Monday, July 24, 2017

Mana yang lebih baik

* Sebuah Hikmah *

Seorang Guru ditanya tentang 2 keadaan manusia:

1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.

2. Manusia yg sangat  jarang  ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dgn sesama.

Lalu Sang Guru menjawab:

Keduanya baik;

@ Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yg sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yg buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yg baik lahir dan batinnya.

@ Dan yg kedua bisa jadi sebab kebaikan hati-nya, Allah akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yg juga memiliki kebaikan lahir dan batin.

Kemudian orang tsb bertanya lagi, lalu siapa yg tdk baik kalau begitu...???

Sang Guru menjawab:

"Yg tdk baik adalah kita, orang ketiga yg selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri".* Sebuah Hikmah *

Seorang Guru ditanya tentang 2 keadaan manusia:

1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci.

2. Manusia yg sangat  jarang  ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dgn sesama.

Lalu Sang Guru menjawab:

Keduanya baik;

@ Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yg sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yg buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yg baik lahir dan batinnya.

@ Dan yg kedua bisa jadi sebab kebaikan hati-nya, Allah akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yg juga memiliki kebaikan lahir dan batin.

Kemudian orang tsb bertanya lagi, lalu siapa yg tdk baik kalau begitu...???

Sang Guru menjawab:

"Yg tdk baik adalah kita, orang ketiga yg selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri".

Rabi'ah al adawiyah kecil

Rabi'ah al adawiyah, ketika beliau terlahir di dunia ini di rumah keluarganya tidak ada sesuatupun yg layak bagi seorang bayi yg baru di lahirkan.
ortunya sangat miskin sampai2 tidak punya lilin utk menerangi rumahnya, tdk punya minyak utk memasak dan tdk punya lembaran kain untuk membungkus bayi yg sedang lahir.
Rabi'ah mempunyai 3 saudari, oleh karena itulah beliau di beri nama Rabi'ah yg artinya anak yg ke empat.

Ayahnya seorang yg sholeh, ia telah berjanji kepada Allah utk tidak meminta sesuatupun kepada hamba dari hamba2-Nya,
tetapi pada hari itu ia pergi utk memenuhi permintaan istrinya agar mencari ibu susu dan karena kasihan thd anaknya.
ia pergi mengetuk pintu2 tetangganya tetapi pintu2 tsb tdk ada yg di buka dan tdk ada seorangpun yg menjawab panggila2nya.
ia kembali dalam keadaan bersedih, dan istrinyapun menangis.
sang ayah kemudian sholat dan membaca tasbih seperti biasanya. ia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Nabi shollallohu alaihi wasallam.
Nabi berkata kpdnya :
" janganlah bersedih, putrimu yg baru lahir adalah seorang sayyidah yg agung, dan sungguh 70 dari ummatku mengharapkan syafa'atnya."
kemudian Nabi memerintahkanya utk menghadap kepada Isa Zadan seorang Amir di daerah Bashroh dan menulis surat yg isinya adalah bahwa Nabi shollallohu alaihi wasallam mengunjunginya di dalam mimpi dan memerintahkan utk mendatanginya dan berkata kpdnya bahwa engkau sholat 100 roka'at setiap malam dan pada malam jum'at sebanyak 400 roka'at,
akan tetapi pada jum'at akhir engkau lupa melakukanya.
ingatlah, berikan 400 dinar kepada pembawa surat ini sebagai tebusan atas kelalaianmu itu.

Pagi harinya, ayahnya robi'ah menulis surat itu dan mengirimkannya melalui penjaga sang Amir.
Ketika sang Amir membaca surat tsb, ia memberikan 400 dinar saat itu juga dan memerintahkan utk mendatangkan orang yg mengirim surat. tapi ia tdk jadi mendatangkannya, sang Amir sendiri yg akan mendatanginya sebagai penghormatan thd orang yg mengutusnya dan sang Amir sendirilah yg akan menjadi wali dari putri yg agung derajatnya.

Robi'ah menghidupkan malam2nya dengan sholat, ketika fajar muncul beliau tidur sebentar kemudian bangun utk sholat subuh.
termasuk sebagian dari karomah beliau, ada seorang pencuri yg memasuki rumahnya dan saat itu beliau sedang tidur.
pencuri mengambil baju beliau, ketika mau keluar rumah ia mencari-cari pintunya tapi tdk ketemu.
ketika baju di letakkan maka pintunya terlihat, dan ketika bajunya mau di bawa maka pintunya hilang lagi, hal itu terjadi berulang kali.
kemudian ada suara tanpa rupa :
" tinggalkan baju dan pergilah, Kami yg menjaganya dan Kami tdk akan meninggalkannya utkmu walaupun ia sedang tidur. "

Wallohu a'lam.

~Tadzkirotul Auliya'

PAK KELIK DAN PRINSIP MEMUDAHKAN

PAK KELIK DAN PRINSIP MEMUDAHKAN
Oleh: Muhammad Hilmy

Setahun lalu, tepatnya tanggal 1 Dzul-Qa’dah 1437 H., paman saya, Agus H. Muhammad Rifqi Ali, atau “Pak Kelik”, wafat. Ribuan pelayat menghadiri prosesi pemakaman almarhum, sang perintis majlis “Diba`an ndalem” yg kemudian dikenal dg “Bil Musthofa”. Yg luar biasa di samping banyaknya pelayat yg hadir, keranda beliau ditandu dari Krapyak menuju Pemakaman nDongkelan tidak diiringi dg “la ilaha illallah...” seperti biasa, tapi diiringi dg bacaan shalawat kegemaran beliau: “ya nabi salam ‘alayka, ya rasul salam ‘alayka, ya habib salam ‘alayka, shalawatullah ‘alayka…”. Bacaan shalawat itu terus menerus berkumandang, disertai isak tangis para pelayat dan orang2 yg melihat keranda beliau di sepanjang jalan menuju nDongkelan… Subhanallah.

Apa sebenarnya kunci sukses Pak Kelik, yg berhasil menghimpun jama’ah dan memanejemeni majlis Diba`an yg semula kecil dan terbatas di kalangan santri ndalem Simbah KH. Ali Maksum rahimahullah, dan kemudian menjadi jama’ah kemisan yg dihadiri oleh 300-an orang?! Apa sih hebatnya beliau, sehingga kumpulan yg semula ada di kamar santri, dan kemudian menjadi majlis yg perhelatannya ada di halaman pondok, dg panggung dan alat2 perlengkapannya yg lumayan, dg menyewa sejumlah tenda dan menyediakan ratusan konsumsi?! Apa keutamaan beliau hingga setiap kali “show” undangan keluar, dan ziarah wali songo, jamaah yg berkenan ikut adalah sejumlah 5-6 bis besar?! Apa keistimewaan beliau, sehingga jama’ah beliau bisa berasal dari beragam profesi: mulai dari ibu rumah tangga, petani, pengacara, notaris, pegawai negeri, hingga pengusaha, utamanya para pedagang, penjual sayur, penjual gorengan, penjual bakso, penjual emas, penjual bensin…

Jawaban yg paling tepat tentu adalah “wallahu a’lam”. Tapi ada hal menarik yg barangkali menjadi salah satu kunci sukses beliau dalam memimpin dan mengorganisir jama’ah, yaitu prinsip memudahkan. Prinsip ini beliau jadikan pedoman dan dijalankan sedemikian rupa, serta dipertahankan dari anasir-anasir yg melawannya. Contoh yg gampang diingat bagi mereka yg mengenal beliau, pak Kelik biasa memanggil orang dg nama2 yg mudah diucapkan. Beliau memanggil nama Burhan dg “Burham”, nama Sutarjito dg “Sarjito”, nama Samito dg “Sarminto”, nama Mudhoffar dg “Gopar”… Lihatlah perubahannya, ada yg ditambah, ada yg dikurangi, ada yg diganti, ada yg diubah…, tapi semuanya menjadi “lebih familier dan lebih nyaman” diucapkan.

Beliau juga menggunakan prinsip ini dalam memimpin bacaan shalawatan. Bagi yg tahu bahasa Arab, tentu ada satu, dua, tiga, kata yg tidak pas pelafalannya, atau tatacara pemenggalan kata yg tidak sesuai pengucapannya…, seperti kata “ra`ufun rahim” dibaca “ra`ufun rahimun”, atau “madza yu’abbiru ‘an ‘ulaka maqali” dibaca “madza yu’ab, madza yu’ab, biru ‘an ‘ulaka maqali…”, tapi karena prinsip memudahkan, maka hal itu berlaku. Jama’ah pun maklum, tidak mempermasalahkan, dan malah senang mengikutinya… Hehehe.

Prinsip memudahkan (at-taysir) sebenarnya sangat dianjurkan oleh agama ini. Penerapannya yg kadang tidak mudah, karena mesti dimulai dari hati yg lapang, wawasan yg luas, berbaik sangka dan rendah hati. Sikap ini sesuai dg nama beliau “Rifqi” yg berarti halus, ramah dan bersahabat. Secara “gen”, sikap ini tentu adalah warisan dari Allahuyarham Simbah KH. Ali Maksum yg juga dikenal sebagai kiai yg egaliter, menyukai harmoni dan persatuan, serta suka menjadikan mudah urusan2 agama. Sedang antara pesan agama yg paling jelas dijadikan pijakan dalam hal ini adalah sabda Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam:
إن الدين يسر. ولن يشادّ الدينَ أحدٌ إلاّ غلبه. فسدِّدوا، وقاربوا، وأبشروا... - رواه البخاري عن أبي هريرة رضي الله عنه
(Sesungguhnya agama itu mudah. Orang yg mempersulit (berlebih2an) dalam melaksanakannya pasti malah akan kalah (artinya: justru tidak mampu melaksanakannya dg baik). Oleh karena itu, lakukanlah dg sederhana, mudah dan menyenangkan…) [Hadits riwayat Imam al-Bukhari dari Sahabat Abu Hurayrah radliyallahu ‘anh)

Pak Kelik jelas menerapkan hal2 tersebut dg baik. Beliau sungguh tidak mempersulit diri dg melakukan hal2 yg beliau sendiri tidak mampu. Umpamanya dalam hal ceramah maupun tahlil. Beliau justru mendelegasikan kepada para kiai Krapyak, alumni, atau dai2 kondang di seputar Jogja. Dalam hal menyenangkan jama’ah, antara lain beliau tempuh melalui silaturrahim dan anjangsana dalam berbagai kesempatan. Beliau juga berusaha senantiasa ramah dg jama’ah, dan bahkan kadang memberikan guyonan2, baik langsung maupun melalui sms atau pertelepon, yang menjadikan mereka semakin akrab dan merasa diperhatikan. Beliau juga tidak membeda2kan jama’ah, antara mereka yg kaya, maupun yg miskin; mereka yg jadi pejabat, pengusaha atau rakyat biasa.

Dampak dari yg beliau lakukan luar biasa. Jama’ah merasa senang karena diperhatikan. Masing2 mereka merasa dekat dan akrab justru karena sering disapa, digoda atau dijadikan obyek guyonan. Mereka tidak merasa takut atau sungkan karena beliau tidak mengambil jarak. Jama’ah justru merasa di-uwongke (dihormati) karena bacaan2 mereka yg “pating pletot” tidak pernah dipermasalahkan, sebab yg penting bagi Pak Kelik adalah mereka masih mau ngaji dan belajar. Mereka juga dilibatkan sebagai pengurus, maupun panitia dalam acara2 yg diadakan, sebagai upaya mendekatkan mereka ke pondok pesantren, yg bagi sebagian mereka masih terlihat “agung” dan “sakral”. Partisipasi dan keikutsertaan mereka inilah yg kemudian memunculkan gagasan2 kreatif, seperti membikin seragam bagi segenap anggota, mengundang grup kasidah tertentu atau mengajak satu dua pelawak untuk ikut mengisi “pengajian”. Dan jadilah majlis Diba`an ini menjadi semakin besar, populer dan bertambah banyak anggotanya...

Inilah antara hal yg berlaku di antara keistimewaan2 Pak Kelik, paman saya. Tentu ada banyak hal lain di samping prinsip memudahkan, seperti kesan yg saya tangkap dari beliau. Tapi apapun, semoga hal2 yg sudah beliau diupayakan dapat terus berlaku, lestari dan mbarokahi. Bukan sebab Pak Keliknya, tapi karena yg kita lakukan adalah bagian dari agama, yaitu memakmurkan shalawat dan membumikan ajaran Islam. Semoga.
Rabbi fanfa’na bibarkatihim, wahdinal-husna bihurmatihim,
wa amitna fi thariqatihim, wa mu’afatin minal-fitani, amin ya mujibas-sa`ilin.

Sunday, July 23, 2017

Khalifah Ketujuh Umayyah: Sulaiman yang Narsis Oleh  Nadirsyah Hosen

Sulaiman bin Abdul Malik berusia sekitar 40 tahun ketika akhirnya berhasil menggantikan kakaknya, al-Walid, sebagai Khalifah ketujuh dari Dinasti Umayyah. Al-Walid dan Sulaiman sebelumnya ditunjuk satu paket oleh ayahanda mereka, Khalifah Abdul Malik bin Marwan.

Dalam tulisan sebelumnya, Kekuasaan itu Meninabobokan [Tentang Khalifah Abdul Malik dan Al-Walid], saya ceritakan bagaimana al-Walid gagal menggeser Sulaiman dari jalur suksesi karena keburu wafat. Lantas, bagaimana sosok dan kepemimpinan Khalifah Sulaiman ini?

Sulaiman dibai’at menjadi Khalifah pada tahun 96 H. Dia tercatat sebagai perawi Hadits Nabi dari jalur ayahnya dan Abdurrahman bin Hunaidah. Sejarah mencatat bahwa dia dikenal sebagai orator ulung dan senang berperang. Dia melarang nyanyian dan musik. Dia telah menghidupkan kembali Sunnah Nabi untuk salat di awal waktu, yang mana sebelumnya, menurut Imam Suyuthi, Bani Umayyah mematikan Sunnah Nabi dengan mengakhirkan waktu salat.

Di samping itu, masih menurut Imam Suyuthi, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik terkenal sebagai pecinta kuliner; dia bisa melahap satu ekor kambing sendirian, plus enam ekor ayam dan memakan enam puluh buah delima sebagai cemilan “cuci mulut”-nya. Namun demikian, dia seorang khalifah yang percaya diri bahkan sampai ke tingkat narsis.

Baik Imam al-Thabari maupun Imam Suyuthi sama-sama meriwayatkan kisah bagaimana Sulaiman memakai surban hijau dan becermin lalu memuji dirinya sendiri yang, menurut penilaian dia sendiri, “dalam puncak kesempurnaan dan keperkasaan seorang lelaki”. Mungkin kalau beliau saat itu sudah punya akun media sosial, isinya hanya dipenuhi foto selfie dia seorang saja. Ironisnya dia wafat seminggu setelah sikap narsisnya itu.

Bagaimana dengan kebijakan Khalifah Sulaiman? Di masa Umayyah terjadi tarik-menarik pengaruh antara dua kubu, yaitu kubu Qays dari Arab Utara dan kubu Yaman dari Arab Selatan. Pada masa Mua’wiyah, pendiri Dinasti Umayyah, kubu Qays mendapat angin segar. Pada masa Marwan, kubu Yaman mendukung dan membela Marwan, sementara kubu Qays mendukung Abdullah bin Zubair di Mekkah.

Pada masa Sulaiman bin Abdul Malik ini, angin politik yang semula berpihak kepada Qays di masa Khalifah al-Walid menjadi berubah arah. Sulaiman yang sebelumnya Gubernur di Palestina lebih condong pada kelompok Yaman. Kita menjadi paham bagaimana agama dan etnik saling berkelindan dalam politik kekhilafahan masa lalu.

Itulah sebabnya Sulaiman segera mengganti sejumlah gubernur yang berasal dari Qays dengan para tokoh Yaman. Misalnya, Utsman bin Hayyan, Gubernur Madinah yang baru menjabat kurang dari dua tahun, langsung dicopot. Utsman saat itu sedang berkhalwat di Masjid Nabawi untuk beribadah menghadapi malam ke-21 Ramadhan. Namun, sikapnya ini hanya dianggap pencitraan belaka agar terkesan alim. Maka, segera saat utusan Khalifah Sulaiman tiba di Madinah, tentara khalifah mencopot serta
menyeretnya keluar dengan rantai besi.

Gubernur Mekkah, Khalid bin Abdullah al-Qasri, juga dicopot dan diganti dengan tokoh dari Yaman, Thalhah bin Dawud al-Hadrami.

Nasib lebih tragis dialami Gubernur Khurasan Qutaybah bin Muslim. Qutaybah adalah seorang jenderal ternama, bersama al-Hajjaj bin Yusuf, di masa khalifah sebelumnya yang amat besar jasanya mendukung Bani Umayyah dengan segala cara. Ketika al-Walid hendak menyingkirkan Sulaiman dari jalur suksesi, Qutaybah mengusulkan agar al-Walid memilih anaknya ketimbang mengikuti kesepakatan sebelumnya untuk mengangkat Sulaiman.

Begitu Sulaiman berhasil menjadi khalifah, Qutaybah merasa dia akan menjadi target politik pembalasan dari Khalifah Sulaiman. Begitulah nasib pejabat saat itu; tergantung dengan politik khalifah yang baru. Dari nasib baik sebagai pejabat ternama bisa berubah seketika menjadi pesakitan atau kehilangan nyawa dan segalanya dalam sekejap.

Qutaybah sadar gentingnya posisinya. Lantas dia mendahului dengan mengirim tiga surat berbeda kepada khalifah, yang isinya selain menceritakan loyalitas dan kontribusinya kepada khalifah yang lama, Qutaybah juga meminta jaminan agar posisinya sebagai Gubernur Khurasan tidak diutak-atik. Qutaybah sedikit mengancam dan siap memberontak seandainya khalifah mencopotnya.

Sebagai Jenderal Perang, Khalifah Sulaiman cukup cerdik menghadapi Qutaybah. Dia mengirim utusan kepada Qutaybah yang menjanjikan agar Qutaybah tetap menjadi Gubernur. Namun Qutaybah yang panik dan gelisah sudah tidak sabar menunggu kepastian datangnya utusan khalifah menjawab suratnya.

Qutaybah, sebagaimana dilaporkan dengan sangat rinci oleh Imam al-Thabari, mengumpulkan pasukannya dan menyatakan berontak dari Khalifah Sulaiman. Pasukannya terdiam. Qutaybah menjadi marah dan mulai nyinyir sana-sini menyasar ke kelompok tertentu dalam pasukannya.

Alih-alih mendukung Sang Jenderal yang juga seorang Gubernur, pasukannya menjadi marah. Apalagi utusan Khalifah Sulaiman tiba dan ternyata Khalifah tetap mempertahankan Qutaybah sebagai Gubernur.

Qutaybah terkejut dengan strategi politik Khalifah Sulaiman. Pasukannya sendiri semakin naik pitam. Ternyata jelas sudah bahwa yang berkhianat itu Qutaybah, bukan Khalifah Sulaiman. Akhirnya pasukannya memberontak melawan Qutaybah dan kemudian memenggal kepala sang Gubernur dan mengirimkannya kepada Khalifah Sulaiman.

Ikut dibantai oleh pasukannya sendiri adalah keluarga Qutaybah, termasuk saudara dan anaknya. Strategi Khalifah Sulaiman memecah sendiri pasukan Qutaybah dan meminjam tangan para komandan di lapangan untuk menghabisi Qutaybah. Ini namanya nabok nyilih tangan. Tumindak ala kanthi kongkonan wong liya. Melakukan perbuatan jelek dengan meminjam tangan orang lain.

Meski demikian, meminjam tangan orang lain itu bisa jelek dan bisa juga untuk tujuan yang mulia. Salah satu kelebihan Khalifah Sulaiman dalam masa 3 tahun kepemimpinannya adalah dia menjadikan Umar bin Abdul Azis sebagai tangan kanannya. Kebijakannya banyak dipengaruhi oleh Umar bin Abdul Azis.

Umar adalah putra Abdul Azis yang seharusnya menjadi khalifah menggantikan Abdul Malik. Namun Abdul Azis wafat terlebih dahulu. Dan kini anaknya ketiban wahyu keprabon.

Karena peranannya membuka jalur kekuasaan kepada Umar bin Abdul Azis inilah Imam Suyuthi memuji Khalifah Sulaiman dan menganggapnya sebagai salah satu khalifah terbaik dari kalangan Dinasti Umayyah. Bahkan Khalifah Sulaiman tidak menunjuk anaknya sebagai penggantinya, seolah memutus tradisi sebelumnya, tetapi malah menunjuk Umar bin Abdul Azis sebagai penggantinya. Bagaimana kisahnya?

Setelah 3 tahun memerintah, Khalifah Sulaiman jatuh sakit. Salah seorang penasihatnya bernama Raja’ bin Hywah terbukti berhasil mempengaruhi Khalifah untuk bertindak benar dalam urusan suksesi kepemimpinan ini. Sulaiman semula hendak menunjuk anaknya. Namun anaknya, Muhammad bin Sulaiman, saat itu berusia 12 tahun. Nah, Raja’ bin Haywah menolak ide Khalifah Sulaiman ini.

“Bagaimana dengan anakku yang lain, Dawud bin Sulaiman?” tanya Khalifah Sulaiman.
Raja’ menjawab: “Dia sedang berperang di Konstantinopel, terlalu jauh jaraknya untuk dipanggil pulang, dan kita tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah wafat.”

Lantas Raja’ bin Haywah menyarankan Khalifah Sulaiman memilih al-rajul al-shalih (lelaki yang saleh). Khalifah memahami bahwa yang dimaksud itu adalah Umar bin Abdul Azis. [Baca: Belajar Politik Moral] 

“Tapi, keluargaku, keturunan Abdul Malik, tidak akan menerimanya. Karena Umar itu keturunan Abdul Azis, meski sama-sama putra Marwan bin Hakam.” Khalifah tetap galau.

Maka, langkah kompromi diambil. Sebagaimana Marwan dan Abdul Malik yang menulis dua nama pengganti mereka secara berurutan, Khalifah Sulaiman menulis dua nama, yaitu Umar bin Abdul Azis, dan setelahnya akan digantikan oleh Yazid bin Abdul Malik. Langkah ini berhasil mencegah Hisyam bin Abdul Malik, yang sangat ambisi berkuasa, untuk naik sebagai khalifah.

Namun, berbeda dengan Marwan dan Abdul Malik, surat penunjukkan kedua orang tersebut ditulis dalam surat tertutup. Keluarga Umayyah diminta berbai’at kepada nama-nama yang tercantum dalam surat yang tersegel tanpa mereka tahu siapa nama-nama itu. Dengan cara ini mereka khawatir seandainya menolak berbai’at padahal jangan-jangan nama mereka yang disebut dalam surat itu. Bahkan Sulaiman telah memerintahkan bahwa barangsiapa yang menolak, maka akan dipenggal kepalanya. Akhirnya mereka menerima dan berbai’at.

Ketika Sulaiman wafat, Raja’ bin Haywah membacakan isi surat tersebut. Ucapan yang sama namun dengan reaksi berbeda dicatat oleh Imam al-Thabari. Ketika nama Umar bin Abdul Azis dibacakan sebagai pengganti khalifah, Umar tertunduk lemas dan spontan berucap inna lilahi wa inna ilaihi raji’un.

Umar memandang ini sebagai musibah besar karena terpilih menjadi khalifah. Sementara itu, wajah Hisyam bin Abdul Malik pun tertunduk lemas dan spontan berucap inna lilahi wa inna ilaihi raji’un, sebagai ungkapan kekecewaan akibat tidak terpilih menjadi Khalifah.

Lantas, bagaimana kepemimpinan khalifah yang baru terpilih, yaitu Umar bin Abdul Azis? Mengaji sejarah politik Islam akan dilanjutkan pada kesempatan berikutnya, insya Allah