Thursday, November 30, 2017

TEORI MEMPRODUKSI ANAK AGAR BISA JADI ULAMA

TEORI MEMPRODUKSI ANAK AGAR BISA JADI ULAMA

KH. Abdul Qoyyum Mansur, Lasem, Jateng saat ngaji di acara haul KH. Abdul Fattah Hasyim dan masyayikh di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kamis (09/02/2017) menjelaskan teori produksi ulama dalam pandangan tasawuf.

Pertama, teori tempat. "Tempat kelahiran mempengaruhi karakter seseorang," kata Gus Qoyyum. Ia menyontohkan Hakim bin Hizam dan Sayyidina Ali yang lahir di dalam Ka'bah. Hakim menjadi dermawan hingga rela menjual kantornya untuk disedekahkan. Sayyidina Ali menjadi ahli ilmu.

Nabi Muhammad SAW sampai berkata, aku gudangnya ilmu dan Ali pintunya. Kita mengenal Sayiddina Ali sebagai sahabat yang cerdas. Seorang ahli hadist India bernama Husyamuddin al Muttaqi al Hindi, menulis dalam kitabnya Kanzul Ummal bahwa Sayiddina Ali pernah berpidato secara spontan sebanyak 5 halaman tanpa huruf alif.

"Jadi kalau akan melahirkan, cari tempat yang baik. Misalnya rumah sakit Islam, bisa RSNU atau RS Muhammadiyah. Atau cari keluarga dan lingkungan yang baik," sarannya.

Kedua, teori yang dikatakan Gus Qoyyum adalah teori keluarga. Di dalam Al-Quran, ada 26 kali penyebutan keluarga dengan kata ali, ala danalu. Keluarga Nabi Ibrahim dua kali disebut, keluarga Nabi Luth empat kali, lalu keluarga Firaun yang paling banyak disebut, hingga 14 kali.

"Siapapun, bisa punya jiwa Fir’aun. Penguasa maupun ulama juga bisa punya jiwa Fir’aun," tuturnya.

Ilmuwan Jepang sepakat bahwa anak usia empat bulan dalam kandungan yang diperdengarkan musik, bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya. "Kalau ingin anak jadi penyanyi, sejak empat bulan di kandungan perdengarkan lagu-lagu. Kalau ingin anak pintar ngaji, perdengarkan bacaan Quran," paparnya.

Ketiga, adalah teori seks. Disebutkan Gus Qoyyum. Dulu, katanya, ada wali buta bernama Ali Al-khowash. "Semua ilmunya laduni," imbuhnya.

Ali Al-Khowash pernah menuturkan, siapa yang dibayangkan sebelum, selama dan setelah berhubungan seks, akan mempengaruhi anak. sebab ada energi yang mengalir dari pikiran ke dalam jiwa, lalu ke anak. "Kalau yang dipikirkan ulama, jadinya ulama. Kalau yang dipikirkan penyanyi, ya jadi penyanyi," ucapnya.

Gus Qoyyum lantas menceritakan kandungan QS Ali Imron 37-39. Dalam ayat tersebut, Nabi Zakariya sangat mengagumi Maryam karena tiap kali mendatangi kamar Maryam di masjid, selalu ada makanan dari Allah.

Nabi Zakariya lalu berdoa minta anak. Kemudian diberi anak Nabi Yahya. "Nabi Yahya ini ada kesamaan dengan Maryam. Sama-sama tidak menikah," jelasnya.

Gus Qoyyum menambahkan, apa yang kita cintai, apa yang kita pikirkan, energinya akan menyalur dalam diri kita. "Kalau kita cinta Rasulullah, maka Allah akan mentransfer energi sehingga karakter kita mirip Rasulullah," lanjutnya.

Napoleon Bonaparte dijadikan contoh oleh Gus Qoyyum. Katanya, setiap ketemu wanita tua, pemimpin Perancis itu selalu berhenti menghormat. Itu dia lakukan karena setiap melihat wanita tua, dia teringat ibunya. "Dia pun jadi pemimpin yang karakternya baik seperti ibu," simpulnya.

Keempat, teori produksi ulama, kata Gus Qoyyum, adalah terori transfer. Dulu, katanya, ada seorang ulama bernama Sa'duddin Al-Taftazani. Beliau belajar puluhan tahun tapi tetap bodoh hingga suatu hari ada orang datang kepadanya memberitahu bahwa dia ditunggu Rasulullah.

Dia lalu datang dan disuruh membuka mulutnya, lalu diludahi Rasulullah. Sejak itu, dia menjadi ulama brilian. "Ada kesunahan, kita sowan ulama membawa kurma lalu minta ulama tersebut memamahnya. Kemudian kurma pamahan tersebut diberikan pada anak kita," paparnya.

Waktu kecil, saya sering makan sesuatu yang dipamahkan oleh bapak saya. Bisa jadi, gus-gus itu jadi ulama karena kecilnya sering makan dari makanan yang dipamah bapaknya yang seorang kiai.

Tokoh Muhammadiyah Jombang, KH Muchid Jaelani sempat cerita, saat mondok di Tebuireng, mulutnya pernah diludahi Gus Kholiq, pengasuh Pesantren Tebuireng yang dikenal sakti. Sejak itu, beliau bisa membaca sendiri kitab-kitab kuning meskipun belum pernah diajarkan kiai.

Di akhir ceramah, Gus Qoyyum memberikan ijazah yang sanadnya sampai ke Mbah Hasyim Asy'ari. Ijazah tersebut didapatkan Gus Qoyyum dari abahnnya. Ini yang diijzahkan:

Membaca kalimat "Tahasshontu Bihisni Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasuulullah" sebelum beranjak tidur. Dibaca 4 kali. Bacaan pertama sembari meludah ke kanan, bacaan kedua, meludah ke kiri. Bacaan ketiga dan keempat, meludahnya ke depan dan belakang.

Ijazah di atas bermanfaat untuk menjaga jiwa raga saat tidur dan setelahnya. Jika Anda ingin mengamalkan, silakan ketik Qabiltu (Saya terima) di kotak komentar di bawah ini.

Wednesday, November 29, 2017

Reformasi Keagamaan Arab Saudi dan Wahabisme di Indonesia

Kendi, NU Online | Rabu, 29 November 2017 20:00

Oleh M. Imdadun Rahmat

Reformasi politik yang bergulir di Arab Saudi memunculkan tanda-tanda orientasi baru Negara itu termasuk reformasi paham keagamaan.  Negara kaya minyak yang telah lama mengembangkan Wahabisme global dan menyokong berkembangnya Wahabisme di Indonesia itu ingin perubahan. Arah baru dimaksud adalah menghentikan radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme. Raja Salman, penguasa Nejed dan Hijaz itu menginginkan kembali kepada Islam moderat. 

Wacana baru yang dilontarkan Pangeran Muhammad bin Salman ini menimbulkan harapan yang tampaknya berlebihan dari publik Nahdliyyin. Tampak ada harapan bahwa kelompok Salafi yang selama ini membid’ah-bid’ahkan kaum Nahdliyyin akan berhenti beroperasi karena bantuannya dihentikan oleh Arab Saudi. Ada harapan kehidupan akan damai dan tenang karena tv, radio, terbitan, medsos dan panggung-panggung para ustadz Salafi/Wahabi akan berhenti menfitnah, mencerca dan mendelegitimasi NU. Bahkan, ada harapan dana dari Arab Saudi yang selama ini tidak pernah seriyal pun diterima oleh kaum Nahdiyyin akan menghampiri mereka. 

Apakah harapan Nahdliyyin itu akan menjadi kenyataan?

Ini terkait dengan pertanyaan tentang hakikat perubahan itu. Apa sesungguhnya yang dimaksud rejim Saudi sebagai radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme? Kelompok mana yang dimaksud dengan itu? Kemudian, apa yang dimaksud dengan Islam moderat? Artikel pendek ini hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Koalisi Permanen Bani Saud dan Alu Syaikh

Arab Saudi menjadikan Islam sebagai agama resmi Negara. Meskipun tidak ada dokumen tertulis, Wahabi/Salafi merupakan aliran resmi yang penyebarannya dibiayai Negara. Jabatan-jabatan tinggi keulamaan dipegang oleh Alu Syaikh, sejumlah ulama yang merupakan keturunan Muhammad Bin Abdul Wahhab. Ulama Wahabi/Salafi seperti Abdullah Bin Baz menduduki status yang sangat tinggi dan didukung penuh oleh pemerintah untuk menyebarkan dan mengembangkan Salafiyah garis Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan Muhammad Bin Abdul Wahhab di dalam negeri dan ke seluruh dunia Islam.

Di waktu yang sama pemerintah menerapkan berbagaipolicy yang cenderung mempersempit ruang gerak madzhab lain. Sebagai imbalannya, Wahabi/Salafi menjadi pendukung paling loyal terhadap kekuasaan Raja Saudi. 

Koalisi ini terbentuk sejak awal lahirnya kerajaan Arab Saudi. Semenjak fase merebut kekuasaan di wilayah Nejed (Jazirah Arabia bagian Timur), tepatnya di Dir’iyyah, Raja Saud dibantu oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Abdul Wahhab memiliki pasukan Paderi yang berjumlah besar yang menjadi pasukan inti Raja Saud. Pasukan Paderi ini adalah para pengikut Abdul Wahhab yang puritanis yang mencita-citakan pembersihan dan pemurnian ajaran Islam dari bid’ah, khurafat, dan takhayul.

Pasukan ini dikenal militan, ganas dan tanpa kompromi. Kontribusi tetara Wahabi sangat besar dalam berbagai kemenangan Raja Saud. Koalisi itu juga bahu-membahu merebut wilayah Hijaz (Jazirah Arab bagian barat) termasuk Mekah dan Medinah yang menandai lahirnya kerajaan besar Saudi Arabia. 

Itulah sebabnya, sejak awal merebut Mekah dan Madinah, Raja Saud menerapkan kebijakan sapu bersih  apa yang dianggap bid’ah, khurafat, dan takhayyul. Madzhab yang empat dibatasi (kecuali Madzhab Hambali versi Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qoyim). Para ulama dan imam masjid Haramain diganti dengan para tokoh Wahabi. Wahabiyah didukung penuh oleh kerajaan untuk menjadi satu-satunya aliran di Arab Saudi. Situs-situs peninggalan Nabi, keluarga Nabi, dan para Sahabat dihancurkan termasuk makam keluarga Nabi serta para sahabat dan tabiin.

Jika saja tidak mendapatkan protes keras dari seluruh penjuru dunia Islam makam Nabi juga akan dihancurkan. Bahkan, tarekat sufiyyah dilarang sama sekali. 

Koalisi ini makin menjadi-jadi setelah Arab Saudi panen minyak sejak 1930-an dan mulai tahun 1975 menjadi Negara super kaya. Arab Saudi ingin menjadi yang terdepan di dunia Islam. Ia bersaing dengan Mesir, Irak, Turki,  Syiria dan Iran. Saudi ingin pengaruhnya meluber ke penjuru negeri-negeri OKI. Salah satu wasilah yang dipakai adalah penyebaran Wahabi ke seluruh dunia. Dengan semakin kuatnya Wahabi di sebuah Negara, maka publiknya  akan menggeser dukungan kepada Negara-negara kuat saingan Saudi. 

Internasionalisasi Wahhabi ini setidaknya dilakukan dengan beberapa strategi. Pertama, memberikan dukungan finansial kepada organisasi-organisasi penting. Cara ini dilakukan secara lebih canggih dan menyeluruh terutama pada tahun 1980-an dengan menciptakan organisasi perwakilan seperti Liga Muslim Dunia (Rabithah al-Alam al Islami), yang secara luas mendistribusikan literatur Wahhabi dalam semua bahasa utama dunia, memberikan hadiah dan sumbangan, serta menyediakan dana untuk jaringan penerbit, sekolah, mesjid, organisasi, dan perseorangan.

Tentu saja efek kampanye ini adalah munculnya banyak gerakan Islam di seluruh dunia yang menjadi pendukung ideologi Wahhabi. Kedua, persebaran Wahhabi juga didukung oleh berbagai institusi baik institusi sosial-keagamaan, pendidikan, institusi bisnis dan media massa seperti penerbitan buku, koran, radio, TV dan majalah maupun institusi politik dan pemerintah, dan juga perseorangan seperti imam, guru, ustadz, dan penulis  yang “secara oportunis” ingin mengambil untung dari donasi Saudi. 

Koalisi Rezim Saudi dengan Wahabi/Salafi makin kuat saat ini karena Iran semakin menonjol sebagai saingan Saudi di regional Timur Tengah maupun di dunia Islam. Saudi juga terlibat perang dengan pihak-pihak yang didukung  Iran; Rejim Basyar Asad dan Pemberontakan Houti di Yaman. Wahabi/Salafi menjadi alat yang efektif untuk melawan pengaruh Iran di dunia Islam dengan gerakan anti Syi’ah. Intinya, Syi’ah bukan Islam oleh karena itu ia harus diisolasi dari pergaulan dunia Islam. Iran harus keluar dari OKI, atau minimal tidak menduduki posisi penting di OKI. 

Melihat besarnya kepentingan Kerajaan Saudi terhadap Wahabi/Salafi sebagai pendukung kekuasaan dan kepentingan politik regional dan internasional ini, berat rasanya Arab Saudi meninggalkan Wahabi/Salafi. Di lain pihak, jaringan Ahlussunnah Waljamaah (non-Wahabi) di Arab Saudi telah terlanjur berantakan dihajar oleh pemerintah Saudi, tinggal sisa-sisanya, antara lain jaringan Syaikh Alwi Al-Maliki.

Oleh karenanya Pangeran Muhammad Bin Salman tidak pernah mengatakan akan memberantas Wahabi. Yang ia katakan adalah memberantas ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif. Siapakah mereka?

Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafi Takfiry

Wahabisme/Salafisme telah berkembang jauh dengan percabangan yang makin rumit. Di antara berbagai fraksi dalam Wahabi/Salafi sendiri terdapat tiga kelompok yang oposisional terhadap pemerintah Saudi. Yakni Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafy Takfiry. Salafy Surury atau "Salafiyah Politik" yang lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang agenda pemurnian (purifikasi).  Mereka terpengaruh oleh pemikiran lkhwan Al-Muslimin (IM).

Sebutan mereka merujuk pada dai Syiria Muhammad Syurur Zein Al-Abidin, seorang tokoh IM. Kelompok inilah yang menentang keberadaan Amerika Serikat dan intervensi militernya dalam perang Teluk II.  Mereka juga menentang politik Saudi Arabia yang tidak tegas terhadap Israel.Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, 'Aidh Al-Qarni, dan lain-lain.  

Sedangkan Salafi Jihadis dan Salafi Takfiris sama-sama menggunakan kekerasan dan terror. Dua-duanya adalah produk Saudi sendiri. Keterlibatan Arab Saudi dan Intelijen Pakistandukungan Amerika Serikat dalam membentuk “legiun Arab” dalam perang Afghanistan serta keterlibatannya dalam mensupport kelompok perlawanan Sunni terhadap rezim Syiah Basyar Asad di Syiria telah melahirkan jenis Salafi baru yang tidak dikehendakinya.

Para sukarelawan jihad di Afghanistan melahirkan Tanzim Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin, sebuah kelompok teroris yang berideologi Salafi Jihadi. Sedangkan sukarelawan Sunni di Syiria berkembang menjadi Daisy (Al-Daulah Al-Islamiyyah fi Al-Iraq wa Al-Syuriyah) masyhur disebut ISIS.Kelompok bersenjata yang didukung sukarelawan dari berbagai Negara ini merupakan kiblat bagi kelompok pro kekerasan yang menganut ideology Salafi Takfiri. Ketiga kelompok Salafi inilah yang disebut oleh Pangeran Muhammad Bin Salman sebagai ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif.

Islam Moderat ala Saudi: Neo Fundamentalis 

Lalu, siapakah Islam moderat itu? Yaitu Salafi yang loyal kepada Kerajaan. Salafi yang a-politis yang loyal dan memberikan legitimasi agama bagi keabsahan kekuasaan Raja Saud. Salafi resmi di bawah Abdullah Bin Baz dan Syaikh Utsaimin yang menfatwakan bahwa berorganisasi dan berpolitik adalah bid’ah dlolalah.

Agenda konkretnya adalah membendung dan menyaingi pengaruh IM yang sangat politis, cenderung kritis dan oposisional terhadap semua penguasa di dunia Arab. Yang dimaui oleh Keluarga Raja Saud adalah melemahkan arus deras Islamisme (Islam sebagai ideology perlawanan) yang dimunculkan oleh IM.

Oleh karenanya, seruan yang didukung oleh Salafisme internasional ala Saudi adalah kesalehan individu, purifikasi agama dan penerapan Syariat Islam sebagai hokum formal. Inilah yang oleh Olivier Roy disebut sebagai neo-fundamentalisme yang telah berhasil sekian waktu membendung bahkan menggagalkan agenda Islamisme di dunia Islam.

Salafi-Wahabi yang berkembang di Indonesia adalah Salafi resmi ini. Reformasi di Arab Saudi tak akan berpengaruh apa-apa terhadap kelompok-kelompok Salafi di sini. Real Saudi akan tetap mengucur ke kelompok-kelompok Salafi di negeri kita. Sebab, yang diperangi hanyalah Salafi Surury, Salafi Jihadi dan Salafi Takfiry. Kaum Nahdliyyin harus tetap bersabar dibid’ah-bid’ahkan oleh kelompok Salafi. Innallaha m’ashshabiriin.

Penulis adalah Direktur SAS Institute dan pengajar Program Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia

Tuesday, November 28, 2017

Kiai Raden Asnawi saat Bertamu ke Pemilik Perusahaan Rokok

Mahbib, NU Online | Kamis, 19 Oktober 2017 16:03

Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengajarkan, "Bajumu akan memuliakanmu sebelum engkau duduk, sedangkan ilmumu akan memuliakanmu setelah engkau duduk."

Seorang kiai yang sangat alim dari Kudus bernama Kiai Raden Asnawi berkeinginan membuktikan kebenaran ucapan Imam Ali tersebut. Suatu saat beliau bertandang ke rumah salah seorang pemilik perusahaan rokok di kota itu. Ia bernama Turaikhan. Kiai Asnawi mendatangi rumah Turaikhan dengan pakaian biasa layaknya orang umum, tidak berpakaian yang seperti biasa beliau pakai.

Saat sampai di sana beliau ditemui oleh seorang pembantu. Kepada pembantu itu beliau minta bertemu dengan sang juragan, Turaikhan. Maka sang pembantu masuk untuk menyampaikan keinginan tamunya. Sementara Kiai Asnawi duduk menunggu di ruang tamu. Namun hingga sekian lama sang pemilik rumah belum juga keluar. Maka Kiai Asnawi bangkit dan  segera pulang.

Tak berapa lama kemudian beliau kembali mendatangi rumah Turaikhan. Kali ini beliau berpakaian rapi dan mewah; berjas dengan rantai kecil menghias di dadanya. Beliau juga mengendarai seekor kuda yang besar dan gagah. Saat itu kuda adalah tunggangan kalangan papan atas.

Sesampainya di depan rumah Turaikhan, Kiai Asnawi tak segera turun. Sementara pemilik rumah yang mendengar ada suara kuda di depan rumahnya segera beranjak ke luar untuk menyambut tamunya. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui yang datang seorang kiai besar yang sangat dihormati. Maka dengan segera dan penuh senang hati Turaikhan mempersilakan Kiai Asnawi untuk masuk rumah.

Namun di luar dugaan Kiai Asnawi menolak seraya berkata, "Aku tak mau, aku mau pulang saja. Tadi aku datang ke rumahmu dengan pakaian biasa ditemui seorang pembantu dan aku menunggumu lama tak segera keluar. Kini setelah aku berpakaian seperti ini dan menunggang kuda engkau segera keluar menemuiku. Tidak, aku tak mau. Engkau tidak menyambut dan menghormatiku, engkau hanya menyambut dan menghormati kudaku."

 

(Diceritakan oleh KH. Subhan Makmun dalam kajian kitab "Tafsir Munir" di Islamic Center Brebes

Catatan haul romo KH. ABDUL HAMID PASURUAN JATIM.

Catatan haul romo KH. ABDUL HAMID PASURUAN JATIM.

1. Semakin tahun banyak yg mendatangi haul kiai Hamid. Kira2 apa saya atau pak Walikota akan seperti ini?. Semoga kita kelak ketika berpulang akan banyak yg mengirimkan fatihah (Gus Ipul).

Mau-idhoh Hasanah (Gus Qoyum)
2. Wali abdal ada 30 orang. Setiap ada yg wafat selalu ada yg menggantikannya sehingga jumlahnya tetap.
3. Mereka wali abdal memiliki hati Nabi Ibrahim.
4. Nabi Ibrahim disebut sebanyak 69 kali.
5. Ibrohim artinya abun rohim (ayah yg penuh kasih sayang). Maka wali abdal  memposisikan diri yg penuh kasih sayang.
6. Sifat dasar Nabi Ibrohim haniifan musliman (prioritas keadilan, kemanusiaan, kasih sayang, dan teguh dgn syariat).
7. Umar bin Khottob pernah ditawari makan di dalam gereja. Beliau tdk mau krn di dalam gereja ada simbol2 gereja. Inilah ciri wali abdal.
Tidak mencampuradukkan ajaran agama tapi juga tdk merusak mereka (ritual non muslim).
8. Ibrohim tidak pernah inkar janji. Janji itu berat. Inilah ciri wali abdal.
9. Ciri wali abdal kedua adalah Berprasangka baik yg menyebabkan kekuatan hati (cerita perampok yg menyamar pejuang agama, sehingga dapat menyembuhkan sakit).
10. Ciri ketiga (sebagaimana cerita Ibrohim) adalah melakukan nilai2 ibadah dlm keadaan tidur dan bangun.
11. Wali abdal tdk ada niatan apa2, polos, lugu dan ibadahnya tdk siasat.
12. Wali abdal memiliki spesifikasi karomah yg berbeda; cerita orang yg menjebak Imam Bukhori setelah dpt kebaikan beliau.
13. Wali abdal itu tenang, banyak diam, dan berwibawa.
14. Wali abdal bisa bergonta ganti hatinya: bisa berhati Ibrohim, Musa (Tegas) bahkan Adam (kepandaian).
15. Meskipun kita belum sampai maqom ini (wali abdal), kita setidaknya mencintai beliau2.
16. Peraturan wali beda dengan kita. (Zona kewalian, baju kewalian, pencabutan kewalian).
17. Wali ada adabus syariat (nilai2 syariat) dan adabul haqiqat (saatnya terbuka atau tertutup).
18. Ciri2 wali abdal kita tiru yg kita bisa. Krn dlm kitab Al Ghozali Sulwatul Arifin ada keterangan yg berkesimpulan liberal tdk boleh (cerita Majusi memukul putranya yg tdk berpuasa). Amar ma'ruf nahi munkarnya jelas.
19. Allohumma sholli alal khodiri almuhmali ba'du. (sholawat yg dibaca sahabatnya kiai Hamid).
20. Imam ibnul Jauzi; ada seorang wali yg doanya dijatah sama Allah.

Semoga menjadi inspirasi dan nasehat untuk kita, wa bil khusus al-faqir sendiri.
Pasuruan, 28 Nopember 2017 (Rosyid Jamil, Forum Aswaja Community Pasuruan)