Tuesday, July 31, 2018

APA BEDANYA “MAKRUH” DENGAN “KHILAFUL AULA”?

APA BEDANYA “MAKRUH” DENGAN “KHILAFUL AULA”?

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Istilah “makruh” sedikit berbeda dengan istilah “khilaful aula” (خلاف الأولى). Makruh adalah status hukum yang muncul jika orang melanggar sebuah larangan yang dinyatakan oleh dalil dengan larangan yang lugas dan definitif , tetapi bukan larangan yang bersifat keras/ disertai ancaman siksa/murka Allah. Contohnya makan dengan tangan kiri. Rasulullah ﷺ melarang makan dengan tangan kiri sebagaimana dinyatakan dalam hadis ini,

عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَأْكُلُوا بِالشِّمَالِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِالشِّمَالِ

“Dari Jabir, dari Rasulullah , beliau bersabda, ‘Janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena setan itu makan dengan tangan kiri’” (H.R.Muslim).

Dalam hadis di atas, cukup jelas dan lugas bahwa Rasulullah ﷺ melarang makan dengan tangan kiri. Hanya saja, larangan ini tidak disertai keterangan larangan yang bersifat keras dan tegas, baik dalam hadis ini maupun yang lain. Oleh karena itu, jika larangan tersebut dilanggar, yakni makan dengan tangan kiri, para ulama memfatwakan hukumnya makruh. Hal ini bereda dengan haram, karena haram itu adalah status hukum yang muncul jika orang melanggar sebuah larangan yang dinyatakan oleh dalil dengan larangan yang bersifat keras nan tegas. Contohnya Allah melarang zina. Perbuatan melanggar larangan ini , yakni melakukan zina status hukumnya haram karena ada ancaman siksa yang jelas dalam hadis terhadap pelaku zina.

Adapun “khilaful aula”, maka pengertiannya adalah status hukum yang muncul jika orang melanggar hal yang disunnahkan. Semua hal yang sifatnya bertentangan dengan yang disunnahkan maka disebut “khilaful aula” tanpa membedakan apakah bersifat “positif” (melakukan aksi) maupun “negatif” (meninggalkan aksi).

Contoh yang melakukan aksi adalah sebagai berikut.

Rasulullah ﷺ mencontohkan saat berhaji beliau tidak berpuasa Arofah. Dengan demikian, orang yang berhaji dan wukuf di Arofah disunnahkan tidak berpuasa untuk mencontoh Rasulullah ﷺ. Jika ada yang melanggar dan malah berpuasa di hari itu, maka status perbuatannya adalah “khilaful aula”, bukan makruh.

Contoh yang meninggalkan aksi adalah sebagai berikut.

Rasulullah ﷺ memerintahkan dan menganjurkan salat dhuha dan qiyamul lail. Jika orang tidak melakukan salat dhuha dan tidak qiyamul lail, maka status hukumnya ini dinamakan “khilaful aula”, bukan makruh.

Baik “makruh” maupun “khilaful aula” jika dilakukan maka tidak ada ancaman siksa, hanya saja makruh lebih berat, sementara “khilaful aula” lebih ringan. Az-Zarkasyi memberi contoh pembedaan istilah antara makruh dan “khilaful aula” sebagai berikut,

وَالصَّحِيحُ: أَنَّ صَوْمَ عَرَفَةَ لِلْحَاجِّ خِلَافُ الْأَوْلَى لَا مَكْرُوهٌ

“Pendapat yang paling kuat adalah, berpuasa Arofah bagi orang yang berhaji adalah khilaful aula, bukan makruh” (Al-Bahru Al-Muhith fi Ushul Al-Fiqh, juz 1 hlm 231).

Posisi “khilaful aula” itu terletak di antara makruh dengan mubah. Kata Az-Zarkasyi, “khilaful aula” itu masih masuk rincian makruh, jadi bukan kategori baru dari “ahkam khomsah” (الأحكام الخمسة) yang telah dikenal (wajib, sunnah, mubah makruh, dan haram).

Istilah lain “khilaful aula” adalah “tarkul aula” (ترك الأولى) atau “la yanbaghi” (لا ينبغي). Kata Al-Juwaini, istilah ini diciptakan oleh ulama mutaakhirin. As-Suyuthi dalam “Al-Hawi li Al-Fatawi” juga menulis yang memberi kesan bahwa istilah ini diciptakan pertama kali di zaman Al-Juwaini atau sebelumnya sedikit, kemudian diikuti oleh ulama belakangan. Taqiyyuddin As-Subki malah menegaskan bahwa Al-Juwaini-lah yang pertama kali menciptakannya. Dalam catatan terdahulu saya sempat menyinggung bahwa An-Nawawi juga menggunakan istilah “khilaful aula” ini saat menulis hukum mengelap air setelah wudhu. Kata Al-‘Abbadi, ulama mutaqoddimin tidak pernah memakai istilah “khilaful aula”.

Kajian serius tentang topik ini ditulis oleh Abdur Rozzaq dalam tesisnya tahun 1432 H/2011 di bawah judul “Khilafu Al-Aula ‘Inda Al-Ushuliyyin”.

رحم الله علماءنا رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي اعلماء الصالحين

Versi Situs: http://irtaqi.net/2018/07/31/apa-bedanya-makruh-dengan-khilaful-aula/

***
19 Dzulqo’dah 1439 H

Monday, July 30, 2018

USAHA BAPAK (2) KH. ABDUL HANNAN MAKSUM

USAHA BAPAK (2)

Setelah 6 tahun menyelesaikan sekolah dipondok kencong, bapak pamit kekiai zam pengen pindah ke pondok ploso untuk mendalami ilmu nahwu. karena bapak memang sangat mencintai ilmu alat. prinsip bapak: “mboh iso mboh ora penting seneng(entah bisa ataupun tidak yang penting suka).”

Tapi ternyata ternyata niat baik ini tidak diperbolehkan oleh yai zam, dawuh yai: “wes mboten usah.lek pengen mendalami ilmu alat, sampean mbenjeng mulang alfiyah(gak usah kesana, kalau pengen mendalami ilmu alat kamu besok ngajar alfiyah)”.

Bapak sedikit kaget pada awalnya, tapi siap melaksanakan apapun dawuh sang kiai. karena bapak baru lulus, dan baru usia 19 tahun tapi langsung disuruh ngajar Alfiyah yang notabene pelajaran kelas menengah sedikit atas dipondok.

Ketika dijalani, bapak merasakan kebenaran dawuh kiai. “lek ngulang tambahe cepet. meskipun aku akeh ora faham e(dengan mengajar banyak kemajuan dalam pemahaman ilmu alat, meskipun tetap saja lebih banyak yang tidak saya fahami)”.

Bapak mengakui bahwasannya bimbingan guru sangat mempengaruhi kesuksesan santri. tak hanya dalam belajar agama, tapi juga dalam belajar hidup.

Bukan hanya dalam belajar, dimana bapak diberi beberapa wejangan agar ilmunya “laku”. Tapi kiai zam juga memikirkan masa depan bapak, termasuk jodoh.

Bapak dinikahkan dengan ibuk saat usia 27 tahun. disaat bapak masih cinta-cintanya menimba ilmu.

Setelah menikah, abah menetap dirumah mertua sekitar 11 bulan. Meskipun sebenarnya sebelum menikah bapak sudah mengistikhorohi rumah dan tanah mertua hasilnya kurang bagus, tapi tetap berusaha tinggal. Hingga akhirnya setelah sebelas bulan ada beberapa hal yang memaksa untuk pindah. Salah satu penyebabnya adalah mertua yang kadang ikut mengatur santri.

Dalam pengetahuan bapak, bila ada DUA KEPALA dalam satu pondok maka akan RUSAK.

Dengan izin rahasia dari gurunya, bapak pindah kesebelah utara dari rumah mertua. Yaitu disebelah masjid yang sekarang menjadi rumah kami. Disana bapak membangun gubuk ukuran 3,4 meter sebagai tempat istirahat dan menemui tamu, berangkat subuh untuk mengimami dan mengajar hingga malam hari sekitar jam 10 an.

Terus begitu, jalan kaki bolak-balik dari rumah mertua ke masjid untuk mengajar santri selama beberapa tahun.

Setelah tiga tahun berjalan, barulah mertua bapak memahami kenapa bapak berkeras memutuskan pindah. Entah siapa yang menjelaskan, bapak pun tak tahu. Justru setelah faham, sang mertua yang sebelumnya bertahun-tahun menentang keras lalu berbalik mendukung dengan memberikan rumah warisan dari kakeknya ibuk dan sebidang tanah: “Iki tak kekno sampean, dudu bojone sampean(ini saya berikan kepadamu, bukan istrimu _yang notabene anak kandungnya kakek)”.

Dengan tinggal dirumah pemberian mertua, bapak tetap ngaji dimasjid seperti biasa. Hanya, sekarang sudah lebih dekat jaraknya.

Namun, setahun dirumah kakek buyut ternyata dirasa jaraknya masih kurang dekat juga, pelan-pelan bapak mengumpulkan uang untuk membangun rumah. Sedikit demi sedikit, dari hasil usaha tani dan yang lainnya. Disebelah masjid. Agar lebih dekat dengan santri-santri.

Ditahun keempat setelah pindah dirumah kakek, pembangunan rumah baru sudah hampir selesai. Meskipun masih belum ada pintu dan masih belum sempurna, tetap diputuskan untuk pindah kerumah baru.

Bapak bahkan bercerita, harus menyewakan sawah pemberian kakek untuk membeli pintu.

Dirumah baru inilah bapak mulai benar benar bisa menata ekonomi secara penuh dan juga menemani santri lebih dekat.

(Bersambung)

#salamKWAGEAN

Thursday, July 26, 2018

Kisah sowan nya Kyai Asrori Al Ishaqy kpd Shohibul Fadhilah wal Karomah Al Masyhur bi Waliyillah Simbah KH ABDUL HAMID UTSMAN, MAGELANG..

Kisah sowan nya Kyai Asrori Al Ishaqy kpd Shohibul Fadhilah wal Karomah Al Masyhur bi Waliyillah Simbah KH ABDUL HAMID UTSMAN, MAGELANG..

Mbah Yai Hamid adalah seorang Waliyullah besar di Magelang, banyak murid beliau dari kalangan Kyai maupun Habaib.. Salah satu nya adalah Waliyullah KH Hasan Asy'ari (Mbah Mangli)

Saat itu Romo Yai tiba" mengajak cak poyo utk sowan berangkat sowan ke Mbah Hamid,
Tiba di kajoran, Magelang, ndalem Mbah Hamid, pas ba'da subuh.. Sedangkan Mbah Hamid sendiri masih di masjid..
Saat itu ada seorang murid Kyai Hamid yg menemui beliau, dan berkata :
"Klo Mbah Hamid setelah ini datang, berarti beliau berkenan menerima tamu, klo sampai siang blm dtg berarti beliau tdk berkenan"..dan murid mempersilahkan Romo Yai utk istrhat di kamar, sdgkan cak poyo menunggu beliau di depan kamar sembari menunggu kedatangan Mbah Hamid..

Tak lama.. Sekitar jam 6 pagi, sontan Mbah Hamid datang bertanya siapa yg datang,
Di jawab santri.. "Kyai Asrori dari Surabaya"
Melihat Mbah Hamid datang cak poyo berdiri dan Salim sungkem kpd Mbah Hamid..
Ketika Mbah Hamid sdh datang, cak poyo ber inisiatif utk mengetuk pintu dan memberi tahu kpd Romo Yai akan kedatangan Kyai Hamid, dan ketika akan mengetuk pintu, tangan cak poyo di tahan sama Mbah Hamid, dan berkata : "biarkan, saya saja yg menunggu.. Kamu silahkan duduk! "
Bercengkrama lah beliau berdua, hingga tak terasa sampai hingga mau jam 9 lamanya Romo Yai tak kunjung keluar..

Terdengar suara pintu dari kamar, ternyata beliau Kyai Asrori keluar tepat jam 9..
Sama mbah Hamid, Romo Yai di ciumi dari ujung kepala sampai ke bawah, hingga sampai mau ke lutut di tahan sama Romo Yai.. Mbah Hamid memeluk Romo Yai sampai menangis, ckup lama beliau menangis, sampai dlm berpelukan itu, Mbah Hamid dawuh kpd cak poyo..
"SAYANGI DIA, JAGALAH DIA DAN BANTU PERJUANGANNYA, DI DUNIA INI HANYA ADA SATU ORANG SEPERTI DIA (KYAI ASRORI) "

Semoga Allah meridhoi beliau nya, mengangkat beliau berdua di Surga yg tinggi, dg para Guru dan dg RASULULLAH SAW..

#Sumber_dan_saksi_sejarah :
"Abah Chusnul Hadi" atau yg akrab di panggil cak poyo.. "

Wednesday, July 25, 2018

Tentang Dollar

Tentang Dollar

Pagi ini saya baca beberapa media online, ada yang menarik: Menko Ekonomi, Darmin Nasution, menjelaskan awal mula mata uang dolar AS (USD) dijadikan sebagai mata uang global. Intinya sih, karena USD kini sudah menjadi mata uang global, semua butuh, AS bisa semaunya cetak uang.

"Tapi AS bisa mencetak uang banyak-banyak tidak inflasi. Kenapa? Karena orang lain perlu dolar AS bukan cuma negaranya. Sehingga pada waktu dia menjalankan kebijakan menyelamatkan ekonomi dari krisis tahun 2007, 2008. Itu bank sentralnya membeli segala macam kredit macet yang enggak karu-karuan dan 2 hingga 3 tahun kemudian krisis sembuh," kata Pak Darmin. [https://www.liputan6.com/bisnis/read/3599213/cerita-menko-darmin-soal-sejarah-dolar-as-jadi-mata-uang-global.  Yang di sini agak lebih panjang beritanya: https://kuwera.id/data-berita/data-berita/kemenko-perekonomian/menteri-darmin-nasution-ungkap-sejarah-dolar-menguasai-dunia ]

-----------

Nah, saya lengkapi ya, copas dari tulisan saya tahun 2010 (8 tahun yang lalu).

Begini: pertanyaan kritisnya: siapa sih yang cetak USD? Pemerintah AS? Nope. Yang cetak adalah The Fed (Federal Reserve).

Ironisnya, ternyata The Fed bukan bank milik pemerintah AS.  Bank itu murni bank swasta, bahkan dimiliki bukan oleh orang AS, melainkan klan konglomerat Yahudi-Zionis, bernama Rothschild dan rekan-rekannya (antara lain: Rothschild Bank of London, Rothschild Bank of Berlin, Warburg Bank of Hamburg, Warburg Bank of Amsterdam, Israel Moses Seif Bank of Italy, Lazard Brothers of Paris, Citibank, Goldman & Sach of New York, Lehman & Brothers of New York, Chase Manhattan Bank of New York, dan Kuhn & Loeb Bank of New York.)

Awalnya pada 1837-1862  AS punya bank pemerintah yang mencetak uang (sertifikat emas/perak). Secara bertahap, uang kertas diperkenalkan kepada masyarakat dan menjadi alat tukar pengganti koin emas/perak. Lalu, pada tahun 1913, Rothschild dkk membentuk The Fed.

The Fed memiliki cadangan emas yang sangat banyak, sehingga mampu meminjamkan uang yang sangat besar kepada pemerintah AS. Kandidat-kandidat presiden AS dibiayai kampanye mereka oleh The Fed, dan setelah berkuasa, para presiden itu mengeluarkan keputusan/UU yang menguntungkan The Fed.

Dimulai dari Presiden Woodrow Wilson, pada tahun 1914 menandatangani keputusan memberikan hak cetak mata uang AS kepada The Fed. Pemerintah mendapatkan uang kertas produksi The Fed dalam bentuk hutang yang harus dibayar kembali beserta bunganya. Rakyat AS dipaksa membayar pajak untuk membayar bunga tersebut.

Kelak Wilson menyesali keputusannya ini dan berkata, “Saya adalah orang yang paling tidak bahagia. Saya telah menghancurkan negara saya. Sebuah bangsa industri yang besar ini dikontrol oleh sistem kredit. Sistem kredit kita terkonsentrasi. Pertumbuhan bangsa ini dan seluruh aktivitas kita berada di tangan segelintir orang. Kita telah menjadi pemerintah yang paling diatur, dikontrol, dan didominasi di dunia modern. [Kita] tidak lagi pemerintah yang memiliki pandangan yang bebas, pemerintah yang diakui, yang dipilih oleh suara mayoritas, melainkan pemerintah yang dikontrol oleh opini dan paksaan sekelompok kecil orang yang mendominasi.”

Pada tahun 1933, menyusul terjadinya krisis moneter, Presiden Roosevelt yang juga kampanyenya didanai The Fed, melakukan aksi penyitaan emas rakyat dan menyerahkannya kepada The Fed sehingga dollar benar-benar menjadi mata uang AS dan uang emas/perak tidak digunakan lagi.

Tentu tidak semua presiden AS sebodoh Wilson atau Roosevelt, sehingga mau menukar kedaulatan negara dengan uang bantuan kampanye. Presiden F Kennedy pernah berusaha melepaskan AS dari jeratan The Fed dengan membuat rencana penerbitan mata uang sendiri. Namun, sebelum rencananya terlaksana, dia sudah mati dibunuh.

Presiden-presiden sebelumnya, dan para politisi dan ekonom AS pun sudah banyak yang memperingatkan bahaya penyerahan hak cetak dollar dan hak pendistribusiannya kepada bankir swasta; namun suara-suara itu lenyap begitu saja, seiring dengan terus berlanjutnya proses indoktrinasi sistem ekonomi uang kertas di kalangan akademisi seluruh dunia.

Situasi ini dijelaskan sendiri oleh Rothschild pada tahun 1863, “Sedikit orang yang memahami sistem ini sangat tertarik pada keuntungan sistem ini atau sangat memiliki ketergantungan pada sistem ini, sehingga tidak akan ada perlawanan dari mereka.”

Meluasnya penggunaan dollar di dunia, dan dijadikannya dollar sebagai standar mata uang dunia (contoh: harga2 di Indonesia selalui dikaitkan dengan dollar, dollar naik, harga barang di Indonesia juga naik) membuat The Fed kini pada hakikatnya adalah penjajah dunia, termasuk rakyat AS sendiri. The Fed leluasa mencetak dollar, dan rakyat sedunia memberikan kekayaan alam dan keringat mereka untuk ditukar dengan dollar.

Pertanyaan kritis kedua: kenapa sih orang-orang kayak Rothschild ini meraup duit sebanyak-banyaknya, ratusan tahun, ga puas-puas? Kemana duitnya pergi?

Rothschild adalah Yahudi-Zionis yang punya impian untuk membangun Israel Raya. Israel mengenang  Baron Edmond James (Avrahim Binyamin) de Rothschild (1845-1934) sebagai “Father of the Settlement”. Dialah yang pertama kali memulai proyek permukiman Israel dengan membeli tanah-tanah di Palestina untuk kemudian dihuni oleh imigran-imigran Yahudi dari berbagai penjuru dunia.

Impian Edmond Rothschild ini diteruskan oleh keturunannya (bahkan, darah klan Rothschild tetap ‘murni’ hingga sekarang karena ada aturan ketat tentang pernikahan dalam keluarga itu).  Ketika jumlah penduduk Yahudi sudah cukup signifikan, dengan uangnya, klan Rothschild menggunakan segala macam cara untuk menekan wakil-wakil negara-negara anggota PBB sampai mereka akhirnya pada tahun 1947 menyetujui Resolusi 181 yang merampas 56,5% wilayah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Hingga kini, biaya operasional Israel masih terus disuplai oleh AS (dan siapa sesungguhnya pemilik uang di AS, dan bagaimana uang itu dikeruk, sudah terjawab di uraian di atas).

Oya, ingat juga fakta bahwa Deklarasi Balfour 1917 [berisi janji Inggris untuk menyiapkan tanah air bagi kaum Yahudi] disampaikan secara resmi oleh Menlu Inggris kepada Walter Rothschild (anak Edmond Rothschild).

Jasa Edmond Rothschild diabadikan dalam uang koin emas Israel yang dimanai “Koin Hari Kemerdekaan” seperti terlihat di foto ini:
-Bagian depan: foto Baron Rothschild bertulisan aksara Hebrew “Father of the Jewish Settlement”.
-Bagian belakang: lambang negara Israel dengan tulisan di bawahnya “Baron Edmond de Rothschild”, “1845-1934” (masa hidup Edmond Rothschild), “Centenary of His First Settlement Activities in Eretz Israel”. Kata “Israel” ditulis dalam huruf Hebrew, Inggris, dan Arab. Tahun penerbitan mata uang ini adalah 1982.

====

Tulisan saya tahun 2010 ini sangat panjang, tidak bisa dicopas semua. Baca aja di blog ya:
https://dinasulaeman.wordpress.com/2010/09/18/ekonomi-politik-global-dominasi-dollar-penjajahan-the-fed-penjajahan-israel-atas-palestina/