Friday, December 11, 2020

PERBEDAAN ANTARA RĀSYID, MUHTADI, ḌĀLL DAN GĀWĪ

PERBEDAAN ANTARA RĀSYID, MUHTADI, ḌĀLL DAN GĀWĪ

Oleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Orang yang benar-benar buta petunjuk secara total, tidak tahu pedoman, tidak mengerti tuntunan dan tidak paham bimbingan, maka ia dinamakan ḍāll (الضَّالُّ). Bentuk jamaknya ḍāllūn (الضَّالُّوْنَ) atau ḍāllīn (الضَّالِّيْنَ). Lafal ini biasanya diterjemahkan “orang yang tersesat”. Jadi, jika dalam Al-Qur’an atau hadis digunakan lafal ini, maka itu memaksudkan kondisi orang yang buta pengetahuan sama sekali sehingga tidak mengerti arah dan berjalan ke arah yang salah. Orang-orang Arab jahiliyyah disebut ḍāllīn karena mereka tidak kenal Allah, tidak mengetahui jalan menyucikan diri dan tidak tahu bagaimana cara menuju Allah. Dalam Surah Al-Fātiḥah, ayat terakhir juga menyebut orang-orang yang memiliki sifat ḍāllīn. Para mufassir menjelaskan contoh utama kaum yang demikian adalah Nasrani, karena mereka ingin mencintai Allah, tapi salah jalan karena tidak mengikuti Nabi Muhammad.

Adapun jika orang tahu petunjuk, tetapi sengaja tidak mengikutinya, entah karena kesombongan, kedengkian, kegengsian, semangat asabiyah dan semua kecenderungan hawa nafsu lainnya, maka sebutan makhluk seperti ini bukan ḍāll, tetapi gāwī (الغاوي). Bentuk jamaknya gāwūn (الغاوون) atau gāwīn (الغاوين). Lafal ini biasanya juga diterjemahkan “orang yang tersesat”. Iblis disebut gāwī karena dia tahu kebenaran, tapi tidak mau mengikutinya. Dia tahu petunjuk tapi tidak melaksanakannya. Dia tahu perintah tapi sengaja melanggarnya. Fir’aun juga termasuk golongan ini, sebab hati Fir’aun sebenarnya meyakini kebenaran Nabi Musa, tapi hawa nafsunya yang tidak mau kehilangan kemegahan duniawi membuatnya menolak mengikuti nabi Musa. Orang Yahudi juga masuk dalam golongan ini. Mereka tahu kebenaran Nabi Muhammad, tapi enggan mengikutinya karena dengki. Mayoritas orientalis Barat yang mengkaji Islam juga banyak yang terkena sifat ini.

Jadi, bisa disimpulkan dāll adalah ciri orang yang tidak tahu kebenaran secara total, sementara gāwī adalah orang yang sebenarnya mengakui kebenran sesuatu tapi enggan mengikutinya.

Adapun muhtadī (المهتدي), maka pengertiannya adalah orang yang mendapatkan petunjuk. Bentuk jamaknya muhtadūn (المهتدون) atau muhtadīn (المهتدين). Penekanannya semata-mata dari aspek perolehan ilmu yang menjadi tuntunan, petunjuk dan pedoman untuk melangkah. Jadi, jika dalam Al-Qur’an disebut orang-orang yang mendapatkan petunjuk, kondisi-kondisi yang membuat Allah berkenan memberi petunjuk, dan hal-hal yang membuat Allah tidak berkenan memberi petunjuk, maka maksudnya adalah kondisi seseorang mendapatkan ilmu yang bisa mengarahkannya ke jalan yang benar.

Begitu petunjuk tersebut diikuti dan dilaksanakan, maka orang tersebut disebut dengan istilah rāsyid (الراشد). Bentuk jamaknya rāsyidūn (الراشدون) atau rāsyidīn (الراشدين) Dengan kata lain, rāsyid adalah muhtadī (orang yang mendapatkan petunjuk) yang mengamalkan petunjuk tersebut.

Oleh karena itu, sekarang kita bisa mamhami lebih baik mengapa para Sahabat disebut Allah sebagai kaum rāsyidun dalam ayat ini,

﴿ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَۙ ٧ ﴾ ( الحجرٰت/49:7)
Artinya

“Ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang rāsyidūn” (Al-Hujurat/49:7)

Para Sahabat yang memiliki sifat menonjol cinta terhadap iman, benci kekufuran dan benci kemaksiatan disebut Allah sebagai kaum rāsyidūn karena mereka mendapatkan petunjuk, lalu melaksanakan petunjuk tersebut.

Dari sini bisa difahami juga istilah khulafā’ rāsyidīn. Khalifah Abu Bakar, Umar, Uṡmān dan ‘Alī disebut para khalifah rāsyidīn karena mereka mendapatkan petunjuk dan melaksanakan petunjuk tersebut, sehingga layak ijtihadnya diikuti pada perkara-perkara yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an maupun hadis.

Sampai sini bisa disimpulkan juga bahwa dāll adalah lawan muhtadī, sementara gāwī adalah lawan rāsyid. Ibnu Rajab berkata,

فالراشد عرف الحقَّ واتَّبعه، والغاوي: عرفه ولم يتَّبعه، والضالُّ: لم يعرفه بالكليَّة، فكلُّ راشدٍ، فهو مهتد، وكل مهتدٍ هدايةً تامَّةً، فهو راشد؛ لأنَّ الهدايةَ إنَّما تتمُّ بمعرفة الحقِّ والعمل به أيضاً. جامع العلوم والحكم ت ماهر الفحل (2/ 781)
Artinya,

“Rāsyid adalah orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Gāwī adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengikutinya. Ḍāll adalah orang yang tidak mengetahui kebenaran secara total. Jadi, setiap rāsyid adalah muhtadī dan setiap muhtadī yang mendapatkan hidayah sempurna maka dia rāsyid karena hidayah itu hanya sempurna dengan cara mengetahui kebenaran kemudian mengamalkannya juga” (Jāmi‘ Al-‘Ulūm wa Al-Ḥikam, juz 2 hlm 781)

Versi Situs: irtaqi.net/2020/12/10/perbedaan-antara-rasyid-muhtadi-ḍall-dan-gawi/

***
24 Rabi’ul Akhir 1442 H

Monday, November 23, 2020

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"

MANAQIB HADROTUS SYECK ABDULLAH FAQIH LANGITAN"
Copas via WAG
Disampaikan oleh : KH MASBUHIN FAQIH.
Pada saat acara haul KH. ABDULLAH FAQIH yang ke-5 di pondok pesantren Langitan.

Ditulis oleh : Al faqir ila ridhollah wa ridloh masyayikhihi Taufiqurroziqin Tammama.

Alhamdulilĺah kita semua diberi kesempatan bisa datang dalam acara Haul ini semoga dengan menghadiri haul ini kita bisa mendapatkan barokah dan menambah kekuatan rohaniyah antara kita dan guru-guru kita sebab mengalirnya barokah sedikit banyaknya barokah yang kita dapat itu tergantung kuat lemahnya hubungan antara kita dan guru-guru kita walaupun guru-guru kita sudah tiada.
.
Saya di sini diutus menceritakan kepribadian syaikhina wa murobbi ruhina syech abdullah faqih.
.
Saya ini santri bukan kiai selalu berusaha tetap menjaga bagaimana hubungan antara santri dan kiai walaupun kiai sudah tiada.
.
Beliau dalam mentarbiyah santri itu luar biasa khususnya kepada saya pribadi telaten sabar istiqomah.
Pada suatu saat pada tuhun 1976 saya pamit kepada hadrotus syech, sebab pada saat itu ayah mendatarkan saya guru agama lalu saya pamit beliau bertanya "nandi kon mole?" (Kenapa kamu pulang?"
Kemudian Saya mator "duko tiyang sepah kulo kok dafataraken kulo guru agama" (gak tau yai, ini abah saya kok mendatarkan saya ujian guru agama)
.
Beliau dawuh kepada saya "aku gak ridloh nek kapan kon melok ujian guru agama, warahen wong tuamu aku nglarang, seng tekun olehmu ngaji nek wes hasel, nasrul ilmu seng ihlas nek kapan kon gak mangan keto'en drijiku" (aku gak ridloh kalau kamu ikut ujian guru agama, beri tahu orang tuamu aku melarang, yang temun ngaji kalau kamu sudah hasil, nashrul ilmi yang ihlas, kalau besok kamu tak bisa makan potong saja jariku).
.
Itulah dawuh kepada saya, begitu perhatianya dan kasafnya beliau.

"اذا اختلف ابو الروح و ابو الجسد لا بد ان نقدم اباالروح"
"Jika ada perselisihan antara guru dan orang tua maka kita wajib mendahulukan guru"

Oleh karnaya sam'an wa tho'atan saya kepada hadrotus syech, kashaf beliau, jika pada saat itu saya menuruti keinginan ayah saya maka tidak akan ada pondok pesantren "MAMBU'US SHOLIHIN".
.
Lah memang kenyataanya ya seperti itu saya pulang dari pondok sudah punya anak 4 tidak punya pekerjaan  apa-apa ya saya ikut dawuh hadrotus syech yaitu nashrul ilmi, alhadulillah apa yang telah di dawuhkan beliau kepada saya terjadi.
.
Cara mentarbiyah beliau kelada kami luar biasa sabarnya.
.
Pada suatu saat saya dimintai tolong oleh adek saya "Asyfihani" yang mondok di pasuruan, supaya menghantarkan sowan kepada beliau, saya tanya "perlune opo kon sowan ng hadrotus syech?" (Apa perlumu kok mau sowan kapeda hadrotussyech?)
Dia menjawab "iki cak, aku kate jalok jubah.e mbah yai abdul hadi seng nok hadrotussyech" (ini kak, saya mau minta jubahnya mbah yai abdul hadi yang dibawah oleh hadrotussyech).
.
Saat itu saya hantarkan, begitu baru saja duduk dan adek saya belum mator keperluanya beliau sudah dawuh "aku nduwe jubahe bapak 2 tak kekno koen 1, tapi lironono sarunge mbah hamid (pasuruan)" (saya punya jubah ayah 2 saya berikan kepada kamu, tapi kamu ganti dengan sarungnya mbah hamid (pasuruan)).
.
Demikian juga termasuk bagian dari kashafnya beliau, apa yang menjadi keinginan hati adek saya langsung ditebak saya beliau.
.
Beliau dalam mentarbiyah kami bukan hanya saat beliau hidup, bahkan ketika beliau wafatpun beliau juga mentarbiyah kami.
.
Pada suatu saat kami membuat rouha kitab "Shohih bukhori" dan setiap tanggal 1 rojab dan akhir bulan rojab hatam, karena saya terlalu capek usai perjalanan saya tidak ikut.

Ketika malam hari saya langsung ditemui oleh beliau.

Pada saat itu beliau ngaji, dan saya datang terlambat dan sudah selesai lalu beliau marah dan dawuh kepada saya "teko ndi ae hin, awakmu kok kari ngaji karo aku?" (Dari mana saja hin, kamu kok terlambat ngaji bersamaku?"
.
Susahnya luar biasa, saya pikir-pikir apa ya yang saya lakukan sehingga beliau marah kepadaku seperti ini.
.
Kemudian saya berkeyakinan bahwa mungkin karna saya tidak mengikuti rouha bukhori yang saya dirikan.
.
Sudah saya kapok secapek apaupun saya tidak akan meninggalkan rouha itu.
Saat itu saya begitu susah,
.
Dan pada saat itu juga saya di temui lagi, mungkin sebagai pelipur hati, saya di ajak makan-makan bersama keluarga alhamdulillah.
.
Demikian tarbiyah beliau walaupun sudah meninggalkan kita.
.
Beliau sangat luar biasa dalam berpegang teguh pada syariat, tidak bisa ditawar.
.
Pada suatu saat ketika saya menjabat sebagai kepala sekolah di langitan mengadakan acara akhirussnah, kalau tidak salah insya'allah yang menjadi ketua panitia yaitu KH. MAGHFUR BISYRI insya'allah. di acara tersebut setiap tingkatan menampilkan suatu karya seni.
Di acara tersebut tidak terkontrol karna salah satu kelas ada yang menampilkan "Genggongan/Genggong" (semacam alat musik)
.
Langsung pada saat itu beliau marah dan melemparkan bakyak kearah cendela kaca yang ada di madrasah, semua santri dan guru-guru lari tinggal saya berdiri didepan madrasah dan saya hanya bisa menangis, dan pasrah kepada beliau, lalu beliau dawuh "hin nang omah hin" (hin ikut saya kerumah)
.
Lalu beliau dawuh "kiro-kiro bapak kok sek urep ngono awakmu wani nggawe kegiatan ngono?" ( kira-kira kalau abah (mbah yai abdul hadi) masih hidup kamu berani buat acara seperti itu?) Saya tidak menjawab apa-apa, hanya hanya bisa menangis.
.
Lalu beliau dawuh "wes guru-guru kumpulno konkonen mrene kabeh" ( sudah, guru-guru kumpulkan semua, suruh dan kesini)
Jam 12 malam guru-guru sudah bersembunyi kemana, sampai saya kerepotan mencarinya sampai waktu satu jam sudah terkumpul dan sowan beliau lalu beliau dawuh sperti apa yang telah didawuhkan kepada saya, semua guru-guru menangis lalu beliau dawuh "wes saiki moroo kabeh ng pesarean jalu'o sepuro bapak" (sudah, sekarang kamu datang kepemakaman masyayih dan mintalah maaf kepedah abah).
.
Begitulah tarbiyah dari beliau dan masalah hukum tidak bisa ditawar lagi, barang haram ya haram, tidak ada rukhsoh lagi
Ini yang harus kita contoh.
.
Kita ngaji disini bukan sekedar mengabil ilmunya saja, tapi haliyahnya, maqomnya, harus kita tiru.
Sebagaimana sudah nyata beliau insya'allah adalah minaz zahidin (sebagian dari ulama yang zuhud).
Sejak saya mondok sampai sekarang rumahnya ya seperti itu.
لا يلتفت الى الدنيا بالمرة، و قلبه يتوجه الى الله سبحنه و تعلى.
"Tidak menoleh kepada dunia walau hanya sekali, dan hatinya slalu menghadap allah"
.
Di dalam memperjuangakan agama allah
لا يسمع لومة لائم
"Tidak pernah mendengar cacian orang"

Sebab disaat pemilihan bupati di daerah gresik ,lamongan, tuban, dan bojonegoro beliau selalu ikut campur.
Karna beliau slalu menginginkan yang jadi bupati di daerah tersebut adalah orang NU.
.
Pada suatu saat saya manghantarkan pak khuluq sowan minta restu kepada beliau untuk mencalonkan bupati yang pertama kali, sampai beliau memberi kami uang sebesar 50 juta di hadpan kami, subhanallah luar biasa perhatiannya, beliau dawuh "iki luk duwek teko aku, iki nek kapan dadi mok lironi yo alhamdulillah, nek gak yo tak ihlasno awkmu" ( ini luk uang dari saya, kalau kamu jadi kamu ganti ya alhamdulillah, kalau tidak ya saya ihlaskan kepadamu).
Jadi pada umumnya orang yang mendukung calon bupati dia akan mendapatkan uang, tapi beliau malah mengeluarkan uang, walaupun di su'udhoni orang macam-macam, tapi beliau tetap
لا يلتفت الى قول الغير ويستمر في الجهات لاجل وجه الله سبحنه وتعالى.
"Tidak menghiraukan ucapan orang lain, dan meneruskan perjuangan untuk mencari ridloh allah semata"
.
Ini yang benar-benar harus ditiru oleh santri-santri.
.
Dan kita mengambil kesimpulan bahwasanya beliau mempunyai pandangan yang sangat luas sekali, memperjuangkan agama bukan dalam satu bidang saja, tapi beliau berjuang diberbagai bidang yang berbeda-beda.
Beliau aktif istiqomah mentarbiyah para santri dan beliau juga ikut andil dalam memperbesar Nahdlotul Ulama, PKB, PKNU ratusan juta sudah dikeluarkan untuk memperjuangakan kepentingan PKNU.

Saya juga sering terlibat dalam PKB dan PKNU.
Yang terahir beliau dawuh " iki hin terahir, kapan ora biso teros PKNU, iki terahir aku berjuang melalui partai" (ini terahir hin, ini kalau tidak bisa terus, ini adalah yang tarahir perjuanganku melalui partai).
Begitulah hadrotussyech.
.
Pada waktu bulan sya'ban kami mator kepada beliau "romo yai tanah enkang wonten balung panggang meniko, sakderenge dipon bangun pondok, nyuwun dumateng panjengan supados jenengan incak" (romo yai tanah yang ada di balongpanggang itu sebelum dibangun pondok, harap kepada jenengan supaya jenengan injak terlebih dahulu).
Jawaban beliau "iyo, tapi peletakan batu pertama, bah  watu sitok tok gak opo-opo" (iya, tapi saat peletakan batu pertama, walau hanya satu batu saja).
.
Di beri jangka waktu 10 hari, pada hari itu, beliau akan datang ke balungpanggang.
.
Alhamdulillah, beliau bisa datang, dan yang meletakan batu pertama juga beliau.
Kemudian anak-anak saya dikumpulkan, lalu diberi tausia dan yang pokok adalah "tak jalok awakmu-awkmu kabeh seng rukun karo dulur" (saya minta kamu semua, yang rukun antar saudara-saudaramu).

Ternyata terahir beliau bulan syawal beliau sakit kemudian meninggalkan kita semua.

Begutilah perhatian beliau pada para santri.

Sekarang apa balasan kita kepada guru kita?

Jika kita benar-benar ingin berkumpul dengan beliau, apa saja yang beliau lakukan harus kita tiru dan meneruskan perjuangan beliau.
.
Insya'allah kita bisa kumpul dengan beliau.
Amin.

Semoga kita bisa meniru langka-langkanya dan menjadi suri tauladan bagi anak-anak kita nanti dan apa yang kita kerjakan selalu membahagiakan hati beliau.
.
Semoga dengan sedikit cerita ini dapat mengobati rasa rindu kita dan menambah rasa cinta kita kepada beliau.
.
Dan semoga beliau tetap dalam naungan rahmatnya.
.
Amin ya robbal alamin.

Saksikan dan Ikutilah Haul Virtual KH. Abdullah Faqih ke-9
Di Youtube Langitan TV

📅 : Senin, 23 November 2020
⌚ : Pukul 19:30 WIB
🔴 : Live Youtube Langitan TV

➖➖➖➖
#menaralangitan #haulvirtual #haulkhabdullahfaqih #haulmbahyai #pondoklangitan #langitan

JANGAN SEMBARANGAN MENCERITAKAN MIMPI

JANGAN SEMBARANGAN MENCERITAKAN MIMPI

Oleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Jika Anda punya mimpi, berhati-hatilah menceritakan. Sebab, mimpi itu jika sudah ditakwil maka akan ditetapkan menjadi takdir. Selama belum ditakwil, maka ia bagaikan menggelantung di kaki burung yang terbang melayang-layang. Begitu ada yang menafsirkannya, maka burung itu akan hinggap. Maknanya; nasib telah tersegel, takdir berlaku, dan apa yang diisyaratkan Allah lewat mimpi pasti akan terjadi tanpa bisa dicegah lagi. Abu Dawud meriwayatkan,

: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الرُّؤْيَا عَلَى رِجْلِ طَائِرٍ، مَا لَمْ تُعَبَّرْ فَإِذَا عُبِّرَتْ وَقَعَتْ » سنن أبي داود (4/ 305)

Artinya,
Rasulullah ﷺ bersabda: “Mimpi-mimpi itu berada di kaki burung (terbang melayang) selama tidak ditafsirkan/ditakwilkan. Jika sudah ditafsirkan/ditakwilkan maka akan terjadi.” (H.R. Abu Dawud)

Jadi, menakwil mimpi memang harus hati-hati. Ucapan takwil mimpi itu bisa “ganas” jika kebetulan memang jitu tafsirnya. Jika sudah diucapkan maka tidak bisa ditarik lagi. Seperti ucapan nikah, talak, rujuk dan membebaskan budak yang tidak bisa dibatalkan jika sudah diucapkan.

Pernah ada kejadian, seorang wanita di zaman Nabi ﷺ ditinggal suaminya safar untuk berdagang dalam keadaan hamil. Lalu wanita ini bermimpi melihat tiang rumahnya roboh dan juga bermimpi melahirkan anak yang buta sebelah. Saat dia datang kepada Nabi ﷺ untuk menanyakan takwilnya, Nabi ﷺ mengucapkan kata-kata baik dan mendoakan agar suaminya pulang dengan selamat dan melahirkan anak saleh. Apa yang diucapkan Nabi ﷺ terjadi sesuai kenyataan. Suami wanita itu pulang dengan selamat dan dia juga melahirkan anak dengan selamat.

Ternyata kejadian ini berulang tiga kali.

Suami wanita itu pergi safar sebanyak tiga kali dengan meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil. Wanita itu mimpi pada kejadian kedua sama persis dengan mimpi yang pertama kali. Kejadian kedua direspon Nabi ﷺ dengan ucapan kebaikan yang sama.

Pada kali yang ketiga, wanita itu datang lagi kepada Nabi ﷺ untuk menceritakan mimpinya. Ternyata Nabi ﷺ saat itu tidak ada. Wanita itupun ditemui oleh Aisyah. Ketika mimpinya diceritakan kepada Aisyah, maka Aisyah menakwilkan: Suami kamu akan mati dan anakmu menjadi anak yang tidak saleh.

Ternyata itulah yang terjadi!

Wanita itu tentu saja menangis. Ketika Rasulullah ﷺ bertanya kepada Aisyah, maka diceritakanlah kisahnya. Setelah faham, Rasulullah ﷺ menegur Aisyah,

“Ah, Aisyah, kalau kamu menakwil mimpi seorang mukmin, katakanlah yang baik-baik. Sebab mimpi itu sesuai dengan apa yang ditakwilkan.”

Kisah ini diriwayatkan dalam Sunan Al-Dārimī dan sanadnya di-ḥasankan oleh Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī dalam Fatḥu Al-Bāri.

Perhatikan, betapa rawannya takwil mimpi. Begitu ia diucapkan, maka tersegellah nasib, yang bahkan Nabi ﷺ pun tidak bisa mengubahnya.

Jadi bagaimana sebaiknya jika punya mimpi yang kita sangat ingin menceritakan?

Paling aman jangan menceritakan mimpi. Jika harus menceritakan, maka ceritakan kepada orang berilmu yang mengerti dasar-dasar ilmu takwil mimpi dan adab-adab menakwilkan. Yang bisa menakwilkan dengan baik. Yang jika tahu takwilnya buruk tetap bisa mengucapkan kata-kata baik sehingga tidak membahayakan orang yang bermimpi. Rasulullah ﷺ bersabda,

: «وَلَا تَقُصَّهَا إِلَّا عَلَى وَادٍّ، أَوْ ذِي رَأْيٍ
Artinya,

“Janganlah kamu ceritakan kecuali kepada orang yang terdekat, atau orang yang bisa memberi nasihat.” (H.R. Abū Dāwūd)

Jangan sembarangan menceritakan mimpi.

Apalagi kepada orang jahil.

Meski dia jahil, jika takwilnya sudah terucap, dan ternyata benar, maka akan tersegellah mimpi itu menjadi takdir dan pasti akan menimpa orang yang memimpikannya.

اللَّهُمَّ إِنِّي أسألُكَ رُؤْيا صَالِحَةً صَادِقَة غَيْرَ كاذبةِ، نافِعَةً غَيْرَ ضارةٍ

Versi Situs: https://irtaqi.net/2020/11/03/jangan-sembarangan-menceritakan-mimpi/

***
17 Rabi’ul Awwal 1442 H

Thursday, October 1, 2020

Biografi Gus Baha'

Biografi Gus Baha'

Gus Baha atau KH. Ahmad Bahauddin Nursalim adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Kiai Nur Salim adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama Kiai Nur Salim inilah, Gus Miek (KH Hamim Jazuli) memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan semaan Al-Qur’an secara keliling.
Jantiko kemudian berganti Mantab (Majelis Nawaitu Topo Broto), lalu berubah jadi Dzikrul Ghafilin. Kadang ketiganya disebut bersamaan: Jantiko-Mantab dan Dzikrul Ghafilin.

Kiai kelahiran bantul 29 September-1970 ini memilih Yogyakarta sebagai tempatnya memulai pengembaraan ilmiahnya. Pada tahun 2003 ia menyewa rumah di Yogya. Kepindahan ini diikuti oleh sejumlah santri yang ingin terus mengaji bersamanya.

PENDIDIKAN

Gus Baha' kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan Al-Qur'an di bawah asuhan ayahnya sendiri.

Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan Al-Qur'an beserta Qiro'ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid Mbah Arwani menerapkan keketatan dalam tajwid dan makhorijul huruf.

Menginjak usia remaja, Kiai Nursalim menitipkan Gus Baha' untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang, sekitar 10 km arah timur Narukan.

Di Al Anwar inilah beliau terlihat sangat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari'at seperti Fiqih, Hadits dan Tafsir.

Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu'in dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan Pesantren Al Anwar.

Saat mondok di Al Anwar ini pula beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi dan sanadnya. Selain Shohih Muslim beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika arab seperti 'Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau sebagai santri pertama Al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di era beliau.

Bahkan tiap-tiap musyawarah yang akan beliau ikuti akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya karena kedalaman ilmu, keluasan wawasan dan banyaknya hafalan beliau.

Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan kiainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi guru beliau Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan. Mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama'-ulama' besar yang berkunjung ke Al Anwar. Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair.

Pernah pada suatu ketika beliau dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina. Karena saking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhina pun terharu dan ngendikan "Iyo ha'... Koe pancen cerdas tenan" (Iya ha'... Kamu memang benar-benar cerdas).

Selain itu Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. "Santri tenan iku yo koyo baha' iku...." (Santri yang sebenarnya itu ya seperti baha' itu....) begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh pesantren warisan ayahnya sekarang, beliau hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan dan PP. Al Anwar Karangmangu, Rembang.

Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman. Namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP. Al Anwar dan pesantrennya sendiri LP3IA.

Pernikahan

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiahnya di Sarang,beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik sehubungan dengan pernikahan beliau. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau mengutarakan bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yang glamor, bahkan sangat sederhana.

Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebut.
Tentu maksud beliau agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari. Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan "klop" alias sami mawon kalih kulo.

Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat keSidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yang telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi. Berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil.

Keakhlakannya

Beliau hidup sederhana bukan karena keluarga beliau miskin. Dari silslah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin.

Bahkan kakek beliau dari jalur ibu merupakan juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis perihal kesederhanaan beliau, beliau menyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur'an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.

Bahkan salah satu wasiat dari ayahnya adalah agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi 'manusia mulia' dari pandangan keumuman makhluk atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan kehidupan beliau sehari-hari.

Setelah menikah beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya. Beliau menetap di Yogyakarta sejak 2003. Selama di Yogya, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi kelokasi lain. Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya.

Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogya dan urunan atau patungan untuk menyewa rumah di dekat rumah beliau. Tiada tujuan lain selain untuk tetap bisa mengaji kepada beliau.

Ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin Al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogya saat itu. Saat di Yogya inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau.

Pada tahun 2005 ayah beliau KH. Nursalim jatuh sakit. Beliau pulang sementara waktu untuk ikut merawat ayah beliau bersama keempat saudaranya.

Namun siapa sangka, beberapa bulan kemudian Kiai Nursalim wafat. Gus Baha' tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab beliau diamanahi oleh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Banyak yang merasa kehilangan atas kepulangan beliau ke Narukan. Akhirnya para santri beliaupun, sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Yogya.

Hingga pada gilirannya beliau bersedia namun hanya satu bulan sekali, dan itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarta.

Keilmuannya

Selain Yogyakarta beliau juga diminta untuk mengasuh PengajianTafsir Al-Qur'an di Bojonegoro, Jawa Timur. Di Yogya minggu terakhir, sedangkan di Bojonegoro minggu kedua setiap bulannya.

Hal ini beliau jalani secara rutin sejak 2006 hingga kini. Di UII beliau adalah Ketua Tim Lajnah Mushaf UII.

Timnya terdiri dari para Profesor, Doktor dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seantero Indonesia seperti Prof. Dr. Quraisy Syihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yang lain.

Suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagat Tafsir Al-Qur'an di Indonesia beliau termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar.

Meski demikian, kealiman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Hingga pada suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof. Quraisy bahwa kedudukan beliau di Dewan Tafsir Nasional selain sebagai Mufassir, juga sebagai Mufassir Faqih karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam Al-Qur'an. Setiap kali lajnah 'menggarap' tafsir dan Mushaf Al-Qur'an,

Posisi beliau selalu di dua keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti anggota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an yang mempunyai tugas khusus mengurai kandungan fiqh dalam ayat-ayat ahkam Al-Qur'an.

Gus Baha muda waliyullah hebat di indonesia (krn menguasai al'Qur'an banyak hafal hadist dan kitab dan yg terhebat ke piawaan nya dlm menyampaikan dan menerangkan agama bisa dimengerti oleh semua lapisan masyarakat islam dan tidak terbantahkan

Selamat Ulang Tahun, K.H. Bahaudin Nursalim (Gus Baha).

Sehat selalu dalam menebar Islam yang ramah, indah, mudah sekaligus menyenangkan.

Walahualam...

Al-fatihah.........