Tuesday, March 22, 2022

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 1)

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 1)

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Al-Ḥallāj (الحَلاَّجُ) adalah sufi kontroversial yang hidup sebelum masa al-Gazzālī. Ibnu ‘Arabī (ابْنُ عَرَبِيٍّ) juga sufi kontroversial, tapi hidupnya setelah masa Al-Gazzālī. Tasawuf Ibnu ‘Arabī melanjutkan pemikiran al-Ḥallāj dan mengokohkannya dengan filsafat. Hanya saja akhir hayat keduanya berbeda.   Al-Ḥallāj meninggal dengan cara dihukum bunuh dan disalib sementara Ibnu ‘Arabī wafat biasa.

Ada tiga pemikiran yang dinisbahkan kepada al-Ḥallāj yang membuatnya divonis kafir zindiq oleh sejumlah ulama di zamannya yaitu,

• Al-ḥulūl (الحلول), yakni konsep penjelmaan Tuhan (lāhūt) pada  manusia (nāsūt) laksana bersatunya api dengan besi saat panas-panasnya atau seperti bercampurnya khamr dengan air yang jernih

• Al-ḥaqīqah al-muḥammadiyyah (الحقيقة المحمدية) yakni keyakinan bahwa nur muhammad adalah asal-usul segala kejadian

• Waḥdatul adyān (وحدة الأديان) yakni konsepsi kesatuan agama, bahwa semua agama hanya beda kulit tapi maksudnya sama

Di antara contoh ekspresi paham ḥulūl adalah ucapan al-Ḥallāj yang berbunyi “ana al-ḥaqq” (aku adalah Allah/al-ḥaqq ) juga kalimat “wamā fil jubbah illā Allah” (tidak ada di dalam jubah (ku ini) kecuali Allah).

Dua tokoh ini dikatakan kontroversial karena ada ulama yang membelanya bahkan mensifatinya sebagai wali Allah dan ada pula yang mengkritiknya sampai level mengkafirkan dan menzindiq-kan.

Di antara argumentasi terpenting untuk membela al-Ḥallāj adalah penjelasan yang kira-kira maknanya sebagai berikut,

“Secara substantif, ajaran al-Ḥallāj itu tidak masalah. Dia telah mencapai ma’rifatullah level tinggi yang membuatnya sampai tidak sanggup mengungkapkan pengalaman batinnya dengan kata-kata yang tepat sehingga lahirnya seperti mengucapkan kata-kata kufur”. 

Al-Gazzāli bisa jadi termasuk yang berhusnuzan dengan al-Ḥallāj dan menggolongkan kata-kata kontroversial yang keluar dari lisannya sebagai syaṭahāt (شطحات), yakni kata-kata kerinduan dan cinta terhadap Allah yang demikian mabuknya sampai-sampai seperti melantur dan seperti tidak sadar hingga mengklaim melihat Allah, berbincang-bincang denganNya dan bahkan bersatu dengan Allah! Kata-kata seperti ini diharapkan untuk dimaafkan karena kondisinya seperti orang hilang akal yang membuat taklif terangkat.

Adapun untuk Ibnu ‘Arabī, di antara argumentasi terpenting untuk membelanya  adalah penjelasan yang kira-kira maknanya sebagai berikut,

“Sufi itu punya istilah khusus dalam lingkungannya. Jika dipahami secara lahir pasti dihukumi kufur. Padahal maksudnya bukan seperti makna lahir. Oleh karena itu, jika ada kalimat-kalimat Ibnu ‘Arabī dalam kitab-kitabnya yang lahirnya bertentangan dengan syariah atau seperti kata-kata kufur, maka harus ditakwil dan dipahami sebagai istilah khusus agar tidak salah faham”

Ada pula yang membela Ibnu ‘Arabi dengan argumentasi  yang maknanya kira-kira begini,

“Hal-hal yang bertentangan dengan syariah pada karya-karya Ibnu ‘Arabī  itu bukan tulisan beliau, tetapi kerjaan orang Yahudi yang ingin merusak reputasi beliau. Seperti kasus al-Sya’rānī. Ada sebagian pendengki yang memasukkan tulisan kekufuran dalam kitab al-Sya’rānī,  lalu al-Sya’rānī disidang ulama gara-gara itu. Setelah al-Sya’rānī menunjukkan naskah asli kitab beliau,  tahulah semuanya  bahwa tulisan kufur itu bukan tulisan beliau”

(bersambung)

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 2)

HARAM MENYEBARKAN PEMIKIRAN AL-HALLĀJ DAN IBNU ‘ARABĪ (bagian 2)

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Patut dicatat, sejak dulu para ulama berbeda pendapat menyikapi dua sosok sufi ini. Sebagian mengkritik habis-habisan, sebagian lagi membela habis-habisan. Ada pula yang memilih netral agar lebih selamat. Mereka yang mengkafirkan kedua tokoh ini bukan ulama kaleng-kaleng. Tapi mereka yang membela keduanya juga bukan ulama kecil-kecil. Termasuk yang memilih untuk netral juga dikenal sebagai ulama besar.

Tetapi, di manapun posisi kita, entah sepakat dengan ulama yang mengkafirkan al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, membela mereka  maupun bertawaqquf terhadap mereka, maka menyebarkan pemikiran keduanya tetap haram.

Jika kita bertaklid kepada ulama yang mengkafirkan al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, maka sudah jelas keharaman menyebarkan pemikiran keduanya adalah karena itu dakwah pada kekufuran sementara kekufuran pasti mengantarkan ke neraka. Patut dicatat, yang mengkritik tajam sampai menisbahkan kekufuran kepada keduanya bukanlah ulama sembarangan. Yang mengkritik Ibnu ‘Arabi misalnya adalah al-‘Irāqī, Taqiyyuddīn al-Subkī,   Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī dan lain-lain.

Jika pun kita bertaklid kepada ulama yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, maka menyebarkan pemikiran keduanya tetap haram berdasarkan sejumlah argumentasi.

PERTAMA, haram hukumnya menyampaikan sesuatu yang tidak sanggup dijangkau akal pendengar yang bisa membuat Allah dan Rasul-Nya didustakan. Al-Bukhārī meriwayatkan,

وَقَالَ عَلِيٌّ: «حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ ‌يُكَذَّبَ ‌اللهُ ‌وَرَسُولُهُ؟». [«صحيح البخاري» (1/ 37 ط السلطانية)]

Artinya,

“Ali berkata, ‘Berbicaralah dengan orang dengan tema yang dijangkau/difahami oleh mereka. Apa kalian senang Allah dan RasulNya didustakan?”

Pihak yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī sepakat bahwa pemikiran keduanya jika disampaikan kepada awam akan membuat fitnah, karena dianggap tidak bisa difahami oleh akal orang-orang biasa. Jika benar demikian, maka jelas haram menyampaikan hal tersebut ke publik karena menjadi wasilah nyata  fitnah dalam din. Ini juga realisasi qā‘idah syar‘iyyah, “Al-Wasīlatu ilāl ḥarām muḥarramah”. Al-Gazzālī berkata,

«فإن ‌كان ‌يفهمه ‌القائل دون المستمع فلا يحل ذكره». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,

“Jika orang yang memiliki gagasan memahaminya, tapi pendengar tidak paham, maka tidak halal mempublikasikannya”

KEDUA, menyampaikan sesuatu yang tidak difahami terkait din adalah haram.

Jika menyampaikan sesuatu yang dipahami saja bisa haram, yakni dalam kondisi penutur lemah memilih diksi sehingga pendengarnya bisa terfitnah, maka tentu lebih haram lagi menyampaikan sesuatu yang tidak difahami dengan baik berdasarkan kaidah min bābi aulā. Orang yang husnuzan kepada al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī, lalu mempelajari pemikiran keduanya, tapi sebenarnya juga tidak mengerti betul hakikat paham mereka, dan dia juga tidak tahu apakah paham mereka melanggar syariat ataukah tidak, maka haram baginya menyampaikan pemikiran tersebut ke publik. Bagaimana mungkin orang yang tidak paham betul sebuah pemikiran lalu berani menyampaikannya ke publik? Perumpamaan orang-orang seperti ini laksana orang yang masak tapi belum matang, lalu dihidangkan ke masyarakat. Apa jadinya? Orang jadi sakit perut! Al-Gazzālī berkata,

«وهذا فيما يفهمه صاحبه ولا يبلغه عقل المستمع فكيف فيما لا يفهمه قائله». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,

“Ini adalah hukum bagi orang yang memahami pikirannya sendiri tapi pendengarnya tidak sanggup mencernanya. Lalu, bagaimana dengan orang yang dia sendiri tidak memahami pikirannya?”

KETIGA, konsep syaṭāḥāt sudah terbukti mengantarkan para awam meninggalkan kewajibannya.

Pihak yang membela al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī telah sepakat bahwa ada ucapan-ucapan keduanya yang lahirnya melanggar syariat dan tergolong kekufuran. Tetapi dengan husnuzan, ucapan-ucapan kufur tersebut ditakwil sebagai bentuk syaṭahāt (semacam kalimat mabuk cinta karena Allah) atau istilah khusus sufi. Kalaupun benar husnuzan ini, maka bahayanya jelas nyata bagi orang awam. Kata al-Gazzālī, di zamannya saja sudah ada orang awam yang mencoba-coba masuk di dunia seperti itu, lalu meniru-niru ucapan yang dianggap syaṭaḥāt itu, sampai akhirnya meninggalkan kerjanya tidak mau bertani lagi!

Jadi, jangan heran jika ada orang awam yang masuk dalam paham seperti ini lalu melupakan anak istri dan meninggalkan semua tanggungjawabnya dengan alasan sudah asyik “berduaan” dengan Allah!

Berdasarkan kaidah fikih al-wasīlah ilā al-ḥarām muḥarramah (wasilah yang  mengantarkan pada keharaman hukumnya haram), maka menyebarkan pemikiran al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī  juga menjadi haram karena mengantarkan pada keharaman. al-Gazzālī berkata,

«وهذا فن من الكلام عظيم ضرره في العوام حتى ترك جماعة من أهل الفلاحة فلاحتهم». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]
Artinya,
“Ini adalah  jenis ucapan yang dampak buruknya sungguh besar di kalangan awam, sampai-sampai ada sejumlah petani yang meninggalkan profesi taninya”

KEEMPAT, dampak fitnah ucapan-ucapan yang ditakwil sebagai syaṭaḥāt di kalangan awam sangat besar sehingga pengucap syaṭāhāt kufur tersebut layak dihukum bunuh.

Kata al-Gazzālī, orang yang mengucapkan kata-kata kufur meskipun mungkin dihusnuzani sebagai syaṭaḥāt, maka layak dihukum bunuh untuk menjaga agama Allah. Tentu saja tidak boleh ada toleransi sama sekali dalam kata-kata kufur terkait Allah. Jika simbol-simbol negara saja bisa diancam penjara jika dihina, maka mengucapkan kata-kata kufur terkait Allah lebih layak untuk ditertibkan, karena dinullah lebih agung daripada negara. Al-Gazzālī berkata,

«فهذا ومثله مما قد استطار في البلاد شرره وعظم في العوام ضرره حتى من نطق بشيء منه فقتله أفضل في دين الله من إحياء عشرة». [«إحياء علوم الدين» (1/ 36)]

Artinya,
“Yang seperti ini dan semisalnya termasuk perkara yang bunga apinya telah menyebar di berbagai negeri dan dampak buruknya telah membesar di kalangan para awam.  Orang yang mengucapkan  kalimat seperti itu, membunuhnya lebih afdal untuk menjaga dinullah daripada menghidupi 10 nyawa”

Secara implisit dengan pernyataan ini, al-Gazzālī menyetujui hukuman bunuh untuk al-Ḥallāj, walaupun bisa jadi  secara substantif beliau berhusnuzan terhadap al-Ḥallāj.

Jika sebuah pemikiran telah terbukti pernah membuat fitnah besar di dunia Islam sampai pengucapnya layak dihukum bunuh tanpa peduli lagi substansinya benar atau salah, maka menyebarkan pemikiran jenis ini jelas haram.

KELIMA, Ibnu ‘Arabī sendiri konon melarang orang membaca buku-bukunya. Di antara kalimat yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Arabī berbunyi,

نحن قوم يحرم النظر في كتبنا

Artinya,

“Kami adalah kaum yang (hukumnya) haram mengkaji buku-buku kami”

Jika benar Ibnu ‘Arabī mengatakan kalimat ini, berarti pahamnya itu din pribadi. Bukan din yang untuk disebarkan kepada khalayak. Tanggung jawabnnya dihadapan Allah hanya untuk beliau pribadi, bukan untuk disebar-sebar dan dipropagandakan untuk masyarakat umum. Artinya perlakukan paham Ibnu ‘Arabī itu sebagai din, bukan millah. Ilmu yang diajarkan Allah kepada nabi Khidir adalah din, tapi ajaran nabi Musa adalah millah.

Al-Suyūṭī meskipun membela Ibnu ‘Arabī bahkan meyakininya sebagai wali, beliau tegas mengharamkan untuk membaca kitab-kitabnya. Al-Suyūṭī berkata,

والقول الفصل عندي في ابن عربي طريقة لا يرضاها فرقة أهل العصر ممن يعتقده ولا ممن ينكر عليه، وهي اعتقاد ولايته، ويحرم النظر في كتبه

Artinya,

“Pendapat final saya terkait Ibnu ‘Arabī adalah mengambil jalan yang tidak disenangi kelompok yang mempercayai beliau di zaman sekarang dan tidak juga disenangi mereka yang mengkritik beliau, yakni: Meyakini kewaliannya, tapi HARAM mengkaji kitab-kitabnya”  (Tanbīhu al-Gabī bi Tabri’ati Ibni ‘Arabī, hlm 4)

Senada dengan itu, Ibnu ‘Ḥajar al-Haitamī, walaupun beliau termasuk pecinta Ibnu ‘Arabī dan meyakini kewaliannya, tapi beliau mewanti-wanti agar orang  benar-benar berpaling dari kitab-kitab Ibnu ‘Arabī semampunya. Karena beliau melihat sendiri orang jatuh kepada kemusyrikan setelah mengkaji kitab-kitab Ibnu ‘Arabī itu.

Syarat yang disebut al-Haitamī agar orang tidak tersesat saat menelaah karya-karya Ibnu ‘Arabī juga menunjukkan itu hampir mustahil terwujud di zaman ini, karena beliau mensyaratkan harus sudah menguasai Al-Qur’an, Sunah, mengkaji hakikat semua pengetahuan dan mengkaji semua pengetahuan hakikat. Ini level mujtahid mutlak atau yang mendekatinya dan masih harus ditambah lagi dengan menguasai semua khazanah ilmu aqli seperti ilmu kalam dan filsafat. Profesornya profesor syariah di zaman sekarang dengan paper 1000 terindeks scopus sekalipun saya pribadi tidak percaya bisa memenuhi syarat itu. Jika faktanya mustahil mewujudkan  syarat-syarat yang ditetapkan al-Haitamī atau minimal super sulit, lalu diduga ada manfaat mengkajinya, maka mengkaji apalagi menyebarkan pemikiran Ibnu ‘Arabi (termasuk al-Ḥallāj) tetap haram berdasarkan kaidah fikih “Dar-ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣaliḥ”

Dengan demikian, haram hukumnya mempropagandakan pemikiran al-Ḥallāj dan Ibnu ‘Arabī apalagi menyebarkannya kepada masyarakat umum.  Termasuk tasawuf yang merupakan pengembangan dan anak turun dari pemikiran keduanya seperti tasawuf Ibnu al-Fāriḍ (ابن الفارض), Ibnu Sab‘īn (ابن سبعين), Jalāluddin al-Rūmī (جلال الدين الرومي), Hamzah Fanṣurī, Syamsuddīn al-Sumatranī, Siti Jenar dan semisalnya. Termasuk semua paham sinkretis lokal di negeri kita yang terpengaruh paham Ibnu Arabī seperti gagasan dalam Serat Wirid  Hidayat Jati karangan Ranggawarsita, paham perkumpulan WARGO UTOMO, paham perkumpulan PANGESTU, paham perkumpulan SUMARAH dan semisalnya.

(bersambung)

Tuesday, February 22, 2022

Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari

"Keistimewaan KH. Adlan Aly, Murid Kinasih KH. Hasyim Asy’ari"

KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.
Tebuireng.online— KH. Hasyim Asy’ari memiliki santri yang hebat-hebat, salah satunya yaitu KH. Adlan Aly, pendiri Pondok Pesantren Putri Walisongo Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kiai Adlan dilahirkan pada tanggal 3 Juni 1900 di Pesantren Maskumambang, Kabupaten Gresik, dari pasangan Hj. Muchsinah dan KH. Ali. Kiai Adlan Aly wafat pada tanggal 6 Oktober 1990 di Jombang.

Kiai Adlan merupakan santri kinasihnya Kiai Hasyim Asyari. Hal ini dikarenakan Kiai Adlan sosok yang alim dan hafal Al Quran. Sering sekali Kiai Hasyim meminta santrinya ini menggantikan menjadi imam salat dan kegiatan lainnya. Bahkan karena rasa cinta yang begitu besar terhadap gurunya, Kiai Adlan bermukim selamanya di selatan Pondok Tebuireng.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri, KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Adlan, untuk membentuk kepengurusan NU di Kecamatan Diwek. Dari sini Kiai Adlan Aly berkiprah di NU hingga ke level nasional. Dalam Muktamar NU yang ke-8 di Cirebon pada Agustus 1931, Kiai Adlan Aly dipercaya sebagai pemimpin sidang.

Menurut Mahasiswa Pasca Sarjana dan Santri Pesantren Tebuireng Abdul Aziz, Kiai Adlan setiap bulan Ramadan membacakan kitab Fathul Qarib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari mengajar. Kiai Adlan duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah.

Dalam pengajian ini ada karomah Kiai  Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab  Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap.

Ketika beliau membaca bab tersebut lalu mempraktekan shalat istisqa’ dan mengalungkan sorban ke pundaknya dalam seketika itu hujan turun dan mengguyur halaman pondok.

“Kiai Adlan itu tidak pernah melihat langit. Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan,”  katanya, Sabtu (27/4).

Ada lagi kesan para santri tentang Kiai Adlan yang masih abadi hingga saat ini. Bagi santri Tebuireng dan Walisongo, Kiai Adlan adalah ayah yang sabar dan istikamah. Ketika para santri ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa didengar.

“Ada yang menuturkan, kiai yang tidak hanya hafal isi Al Quran tetapi juga menjalankannya”, ujarnya.

Aziz menambahkan, Kiai Adlan adalah kuncinya jika ingin bertemu Kiai Hamid Pasuruan. Sehingga ada keyakinan sebagian jamaah saat itu kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.

“Bahkan suatu hari KH. Thalhah Hasan pernah berkata di Tebuireng itu ada dua penghuni surga. Pertama Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Keduanya sama-sama alim, wara, zuhud,” tandas Aziz.

"Noto Ati;  Pelajaran Yang Mulai Dilupakan"

"Belajar dari Kisah Kiai Muhaimin Duraid dan Kiai Adlan Aly"

Suatu hari, guru kami Kiai Muhaimin Duraid rahimahullah oleh banyak orang dianggap sebagai Waliyullah atau kekasih Allah. Mendengar desas-desus itu, suatu ketika Kiai Muhaimin dengan memakai kaos oblong dan celana pendeknya turun langsung ikut girigan atau kerja bakti di kali bersama masyarakat.

Di tengah kerja bakti, telapak kaki Kiai Muhaimin menginjak pecahan beling dan mengeluarkan banyak darah. Sejak kejadian itu, orang-orang mulai mengubah anggapan mereka, "Kiai Muhaimin bukan Wali, dia orang biasa. Wali macam apa kok kena beling keluar darah?"

Syaikh Mutawalli Sya'rawi rahimahullah dalam perjalanan pulang dari mengisi kuliah umum di sebuah Universitas, memilih berhenti di area toilet umum. Supir yang mengantar beliau merasa heran, Syaikh Mutawalli ternyata sedang membersihkan dan menyikat lantai toilet, "Apa yang anda lakukan, Syaikh?"

"Saya sedang menebus dosa yang baru saja saya lakukan. Saya merasa bangga ketika pulang dari kuliah umum dan mendapatkan penghormatan luar biasa dari Universitas. Dengan begini, saya sedang menenangkan hati saya sendiri bahwa saya bukan siapa-siapa." Syaikh Mutawalli menjawab sambil menahan isak.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa sekian panjang perjalanan hidup, sesungguhnya tugas besar manusia adalah noto ati (menata hati).

Kata Nabi, hati adalah pusat segala energi yang mampu menarik manusia pada dua keadaan : tenang dan gemrungsung atau panik.

Hati tenang adalah hati yang lepas dari kecenderungan duniawi : pujian, sanjungan, kehormatan dan bangga diri.

Hati gemrungsung adalah hati yang mengikat pada semua kecenderungan dan keinginan. Apa saja yang tampak menyenangkan, mengenyangkan, memuaskan, ia jejalkan ke dalam hati sehingga menjadi ramai. Hati yang terlalu ramai dengan kecenderungan duniawi, sesungguhnya sedang pelan-pelan menutup diri dari cahaya Allah.

Itulah sebabnya, menata hati adalah ibadah yang paling berat. Manusia bisa mendirikan shalat sehari semalam tanpa henti, manusia bisa menuntaskan puasa berhari-hari, manusia bisa membiasakan diri berangkat ke tanah suci. Tetapi, seluruh energi ibadah itu akan sia-sia jika hati sebagai pusat dari energi sesungguhnya, justru ramai, keruh bahkan gelap karena banyaknya tumpukan keinginan-keinginan duniawi.

Termasuk keinginan dimuliakan, diistimewakan dan dielu-elukan adalah kecenderungan manusia yang bisa menghambat petunjuk Allah. Petunjuk Allah meliputi ilmu, hikmah dan berkah.

Hati adalah tempat dimana Allah berhak hadir di dalamnya. Manusialah yang justru menghadirkan selain Allah di dalam hatinya.

Menempatkan diri sebagai manusia biasa adalah satu dari sekian panjang usaha lahir batin menata hati.

Itulah yang dicontohkan oleh orang-orang saleh dahulu : tidak menuntut keistimewaan atas nama keren dan wibawa.

Kiai Adlan Aly rahimahullah, seorang Kiai besar yang mempunyai ribuan santri justru setiap pagi dan sore hari menyapu sendiri lingkungan pesantrennya. Sampai-sampai suatu ketika pernah disuruh-suruh angkat koper dan karung oleh santri baru yang melihat Kiai Adlan tampak seperti orang biasa.

Apa yang sesungguhnya orang-orang saleh upayakan itu adalah untuk menetralisir atau menenangkan energi hati yang sewaktu-waktu bisa menyeret manusia pada kesombongan.

Imam Ghazali pernah berkata, "Tidak ada kemampuan yang lebih berat, lebih besar daripada kemampuan mengendalikan hatiku sendiri."

Sebab, mustahil hati mampu menampung dua kecenderungan atau lebih, kecuali manusia yang sedang mempersiapkan kehancuran dirinya sendiri.

Oleh KH.  Abdul Mun'im Muzani

TIGA MOBIL SAKSI KAROMAH KH. ADLAN ALY CUKIR

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly. Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yg khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Dalam buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly”, Anang Firdaus, penulis buku tersebut, menjelaskan setidaknya tiga peristiwa yg menunjukkan karomah Mbah Delan (panggilan akrab beliau) yg berhubungan dgn kendaraan, dalam hal ini mobil. Menariknya dari ketiga mobil tersebut bukan milik Kiai Adlan, melainkan milik orang lain.

Mobil Cerola milik H. Faqih, juragan sate

Pertama, mobil milik H. Faqih, salah satu tetangga dekat beliau di Cukir yang hingga sekarang memiliki warung sate yang cukup terkenal di Jombang. Mobil Cerola merah itu pernah dipakai Kiai Adlan untuk bepergian ke Jawa Tengah dalam rangka menghadiri suatu acara. Yg bertindak sebagai sopir saat itu seorang bernama Ma’mun, putra Pak Tohir.

Selesai acara, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba2 di tengah jalan, mobil itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yg berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan, “Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yg buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yg satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata, “Ya sudah, ayo naik”. Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dgn selamat.

Mobil sedan milik KH. Yusuf Hasyim

Kedua, mobil sedan , milik KH. M. Yusuf Hasyim atau Pak Ud yg saat itu menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Kiai Adlan meminjam mobil itu untuk menghadiri acara di Jawa Tengah. Saat perjalanan pulang di daerah Mantingan, oli mesinnya habis. Sang sopir yg bernama Pak Bari melaporkan kepada Kiai Adlan terkait hal itu.

Lalu, Kiai Adlan menjawab, “Teruskan saja tidak apa2”. Sontak membuat Pak Bari bingung, oli habis malah diminta meneruskan perjalanan. Ternyata, walau tanpa oli, mobil tetap bisa berjalan sampai rumah.

Mobil milik Pesantren Tebuireng

Mobil ketiga yg menjadi saksi karomah Sang Wali Cukir, yaitu mobil milik Pesantren Tebuireng pada zaman itu.  Saat itu Nyai Halimah, istri kedua Kiai Adlan, masih sugeng (hidup). Seorang bernama Aji pernah diminta mengantar Kiai Adlan Aly menghadiri undangan ke Bojonegoro menggunakan mobil milik Pesantren Tebuireng. Saat musim hujan, di tengah perjalanan mobil yg dikendarai Kiai Adlan dan Aji terperosok ke lubang jalan dan mogok alias tidak bisa nyala. Kiai Adlan bertanya, “Ada apa?”. “Mobilnya tidak bisa jalan, Yai,” jawab Aji. Kiai Adlan malah menjawab, “Ya sudah kamu di atas saja, saya turun”.

Sang Sopir mengira Kiai Adlan akan mendorong mobilnya. Ternyata bukan. Kiai Adlan Aly tidak mendorong mobil itu, tetapi justru mengangkat mobil tersebut, sehingga bagian yang masuk ke lubang bisa keluar. Perjalanan bisa dilanjutkan dan menyisakan keheranan di hati Aji.

Begitulah sedikit ulasan tentang karomah Sang Wali Cukir, Mursyid Terekat Qodiriyah wa Naqsabadiyah itu. Masih banyak karomah dan cerita unik tentang kiai yg juga semasa hidupnya memiliki sejumlah usaha di bidang perdagangan dan pertanian itu.

Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam.

*Disarikan dari buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng

"Karomah Mbah Yai Adlan Aly Tak Tersentuh Air Hujan"

“Hanya Ngaji Taqrib Saja!”
Itulah jawaban singkat Kikai Adlan Aly saat diwawancarai oleh peneliti dari Leknas dan UGM. Sewaktu diajukan pertanyaan, “ngaji apa kepada hadlratusy syekh ?” Padahal, siapapun tahu, selain hafal al-qur’an alim berbagai khazanah disiplin keilmuan.Tentunya, sang peneliti dibuat bingung bukan alang kepalang, lantaran tak sebagaimana lainnya yang cenderung justru memamerkan kepintarannya saat diminta pendapatnya.

Itulah, sesisi potret Yai Adlan. Selalu menyembunyikan kelebihan dirinya di hadapan orang lain. Senantiasa menganggap dirinya “biasa biasa” saja, tak ubahnya yang lainnya. Menyebut dirinya al- haqir dan al-dhaif tak jemu jemunya ditunjukkan kepada publik. Pernah mendengar Yai Adlan bertaushiyah ? Acapkali sekedar berdoa, narasi dan tutur katanya lebih panjang hanya saat menjadi qari’ Taqrib setiap ramadhan di serambi masjid pesantren Tebuireng.

Dan, hujan-pun turun begitu derasnya di langit Tebuireng. Entah alasan apa yang mendorongnya mesti bergegas kembali ke dalemnya di Tjoekir selepas membaca Taqrib pada khataman kitab ramadha-an di serambi masjid pesantren Tebuireng.Tak menunggu hujan reda. Sebagaimana kebiasaannya, Yai Adlan selalu berjalan kaki Tjoekir-Tebuireng. Masya Allah, saya di antara saksinya, sekujur tubuh Yai Adlan tak tersentuh oleh air hujan. Seolah hujan itu menghindarinya.

Lazimnya, memanglah setiap bacaan Taqrib sampai kepada bagian shalat istisqa’, kendati bukan musim hujan, tiba tiba langit berselimut mendung dan tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Dan, kejadian itu berulang di setiap tahunnya. Bisa dimengerti, bila lahir biografi Yai Adlan dalam kemasan “Karomah dan Waliyullah”.

"Bensin Ajaib Mbah adlan"

Usai Rejoso, pusat terekat Qodiriyah dan Naqsabandiah di Jombang, berpindah ke Cukir. Perkembangan itu berpusat di Pesantren Putri Walisongo yang didirikan oleh seorang kiai kharismatik dan alim, yaitu KH. Adlan Aly.

Santri sekaligus menantu keponakan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari itu juga dikenal sebagai kiai ahli Al Quran, banyak kiai dan ulama yang pernah belajar kepada kiai asal Maskumambang Gresik itu.

Sebagai mana ahli terekat dan mursyid, KH. Adlan Aly memiliki banyak karomah yang khariqul ‘adah (tidak biasa). Salah satunya, beberapa kali ditunjukkan ketika beliau sedang melakukan perjanan.

Suatu ketika selesai acara di daerah Jawa Tengah, Kiai Adlan langsung pulang, padahal saat itu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Tiba-tiba di tengah jalan, mobil (mobil H Faqih penjual sate jombang) itu kehabisan bensin. Praktis, sang sopir (ma'mun putra pak tohir) khawatir, karena pada jam selarut itu, tidak ada yang berjualan bensin eceran, sedangkan kondisinya jauh dari SPBU. Sang sopir lapor kepada Kiai Adlan,

“Mbah Yai, bensinnya habis. Lalu beli di mana? Kalau sudah jam sekian, tidak ada penjual bensin yang buka, Yai”.

Mendengar itu, Kiai Adlan pun keluar dari mobil dan berjalan kaki. Di jalan beliau menemukan pedagang degan (kelapa muda). Lalu beliau membeli dua plastik, yang satu diberikan sopir untuk diminum, sedangkan satunya ditaruh di dekat mesin mobil. Setelah itu, Kiai Adlan berkata,

“Ya sudah, ayo naik”.

Tak disangka, ternyata bensin mobil itu menjadi full. Perjalanan dapat dilanjutkan dan sampai di rumah dengan selamat.

Sumber:
buku “Karomah Sang Wali, Biografi KH. Adlan Aly” karya Anang Firdaus, diterbitkan Pustaka Tebuireng,

"Kyai Adlan Aly Tak Pernah Melihat Langit"

Sosok kiai yang sabar dan istiqamah ini sangat terkenang betul di benak para santri. Ketika mereka ditanya tentang “Bagaimana sosok Kiai Adlan menurut Panjenengan?” maka berbagai komentar yang hampir tak serupa senantiasa kami dengar. Ada yang menuturkan, "Beliau itu kiai yang tidak hanya hafal isi al-Quran tetapi juga menjalankannya”, “Kiai Adlan adalah kuncinya Kiai Hamid Pasuruan. Jadi kalau ingin mudah bertemu dengan Kiai Hamid harus sowan dulu ke Kiai Adlan.”
.
Bahkan Prof. Dr. KH. Thalhah Hasan menambahkan; “Di Tebuireng itu ada dua penghuni surga: Kiai Idris Kamali dan Kiai Adlan Aly. Beliau berdua sama-sama alim, wara', zuhud…"
.
Ada lagi kesan para santri yang membuat kami terkesan unik, “Kiai Adlan Aly itu kiai yang tidak pernah melihat langit.” Istilah ini menunjukkan saking tawadhu’nya Kiai Adlan. Ketika berjalan tidak pernah mengangkat kepala ke atas. Beliau senantiasa menunduk sopan.
.
Di Tebuireng, setiap bulan Ramadhan, Kiai Adlan membacakan kitab matan at-Taqrib. Tepat di posisi yang dulu digunakan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengajar, Kiai Adlam duduk di sana, sedangkan para santri mengitarinya sebagai halaqah ilmiah. Dalam pengajian ini ada karomah Kiai Adlan yang tampak di setiap tahunnya. Ketika pembahasan tepat pada bab Istisqa’ (ritual memohon hujan), anehnya langit Tebuireng menjadi gelap. Dan tiba-tiba saja, bulan Ramadhan yang biasanya kemarau turun hujan deras mengguyur lahan pondok.
.
Langit pun malu oleh Kiai Adlan. Ia tidak pernah dipandang oleh Kiai Adlan. Ketika ia disindir lewat pembacaan bab istisqa’ maka, ia langung menangis menurunkan air mata hujannya.
.
K.H. Adlan Aly wafat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1411 H/6 Oktober 1990 M dalam usia 90 tahun. Ulama kharismatik ini kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, Jombang.

"Rahasia Kiai Adlan Aly yang Tidak Mau Pamer Keilmuan"

Tidak salah orang yang pamer kepandaian, pamer kecerdasan, demi kepentingan agama dan kebutuhan masyarakat. Ada kemanfaatan yang lebih besar bahwa jika tidak seperti itu khawatir masyarakat akan salah jalan dan mengikuti orang-orang yang salah petunjuk, lebih-lebih soal agama. Ini soal pertimbangan masing-masing, yang tentu tujuannya harus baik dan mulia.

Di kesempatan lain, ada juga yang tidak suka pamer kepandaian. Ini juga tidak salah. Karena itu pilihan hidup dan bagian dari kehidupan. Berikut saya ceritakan kiai yang tidak suka pamer kepandaian. Saya kutip dari sumber buku kiai nyentrik membela pemerintah yang saya baca ketika di bus perjalanan malang Madura kemarin dan juga media lain.

Sebut saja namanya kiai Adlan Aly Jombang, beliau adalah murid Kiai Hasyim Asy’ari yang sejak dulu memang terkenal dengan kealimannya, ketawaduannya, dari raut wajahnya terpancar penuh ketulusan. Beliau juga senang bergurau yang cerdas, substantif dan halus, humornya tidak menyakiti orang lain.

Beliau juga sosok yang sangat disiplin, tepat waktu, memilki kemampuan yang bisa dikeluarkan kapan saja ketika terdesak. Beliau juga termasuk sosok yang tidak suka pamer kepandaian buktinya:

Pernah suatu ketika ada seorang peneliti dari leknas UGM Yogyakarta datang ke rumah beliau, tentu peneliti itu akan melakukan tugasnya sebagai peneliti, tidak sedang mau bercanda atau apa-apa, iseng-iseng. Tidak.

Memulai pertanyaan, peneliti bertanya, “ngapunten (mohon maaf) kiai, dulu ketika belajar ke Mbah Hasyim Asy’ari apa saja yang panjenengan pelajari ? Tanya seorang peneliti dengan wajah yang serius dan penuh keyakinan

“Cuma kitab taqrib saja” jawab kiai Adlan dengan senyumnya yang menunjukkan kerendahan hatinya.

Nah, tentu saja peneliti itu kaget’, “kok cuma taqrib saja, kan kitab taqrib itu kitab dasar pesantren, kecil lagi” batinnya. Karena tidak yakin dengan kemasyhuran, kealiman, dan kemampuan-kemampuan yang sering diceritakan banyak orang , sang peneliti tanya lagi:

” Masak iya kiai njenengan cuma belajar kitab taqrib saja, apa tidak ada kitab yang lain ?” Tambahnya sambil menunggu jawaban yang pasti dan meyakinkan.

“Ada, banyak juga yang lain yang saya pelajari, cuma yang saya ingat kitab taqrib saja, yang lain sudah lupa,” jawab Kiai Aly dengan sedikit mengelak dan menghindar dari rasa pamer.

Itulah kenapa saya katakan di atas kadang tidak pamer kepandaian itu bagian pilihan hidup. Mereka punya pertimbangan sendiri untuk bisa bermanfaat untuk agama dan bangsa. Tidak terkecuali pilihan yang diambil oleh kiai Adlan Aly ini.

Di beberapa literatur lain, kenapa kiai Adlan Aly cuma ingat kitab taqrib saja. Tidak heran dari beberapa kesaksian santri-santrinya tiap kali ngaji kitab Fathul Qorib-Taqrib dan masuk bab istisqo’ (shalat meminta hujan) ketika sudah dipraktikkan pasti langsung turun hujan, padahal sebelumnya cuaca panas. Dan kejadian terjadi berulang-ulang kali dan langsung disaksikan santri-santrinya.

Karenanya imam Nawawi menyebutkan dalam kitab Maraqil Ubudiyah bahwa dua hal penting yang harus diperhatikan seseorang dalam menunjukkan/memamerkan kepandaian atau apa saja. Satu, Mazdmumun (pamer yang dicela). Hal ini tentu memerkan prestasi bermaksud untuk menyombongkan diri, seolah-olah hanya dirinya lah yang punya prestasi seperti itu. Dan hal ini cenderung meremehkan orang lain dan mendiskreditkan orang lain

Dua, Mahbubun (pamer yang disenangi dan dianjurkan). Memamerkan prestasi, kepandaian atau sebuah kebaikan dan keberhasilan itu justru sangat dianjurkan oleh agama dengan syarat ada kemaslahatan terhadap agama.

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa yang dimaksud kemaslahatan agama adalah di dalamnya mengandung unsur amar ma’ruf nahi munkar, mengandung nasehat atau petunujuk untuk sebuah kemaslahatan.

"IJAZAH DOA KH. ADLAN ALY UNTUK PARA PENUNTUT ILMU"

Setiap pondok pesantren memiliki sesuatu yg menjadi ciri khas dari pondok pesantrennya masing-masing. Ciri khas ini akan melekat pada diri para santrinya. Berawal dari pendiri sebuah pondok pesantren, pengasuh, dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Begitu pula dalam hal amalan atau wiridan yg diberikan seorang kiai atau ibu nyai pengasuh pondok pesantren secara turun temurun kepada santrinya. Terkadang amalan yg diwariskan oleh Kyai atau Nyai pesantren tersebut merupakan amalan yg diberikan gurunya saat beliau masih menjadi santri di pondok pesantren terdahulu.

Seperti halnya amalan doa yg diberikan oleh muassis Pondok Pesantren Puteri Walisongo pertama, KH. Adlan Aly. Beliau mewariskan amalan berupa doa untuk mencerdaskan akal dan doa untuk menghafal al-Quran.

Doa Mencerdaskan Akal

Doa ini diambil dari QS. al-Anbiyaa ayat 79, dengan mengamalkan doa ini diharapkan dapat mencerdaskan akal orang yg membaca dan mengamalkannya, sebagai berikut:

فَفَهّمْنَهاَ سُلَيْمنُ وَ كُلاًّ اتَيْناَ حُكْماً وَّعِلْماً وَّ سَخَّرْ ناَ مَعَ دَاوُدَ الْجِباَلَ يُسَبِّحْنَ وَألطَّيْر وَ كُنَّأ فَعِلِيْنَ

“Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yg lebih tepat), dan kepada masing2, Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung2 dan burung2, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yg melakukannya.”

Doa ini di lafadzkan sebelum belajar dan setelahnya, bisa juga dibaca setelah sholat Magrib. Diharapkan dengan membaca ayat ini Allah Swt. memberikan pemahaman seperti apa yang Allah Swt. berikan kepada Nabi Sulaiman serta dapat memecahkan problematika kehidupan.

Doa untuk Penghafal Al Quran

Berikutnya adalah doa untuk Penghafal al-Quran. Doa ini dilafadzkan sebelum menghafal ayat al-Quran, diharapkan setelah membaca doa bisa diterangkan hatinya dan dilancarkan lisannya serta dapat mengamalkan kandungan ayat yg dihafalkan.

اَللَّهُمَّ نَوِّرْبِكِتاَبِكَ بَصَرى وَاَطْلِقْ بِهِ لِسَانِى وَاشْرَحْ بِهِ صَدْرِى واسْتَعْمِلْ بِهِ بَدَ نِى بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ فَاِ نَّهُ لاَ حَوْلَ وَ لاَقٌوَّةَ اِلاَّ بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Yaa Allah terangilah dgn Kitab Suci-Mu terhadap mataku, lancarkanlah lisanku dgnnya, lapangkanlah dadaku (hatiku) dengannya, jadikan badanku (diriku) mengamalkan isinya dengan pertolongan daya dan kekuatan-Mu. Sesungguhnya tidak ada daya dan  kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Swt. Yang Maha Luhur dan Agung”.

Wallahu’alam.....

Sunday, September 12, 2021

Siroh Singkat Wali Sanga.~~ "Al Habib Luthfi bin Yahya "

~~Siroh Singkat Wali Sanga.~~
          "Al Habib Luthfi bin Yahya "

Sebenarnya Wali Sanga di Indonesia itu tidak hanya yang biasa dikatakan oleh ahli sejarah, Saya akan bercerita tentang Wali Sanga yang ini menyimpang dari para ahli sejarah. Ahli sejarah itu membuatnya berdasarkan kepentingan politik. Wali sanga itu ada lima generasi.

Generasi pertama dipimpin oleh Syaikh Jamaludin Husein atau Syeikh Jumadil Kubro yang membawahi delapan wali lainnya. Sebagian terpencar di Sumatera.

Generasi kedua dipimpin oleh Syaikh Maulana Al-Malik Ibrahim yang membawahi delapan wali lainnya diantaranya Sayyidina Imam Quthub Syarif bin Abdullah Wonobodro, Syaikh Muhammad Sunan Geseng, Sayyid Ibrahim, Sunan Gribig, Amir Rahmatillah Sunan Tembayen, Imam Ali Ahmad Hisamuddin (Cinangka, Banten lama), al-Imam Ahmad Zainul Alam.

Generasi ketiga dipimpin oleh Imam Maulana Ibrahim Asmoroqondi/ Pandito Ratu (Tuban, Gresik) yang membawahi delapan sunan, diantaranya: Sunan Ali Al-Murtadlo (Genjang), Wali Lanang (Maulana Ishaq), Imam Ahmad Rahmatillah, Sayyid Jalal Tuban, Syaikh Datuk Kahfi/ Dzatul Kahfi/ Sayyid Mahdi Cirebon, Syaikh Muhammad Yusuf Parang Tritis Jogja, Syaikh Maulana Babullah (Belabenung).

Generasi keempat dipimpin oleh Imam Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel) yang membawahi delapan sunan diantaranya: Sultan Abdul Fatah, Sunan Drajat, Syaikh Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syaikh Maulana Utsman Haji, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman (Sunan Mejagung), Syaikh Maulana Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Sayyid Abdul Jalil (Sunan Bagus Jeporo, Bukan Syaikh Siti Jenar).

Generasi kelima dipimpin oleh Sunan Bonang yang membawahi delapan wali, diantaranya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijogo, Sultan Trenggono, Sunan Zainal Abidin/ Qadli Demak, Sunan Muria.

Pada masa Syaikh Jamaluddin Husein perjuangan dititikberatkan pada keorganisasian, dedikasi, ekonomi. Kemudian dilanjutkan dalam dunia pendidikan dan pengkaderan pada masa Sayyid Malik Ibrahim, sehingga dapat memasuki wilayah kerajaan tanpa campur tangan politik dan (imbalan) ekonomi. Selanjutnya pada masa Syaikh Asmoroqondi, mulai dilakukan pengaturan struktur organisasi sebagai media dakwah serta memperkuat perekonomian dan spiritual. Selanjutnya pada masa Sunan Ampel dilanjutkan dengan pemetaan geografi dan antropologi, pembangunan ekonomi dan pertanian, pengelolaan tanah hadiah dari Hayam Wuruk dan Gajah Mada, sehingga bisa menghidupi dakwah dan pendidikan. Selain itu, kerapian organisasi lebih disempurnakan sehingga melahirkan ketatanegaraan/negarawan, ekonom, pertanian, yang diantaranya dipegang oleh putra beliau, Maulana Hasyim, seorang ulama, fuqoha, tasawwuf, ekonom, mampu memberdayakan ekonomi umat, sehingga fuqara, masaakin, aytam, dan para siswa terjamin hidupnya.

Sunan Bonang; merupakan seorang yang ‘allaamah, membidangi segala ilmu, guru besar dari para sultan/ratu, senopati, adipati, tumenggung, dan guru para wali dan ulama. Kedudukan beliau shulthaan al-auliyaa’ fii zamaanihi.

Imam Ja’far Shadiq; merupakan seorang muhaddits dan faqiih, mahir ilmu kelautan, ekonomi, dan pola pendidikan sehingga mampu mensejahterakan kerajaan dan lingkungan, serta seorang budayawan.

Sunan Kalijogo; merupakan seorang ‘alim yang sangat memahami budaya, sekalipun aliran-aliran dan agama lain, sehingga mampu mengendalikan segala aliran, dari situ beliau mendapat gelar Kalijogo (kalinya aliran-aliran). Disamping itu, beliau merupakan budayawan, seniman, pengarang gending dan lagu yang berbentuk puisi ataupun syair. Beliau juga seorang dalang yang mampu memadukan dari mahabharata menjadi carangan, dari carangan menjadi karangan dan karangan itu menjadi pakem para dalang. Media tersebut juga menjadi media dakwah.

Sunan Giri (Muhammad ‘Ainul Yaqin); merupakan seorang yang mahir hukum, mufti di zamannya dan fatwanya sangat ditaati, pengaruh beliau sampai pada anak cucunya, diantara keabsahan para sultan di jawa, beliaulah yang melantiknya.

Sultan Abdul Fatah; merupakan seorang ‘alim bijaksana, luas wawasannya dalam kebangsaan, seorang negarawan, seorang politisi yang sangat rapi dalam mengatur struktur pemerintahan di zamannya, pengaruh beliau sampai malaka bahkan Turki di zaman itu.

Syaikh Ali Zainal Abidin / Qadli Demak; merupakan orang yang ‘allamah, kebijakan-kebijakan beliau dalam syariat sangat dihargai pada waktu itu, beliau sangat sukses dalam menjaga pemerintahan, keamanan, dan pertahanan nasional.

Sunan Gunung Jati; merupakan orang yang sangat ‘allamah, negarawan, budayawan, ahli strategi, pengaruhnya sangat luar biasa di kalangan muslim maupun non-muslim, disegani dan dicintai umat, serta menjadi pelindung umat dan bangsa.

Sunan Muria; merupakan shulthaan al-Auliyaa’ fii zamanihi, pembesar ahli thariqah, budayawan, seniman, ekonom. Pengaruh beliau sangat luar biasa dari semua kalangan menengah, atas, dan bawah. Pertumbuhan thariqoh di zamannya mekar. Beliau pendamai dan sangat disegani dan dicintai umat.

Sunan Bagus Jeporo (Syaikh Abdul Jalil); merupakan seorang sufi yang faqih, pengendali dari bentuk gejolak yang akan membawa perpecahan, sehingga tumbuh kedamaian dan ketentraman. Syaikh Abdul Jalil ini bukan Syaikh Abdul Jalil yang Syaikh Siti Jenar.

Demikianlah Siroh singkat Wali Songo yang disampaikan Habib Muhammad Luthfi Yahya di ndalem beliau pada hari jumat tanggal 13 April 2012,

Semoga kita bisa mengambil pelajaran, hikmah, dan menjadikan kisah di atas sebagai teladan untuk gerak dan perjuangan kita. Amien. Al-Fatihah.

#SLKTinfo