagai sebuah operasi militer yang gagal (atau disengaja untuk digagalkan) dan berakhir pada pembunuhan.
Penyebab kegagalan ini tidak lain karena Aidit menugaskan Syam, seorang sipil yang tidak memilik pengalaman militer - meski mengaku pernah mengenyam pelatihan militer di Tiongkok namun kemudian tidak ditemukan buktinya - untuk menjadi kepala operasi strategis militer yang tentunya membutuhkan kecakapan di bidangnya. Bukti kacaunya operasi Gestapu diantaranya adalah para perwira yang terjun untuk menculik Jenderal Nasution, tidak mampu mengenali wajahnya sehingga kemudian Kapten Pierre Tendean yang merupakan ajudan Jenderal Nasution harus meregang nyawa karena salah sasaran.

Analisa Mengenai Keterlibatan Presiden

Siapakah sutradara Gestapu sebenarnya? Diantara pilihan jawabannya (yakni PKI Aidit, Sukarno, Suharto, atau CIA/agen asing?) tentu sampai di sini pembaca dapat menjawab; Sukarno, yang didompleng PKI. Ini mungkin berbeda dengan pengetahuan umum di masyarakat, namun apa yang tertulis adalah berdasarkan penelusuran berpuluh-puluh tahun dari seorang wartawan lapangan yang meliput secara langsung dan seorang pakar politik militer, Prof. Salim Said. Mengenai keterlibatan Sukarno ini, tentunya beliau memiliki landasan fakta dan analisa yang kuat.
Beberapa jam sebelum operasi Gestapu dilaksanakan, Presiden menerima kunjungan dari India, seorang pilot yang juga pernah menjadi utusan pribadi Perdana Menteri Jawahral Nehru, Shri Biju Patnaik. Maksud kunjungan itu adalah lobi politik India berkaitan dengan konflik India-Pakistan, menjelang akhir pertemuan, setelah Sukarno berjanji untuk tidak membantu Pakistan menyerang India, Patnaik diminta Sukarno agar meninggalkan Jakarta sebelum subuh, “sesudah itu saya akan menutup lapangan terbang”, kata sukarno. Pertanyaannya, mengapa dan buat apa lapangan Kemayoran akan ditutup oleh Sukarno setelah subuh esok harinya?
Terdapat pula satu sumber yang mengungkapkan kecurigaan terhadap Presiden di masa-masa awal pasca Gestapu, yaitu desakan dari Letkol Untung saat ditangkap untuk diperhadapkan langsung kepada Sukarno, ia percaya dan berharap Presiden akan mengerti dan memaafkan dirinya.
Lalu apakah sebenarnya Sukarno itu seorang Komunis?, sama sekali bukan. Dr. Ruslan Abdulgani, mantan Jubir Manipol Usdek dan orang dekat Bung Karno sejak zaman Revolusi menjelaskan;
“Bung Karno adalah seorang Nasionalis sejati, namun ia terlalu over confidence (percaya diri) mampu mengontrol PKI, lagi pula pengetahuan Bung Karno tentang Komunisme dasarnya adalah Komunisme masa mudanya, yakni yang mendorongnya merumuskan ideologi Nasakom, Komunisme waktu itu adalah alat melawan kolonialisme, bukan Komunisme pada zaman Perang Dingin seperti sekarang. Pada zaman perjuangan Nasional dulu, semua kekuatan dan golongan bisa diajak bersatu melawan kolonialisme, Sekarang ceritanya beda lagi, tapi Bung Karno masih tetap gandrung pada persatuan berdasarkan Nasakom”
Presiden pertama Indonesia ini memang semakin tua dan sakit-sakitan, telah kehilangan intuisi politiknya, tidak mampu membedakan mana yang menjadi ancaman bangsa dan mana yang bukan, yang mana kawan dan mana lawan, dan mudah diperdaya dan diperalat PKI yang menggerogoti bangsa dari dalam.

Akhiran

Sempitnya ruang menyebabkan tulisan ini sedikit banyak tampak menyudutkan Sukarno, dan seolah menutup mata akan keterlibatan Soeharto atau pihak asing, padahal tidaklah demikian dalam buku aslinya, oleh sebab itu, dapat menimbulkan persepsi dan kesimpulan yang berbeda antara pembaca budiman yang belum dan yang sudah mengkhatamkan buku aslinya. Banyak pula fakta-fakta menarik yang tidak sempat penulis cantumkan, termasuk yang menjadi landasan kecurigaan akan keterlibatan Soeharto, atau pihak asing, meskipun sayangnya belum memiliki cukup bukti, juga misteri dan keganjilan demi keganjilan lain yang belum dapat ditemukan jawabannya oleh Prof. Salim Said.
Pada akhirnya, merekomendasikan buku aslinya adalah sebuah keharusan.
wallahu a’lam bis showab… .

Sunday, September 27, 2020

Catatan kunjungan Gus Baha’ ke Madura ( belajar menghormati guru dari seorang Gus Baha’)

* Catatan kunjungan Gus Baha’ ke Madura ( belajar menghormati guru dari seorang Gus Baha’)

Sebuah “kaidah alam” yang bukan rahasia lagi, bahwa di balik kemuliaan luar biasa yang dicapai seseorang, pasti ada penghormatan dan tadhim yang juga luar biasa kepada seorang guru

Bagaimana seorang Sayyidina Abu Bakar menangis haru ketika mendapat izin untuk mengawal hijrah Rasulullah padahal harta bahkan nyawa adalah taruhannya. beliau menganggap “khidmah” adalah sebuah anugrah tak terkira, alih-alih menganggapnya sebagai beban atau bahan keluhan seperti realita banyak santri di era kita ini.

Bagaimana seorang Imam Subki turun dari Onta yang dinaikinya setelah mengetahui bahwa orang “baduwi” penuntun ontanya pernah menghadiri pengajian Imam Nawawi.

Bagaimana seorang Syaikhona Kholil sampai rela turun dari sebuah delman karena “khawatir” kuda delman itu adalah salah satu dari keturunan kuda gurunya Syaikh Abdul Ghani Bima, dan bagaimana beliau sangat menghormati guru beliau Syaikh Abdul Adhim An-Naqsyabandi bahkan setelah Syaikhona wafat dan berpindah ke alam barzakh.

“ tadi ketika saya mau ziarah ke makam Syaikhona Kholil, tiba-tiba di depan gang saya “diusir” oleh beliau, beliau menyuruh saya untuk berziarah dulu ke makam Gurunya Syaikh Abdul Adhim “ jawab seorang Waliyyullah al-Mursyid Habib Muhsin Al-Hinduan Sumenep ketika ditanya mengapa beliau kembali di tengah jalan sebelum sampai ke Makam Syaikhona Kholil.

Bagaimana raut wajah Habib Umar akan berubah khusuk dan penuh Tadhim setiap kali siaran radio di mobil beliau memutar ulang rekaman pengajian guru beliau Habib Abdul Qodir Assegaf, bagaimana seorang Habib Mundzir al-Musawa akan segera turun dari kursi lantas bersimpuh di lantai ketika mendapat telpon dari gurunya Habib Umar Bin Hafidz meski jarak sang guru ribuan kilometer di Tarim Hadhramaut sana.

Dan masih banyak bukti-bukti nyata lainnya. Pun begitu dengan Gus Baha’, meski kealiman dan kegeniusan beliau adalah sisi yang banyak dikenal dan diekspos selama ini, dari dulu saya sudah curiga, bahwa dibalik kemuliaan luar biasa yang beliau dapatkan saat ini pasti ada penghormatan luar biasa juga kepada para guru beliau.

Selama ini kita mengetahui hormat dan kefanatikan beliau kepada Mbah Yai Maimun Zubair, itu sudah bukan rahasia lagi. Tapi kunjungan beliau Madura kemarin membuat saya mengetahui sisi “tadhim” lain dari seorang Gus Baha’.

Seperti biasa, destinasi yang wajib dikunjungi beliau pertama kali ketika menginjakkan kaki di bumi Madura adalah Makam Syaikhona Kholil, beliau seakan ingin mengajarkan kita satu adab : kalo mau bertamu ke suatu tempat, sowan dulu ke tuan rumahnya, ke shohibul wilayahnya, jangan asal “nyelonong” masuk begitu saja. Saya tidak sempat mengawal Gus Baha’ di Bangkalan, tapi melalui “orang dalam” yaitu dua murid kinasih beliau Habib ( Sodiq alkhered dan Muhammad Ismail Al-Ascholy ) saya mendapat info bahwa Gus Baha’ sedang menuju salah satu pesantren di Kota Sampang yang namanya mungkin masih asing di telinga masyarakat Madura : PP. Bustanul Huffadz As-Saidiyah.  Saya awalnya bertanya-tanya, di tengah jadwal padatnya, untuk apa beliau rela meluangkan waktunya untuk berkunjung ke sebuah tempat ?

Saya sampai di pondok Bustanul Huffadz sekitar jam 16:30 Wib, ketika itu Gus Baha’ dan rombongan sudah ada di dalam bersama pengasuh. saya masuk, Gus Baha’ mempersilahkan saya untuk duduk di dekat beliau. Jika dulu beliau selalu menanyakan :

“ mengapa nikah kok jauh-jauh ke Yaman ? “

Kali ini beliau bertanya :

“ katanya sekarang udah jadi artis ? “

Saya tersenyum tanpa jawab, dalam hati saya berkata :

“ jauh lebih artisan panjenengan Gus 😅”

Bagi saya seorang Gus Baha’ adalah sebuah fenomena, ketika keviralan beliau tak kalah dengan para artis dan para tokoh, Ceramah-ceramah beliau bahkan ditonton jutaan kali di Youtube, tapi beliau seakan tak peduli dengan semua itu. Terbukti sampai sekarang - disaat orang-orang berlomba-lomba untuk membeli Hp Iphone atau Android terbaru - beliau justru masih tetap memakai hp Nokia Simbian jadul yang mungkin sudah gak layak jual atau bahkan sudah punah di pasaran. Beliau gak punya Fb, Wa, apalagi Instagram.

Pada akhirnya saya tau, bahwa ternyata beliau berkunjung ke pondok itu bukan untuk mengisi seminar atau ceramah, melainkan untuk silaturrahmi sekaligus hurmat dan tabarruk. Apakah beliau pernah ngaji disana ? Tidak ! Jadi begini ceritanya :

Gus Baha’ mempunyai Sanad al-Quran melalui jalur ayahnya Kh. Nur Salim, Kh. Nur Salim mengambil sanad dan berguru kepada Kh. Abdullah Salam Kajen, dan Kh. Abdullah Salam berguru kepada Kiai Said Ismail pendiri pondok yang Gus Baha’ kunjungi.

Jadi kunjungan Baha’ bukan dalam rangka hurmat kepada guru (langsung) beliau tapi guru dari guru ayah beliau ! Kiai Said sendiri ternyata memang dikenal sebagai seorang ahli quran yang banyak mencetak ulama-ulama besar seperti Kh. Hasan Askari (Mbah Mangli) Kh. Abdullah Salam dan masih banyak murid beliau lainnya. Gus Baha sendiri pernah mengatakan bahwa Kiai Said adalah seorang ulama kelahiran Mekkah yang sudah hafal Quran sebelum usia baligh, dan ketika disebut nama Syaikh Said dalam Sanad Quran maka yang dimaksud adalah Kiai Said Sampang.

Pada acara di Sumenep kemarin, Gus Baha’ juga menyampaikan :

“ saya ini punya komitmen dari dulu untuk tetap istiqomah membaca kitab-kitab Mbah Mun, bersama santri saya juga Muhibbin. Saya tidak mau menjadi “tersangka” seorang santri yang menyia-nyiakan ilmu gurunya “ beliau lalu menukil komentar Imam Syafi’i :

الليث أفقه من مالك و لكن ضيعه أصحابه

“ Imam Laits itu lebih Alim fiqh daripada Imam Malik. Hanya saja ilmu beliau disia-siakan oleh murid-muridnya “ ( tidak ada yang memperhatikan dan membukukan ilmu-ilmu beliau sehingga madhzab beliau menjadi punah )

Dari Gus Baha’ dan para guru kita.. kita belajar bahwa kunci kemuliaan memanglah banyak, “ atthuruq ilallah bi adad anfasil kholaiq”  ucap seorang ulama, jalan menuju Allah ada sangatlah banyak sebanyak nafas para mahluk. Tapi bagi ia yang telah mengikrarkan dirinya sebagai seorang murid dan santri, kunci kemuliaan dunia-akhiratnya hanya ada pada tadhim dan cintanya kepada para guru. Persis seperti sebuah kalam yang dinukil oleh Mbah Hasyim Asyari dalam “Adabul alim wal muta’allim “

" الذي لا يعتقد جلالة أستاذه لا يفلح "

“ orang yang tak pernah meyakini keagungan dan kemuliaan gurunya ia tak akan pernah hidup beruntung dan bahagia “

Juga persis seperti pesan indah dari Sulthonul Awliya’ Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani :

" من أراد الفلاح فليصر ترابا تحت أقدام الشيوخ "

“ barang siapa yang menginginkan kebahagiaan (dunia-akhirat) maka jadilah ia debu di bawah telapak kaki para guru “

Mereka sudah melakukan dan membuktikan, tinggal kita ? Ingin memilih jalan yang mana ?

* Ismael Amin Kholil, Bangkalan , 25 September, 2020

Menjelang tgl 30 September G30S PKI

Menjelang tgl 30 September

G30S PKI

*INILAH SEJARAH YANG TIDAK BOLEH DILUPAKAN OLEH KITA SEMUA*

*Tgl 31 Oktober 1948 :*
Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH. Lukman dan Nyoto pergi ke Pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

*Akhir November 1948 :*
Seluruh Pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan Seluruh Daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain :
1. Ponorogo,
2. Magetan,
3. Pacitan,
4. Purwodadi,
5. Cepu,
6. Blora,
7. Pati,
8. Kudus, dan lainnya.

*Tgl 19 Desember 1948*
Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

*Tahun 1949 :*
PKI tetap Tidak Dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan Rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

*Awal Januari 1950 :*
Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan Pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengidentifikasi Para Korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 Kerangka Mayat yg 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 Kerangka Mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para Korban berasal dari berbagai Kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

*Tahun 1950 :*
PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

*Tgl 6 Agustus 1951 :*
Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua Senjata Api yang ada.

*Tahun 1951 :*
Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

*Tahun 1955 :*
PKI ikut Pemilu Pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

*Tgl 8-11 September 1957 :*
Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang–Sumatera Selatan Mengharamkan Ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua Mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

*Tahun 1958 :*
Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan Pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI.

*Tgl 15 Februari 1958 :*
Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi Mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun Pemberontakan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

*Tanggal 11 Juli 1958 :*
DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

*Bulan Agustus 1959 :*
TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun Kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

*Tahun 1960 :*
Soekarno meluncurkan Slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

*Tgl 17 Agustus 1960 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustus 1960 tentang "PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia)" dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam Pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

*Medio Tahun 1960 :* Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 Juta orang.

*Bulan Maret 1962 :*
PKI resmi masuk dalam Pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

*Bulan April 1962 :*
Kongres PKI.

*Tahun 1963 :*
PKI Memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara” melawan Malaysia.

*Tgl 10 Juli 1963 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

*Tahun 1963 :*
Atas desakan dan tekanan PKI terjadi penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain :
1. KH. Buya Hamka,
2. KH. Yunan Helmi Nasution,
3. KH. Isa Anshari,
4. KH. Mukhtar Ghazali,
5. KH. EZ. Muttaqien,
6. KH. Soleh Iskandar,
7. KH. Ghazali Sahlan dan
8. KH. Dalari Umar.

*Bulan Desember 1964 :*
Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

*Tgl 6 Januari 1965 :*
Atas Desakan dan Tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1/KOTI/1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah Memfitnah PKI.

*Tgl 13 Januari 1965 :*
Dua Sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) Menyerang dan Menyiksa Peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan Pelajar Wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mushaf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

*Awal Tahun 1965 :*
PKI dengan 3 Juta Anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

*Tgl 14 Mei 1965 :*
Tiga Sayap Organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut Perkebunan Negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dgn Menangkap dan Menyiksa serta Membunuh Pelda Soedjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

*Bulan Juli 1965 :*
PKI menggelar Pelatihan Militer untuk 2000 anggota'y di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”Mempersenjatai Rakyat untuk Bela Negara”.

*Tgl 21 September 1965*:
Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

*Tgl 30 September 1965 Pagi :*
Ormas PKI Pemuda Rakyat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

*Tgl 30 September 1965 Malam :*
Terjadi Gerakan G30S/PKI atau disebut  GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) : PKI Menculik dan Membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA Halim, mereka adalah :
1. Jenderal Ahmad Yani,
2. Letjen R.Suprapto,
3. Letjen MT.Haryono,
4. Letjen S.Parman,
5. Mayjen Panjaitan dan
6. Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.
PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh Aiptu Karel Satsuitubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan Rumah Jenderal AH. Nasution.
PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal AH. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, *Ade Irma Suryani Nasution*, yang berusaha menjadi Perisai Ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.
G30S/PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu :
1. Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan
2. Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta
3. Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.
Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah Perwira ABRI (TNI/Polri) dari berbagai Angkatan, antara lain :
*Angkatan Darat :*
1. Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro,
2. Brigjen TNI Soepardjo dan
3. Kolonel Infantri A. Latief.
*Angkatan Laut :*
1. Mayor KKO Pramuko Sudarno,
2. Letkol Laut Ranu Sunardi dan
3. Komodor Laut Soenardi.
*Angkatan Udara :*
1. Men/Pangau Laksda Udara Omar Dhani,
2. Letkol Udara Heru Atmodjo dan
3. Mayor Udara Sujono.
*Kepolisian :*
1. Brigjen Pol. Soetarto,
2. Kolonel Pol. Imam Supoyo dan
3. Letkol Pol Anwas Tanuamidjaja.

*Tgl 1 Oktober 1965 :*
PKI di Yogyakarta juga Membunuh :
1. Brigjen Katamso Darmokusumo dan
2. Kolonel Sugiono.
Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil Alih Kekuasaan.

*Tgl 2 Oktober 1965 :*
Letjen TNI Soeharto mengambil alih Kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dari PKI.

*Tgl 6 Oktober 1965 :*
Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha Melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan Terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

*Tgl 13 Oktober 1965 :*
Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di Seluruh Jawa.

*Tgl 18 Oktober 1965 :*
PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk Pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah Keracunan mereka di Bantai oleh PKI dan Jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa/Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi Saksi Mata peristiwa. Peristiwa Tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

*Tgl 19 Oktober 1965 :* Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

*Tgl 11 November 1965 :*
PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tgl 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta di Hukum Mati.

*Bulan Desember 1965 :*
Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

*Tgl 11 Maret 1966 :*
Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Letjen TNI Soeharto untuk mengambil langkah Pengamanan Negara RI.

*Tgl 12 Maret 1966 :*
Soeharto melarang secara resmi PKI.

*Bulan April 1966 :*
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

*Tgl 13 Februari 1966 :*
Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan :
*”Di Indonesia ini tidak ada partai yang Pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar Partai Komunis Indonesia…”*

*Tgl 5 Juli 1966 :*
Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS–RI Jenderal TNI AH. Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran Paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

*Bulan Desember 1966 :*
Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi Hukuman Mati pada tahun 1967.

*Tahun 1967 :*
Sejumlah Kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di wilayah terpencil di Blitar Selatan bersama Kaum Tani PKI.

*Bulan Maret 1968 :*
Kaum Tani PKI di Blitar Selatan menyerang para Pemimpin dan Kader NU, sehingga 60 (enam puluh) Orang NU tewas dibunuh.

*Pertengahan 1968 :*
TNI menyerang Blitar Selatan dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

*Dari tahun 1968 s/d 1998*
Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasiya dilarang di Seluruh Indonesia dgn dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966. Dari tahun 1998 s/d 2015

*Pasca Reformasi 1998*
Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari Penjara, beserta keluarga dan simpatisanya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan Fakta Sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN Pejuang Kemerdekaan RI. Sejarah Kekejaman PKI yang sangat panjang, dan jangan biarkan mereka menambah lagi daftar kekejamanya di negeri tercinta ini.

Semoga Tuhan YME senantiasa melindungi kita semua

*BAGIKAN SEJARAH INI.*
*JADIKAN PELAJARAN*
*BUAT GENERASI YANG AKAN DATANG*

🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇲🇨🇮🇩

Saturday, September 26, 2020

KISAH WANITA CANTIK DAN SI PANDAI BESI.

KISAH WANITA CANTIK DAN SI PANDAI BESI.

Sebagian Ulama menceritakan:

Ada seorang lelaki pandai besi. Dia mampu memasukkan tangannya pada api dan mengeluarkan besi yang menyala-nyala, namun dia tidak merasakan panasnya api.

Lalu dia didatangi seorang lelaki untuk membuktikan berita itu. Setelah melihat dan menyatakan apa yang didengarnya, lalu lelaki itu menunggu hingga pandai besi itu merampungkan pekerjaannya. Setelah selesai, ia terus mengucapkan salam dan pandai besi itu membalasnya.

“Aku ingin menjadi tamu engkau pada malam ini,” kata lelaki itu.

“Dengan senang hati dan penuh kehormatan,” jawab pandai besi.

Kemudian lelaki itu diajak pulang ke rumah pandai besi, ia dijamu dengan makanan khas sore hari dan bermalam bersama si pandai besi. Ternyata, dalam penelusurannya, si pandai besi tidak beribadah kecuali mendirikan shalat fardhu dan tidur hingga subuh.

“Mungkin si pandai besi itu menutupi ihwalnya terhadapku pada malam ini,” gumam lelaki itu dalam hatinya.

Lelaki itu lalu bermalam satu malam lagi. Ternyata pandai besi itu masih seperti biasa, tidak menambah ibadah sama sekali kecuali mendirikan shalat fardhu.

Melihat hal demikian, lelaki tersebut akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai saudaraku, aku telah mendengar bahwa engkau diberi kemuliaan oleh Allah dan aku pun melihat sendiri kemuliaan itu. Namun aku merenung, karena tidak melihat banyaknya amal yang engkau lakukan. Engkau tidak beramal selain shalat fardhu. Dari mana engkau memperoleh kemuliaan seperti itu (memegang besi dibakar tidak merasakan panas)?”

Akhirnya si pandai besi tersebut menjawab, “Wahai saudaraku, aku ini mengalami cerita yang aneh dan perkara yang jarang terjadi. Ceritanya begini:

Aku mempunyai tetangga wanita cantik, aku pun sangat mencintainya. Berkali-kali tidak berhasil mendapatkan wanita itu, karena dia menjaga dirinya dengan memelihara kehormatan diri.

Lalu pada suatu masa, timbul musim paceklik (kesulitan makanan) yang mana seluruh orang merasa lesu. Saat aku duduk di rumah. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk-ketuk pintu. Aku pun keluar sambil berkata, “Siapa itu?”.

Tiba-tiba wanita cantik itu berdiri di pintu seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku sangat lapar. Apakah anda dapat memberi makan padaku karena Allah?”

“Aku tidak dapat memberikan makanan padamu, kecuali jika engkau menyerahkan dirimu padaku. Apakah engkau tidak tahu apa yang ada dalam hatiku? Apakah kamu tidak tahu kalau aku mencintaimu?” jawabku.

“Aku memilih mati daripada durhaka kepada Allah.” sahut wanita itu. Akhirnya ia pun kembali ke rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali kepadaku dan mengatakan kepadaku seperti dahulu. Lalu aku jawab seperti yang lalu. Kemudian wanita itu masuk dan duduk di dalam rumahku dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Aku pun meletakkan makanan di depannya. Melihat apa yang aku lakukan, maka matanya mencucurkan air mata seraya berkata, “Apa makanan ini karena Allah?”

“Tidak, syaratnya engkau harus menyerahkan dirimu kepadaku.” jawabku.

Wanita itu lalu berdiri dan sama sekali tidak mau makan, ia kemudian pulang menuju rumahnya.

Selang dua hari kemudian, datang kembali mengetuk pintu. Aku keluar sedangkan ia berdiri di depan pintu. Suaranya terputus-putus karena kondisi yang kelaparan dan punggungnya telah lemah, seraya berkata, “Wahai saudaraku, aku telah berupaya tidak bisa datang kepada selain engkau. Apakah engkau dapat memberi makanan kepadaku karena Allah?”.

“Iya, jika kamu mau menyerahkan dirimu padaku.” jawabku.

Wanita itu akhirnya mau memasuki rumahku dan duduk di dalamnya. Ketika itu, aku tidak mempunyai makanan. Saya berdiri, menyalakan api untuk memasakkan makanan buat wanita itu. Setelah makanan saya letakkan di hadapannya, belas kasihan Allah menemuiku.

“Celaka engkau hai diriku ini, wanita ini kurang akalnya, kurang agamanya, tidak memakan yang bukan miliknya. Dia berulang kali datang ke rumahmu karena sakit kelaparan, tetapi dirimu tidak mau menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah Ta’ala. Ya Allah, aku bertaubat pada-Mu dari perbuatan dosa yang kulakukan. Aku tidak akan mendekati wanita itu selama-lamanya,” gumamku dalam hati.

Kemudian aku menjumpai wanita itu, tetapi ia tetap tidak mau makan.

“Makanlah, tak perlu takut. Sebab makanan ini aku berikan karena Allah” kataku.

Setelah wanita itu mendengar ucapanku, lalu ia mengangkat kepalanya ke langit seraya berdo’a, “Ya Allah, jika lelaki itu benar ucapannya, semoga Engkau mengharamkan api untuk orang ini di dunia dan akhirat.”

Wanita itu lalu kubiarkan untuk melanjutkan makan. Karena pada saat itu musim penghujan, aku hendak memadamkan api. Ternyata kakiku menginjak bara api, tetapi tidak terasa panas dan tidak membakar kakiku.

Ketika aku menemui wanita yang sedang makan, rasa senang terpancar dari wajahnya. Aku pun berkata, “Bergembiralah engkau karena Allah telah mengabulkan do’amu”.

Wanita itu tetap melahap suapan makanan dari tangannya. Setelah selesai memakan semua makanan, ia bersujud syukur karena Allah dengan berdo’a, “Ya Allah, Engkau telah berkenan memperlihatkan kepadaku apa yang menjadi maksudku kepada lelaki itu. Semoga Engkau berkenan mencabut nyawaku saat ini.”

Maka Allah mencabut nyawa wanita itu dalam keadaan bersujud. Inilah ceritaku wahai saudaraku, Allah Maha Mengetahui”.

______________

Disarikan dari karya Syekh Nawawi Banten yang berjudul Uqud al-Lujain, hal. 22, cet. Al-Haromain.