Wednesday, January 2, 2019

Kisah di Balik Lirik: Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Kisah di Balik Lirik: Ketika Tangan dan Kaki Berkata

Suatu saat, Chrisye minta Taufiq Ismail untuk menuliskan syair religi untuk satu lagunya. Dan disanggupi sebulan.
Ternyata, minggu pertama macet, tidak ada ide. Minggu kedua macet, ketiga macet hingga menjelang hari terakhir masih juga tidak ada ide.
Taufiq gelisah dan berniat telpon Chrisye dan bilang: Chris maaf, macet!
Malam harinya, Taufiq mengaji. Ketika sampai ayat 65 surat Yaasiin dia berhenti.
Makna ayat ini tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa, kata Taufiq.
Dan segera dia pindahkan pesan ayat tersebut ke dalam lirik-lirik lagu.
Ketika pita rekaman itu sudah di tangan Chrisye, terjadi hal yang tidak biasa. Ketika berlatih di kamar, baru dua baris Chrisye menangis, mencoba lagi, menangis lagi. Dan begitu berkali-kali.
Menurut Chrisye, lirik yang dibuat adalah satu-satunya lirik paling dahsyat sepanjang karirnya.
Ada kekuatan misterius yang mencekam dan menggetarkan. Setiap menyanyi dua baris, air mata sudah membanjir.

Yanti, istri Chrisye, sampai syok melihat hal tidak biasa tersebut.
Lirik lagu tersebut begitu merasuk kalbu dan menghadapkan kenyataan betapa manusia tidak berdaya ketika hari akhir tiba.
Sepanjang malam dia gelisah, lalu ditelponlah Taufiq dan diceritakan kegelisahannya.
Taufiq mengatakan bahwa lirik lagu tersebut diilhami surat Yaasiin: 65. Disarankan kepada Chrisye, agar tenang.

Di studio rekaman hal itu terjadi lagi. Chrisye mencoba, tetapi baru dua baris sudah menangis. Dan berulang kali hasilnya sama.
Erwin Gutawa yang menunggu sampai senewen. Yanti lalu shalat untuk khusus mendoakannya.
Akhirnya dengan susah payah, Chrisye berhasil menyanyikannya hingga selesai. Rekaman itu sekali jadi, tidak diulang karena Chrisye tak sanggup menyanyikannya lagi.
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” (QS. Yaasiin 36: 65)

Kisah Perjalanan Ruhani Chrisye Ketika Bertemu Abah Guru Sekumpul
Chrismansyah Rahadi atau yang akrab kita kenal dengan sebutan Chrisye. Seorang penyayi legendaris yang karyanya banyak memberikan motivasi cinta. Disukai sebab lirik lagunya yang nyaman didengar dan disanjung banyak orang, pencipta lagu seakan-akan karena merekalah lagu itu diperuntukkan. Hikmah yang terbesar dalam diri dan kehidupan Chrisye adalah ia mempunyai kesempatan untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan agamanya yang terdahulu. Keislamannya tidak lepas dari bimbingan Syekh Muhammad Zaini Abdul Ghani.
Asal muasal pertemuan Chrisye dengan Abah Guru Sekumpul
Ketika saudaranya mengajak ke Martapura untuk menemui Abah Guru. Dikatakan saat itu Chrisye sangat antusias sekali. Karena selama ini kesuksesan yang diperolehnya hampa tiada makna tanpa ada bimbingan agama, harus ada perimbangan yang bersifat spiritual dan meneguhkan iman. Akhirnya Chrisye menginjakkan kaki pertama kali di Sekumpul sekitar tahun 90’an. Sejak itu Chrisye sering ke Martapura, ikut mengaji di tengah-tengah para hadirin majelis Abah Guru di Sekumpul. Chrisye juga tidak henti-hentinya meminta nasehat dengan beliau. Ketika Abah Guru mengatakan “Kamu memang sedang digodok oleh Allah”, Chrisye semakin meneguhkan keyakinan dan memantapkan keimanannya kepada Allah. Nasehat Abah Guru, agar Chrisye sering bersilaturrahmi kepada para ulama, kiai dan habaib. Terlebih Chrisye tinggal di Jakarta. Abah Guru menyarankan ia mengikuti pengajian Habib Abu Bakar di Jakarta.
Sesuai yang disarankan Abah Guru, Chrisye pun bersama keluarga rajin mengikuti pengajian tersebut setiap hari ahad. Selain berupa pengajian, Chrisye dan keluarga membaca Maulid Simtud Durrar dan Ratib Al-Haddad di majelisnya Habib Abu Bakar. Nasehat Abah Guru lagi, agar jika mampir ke Solo, jangan lupa sowan meluangkan waktu bersilaturrahmi ke tempat Habib Anis.
Perkenalan Chrisye dengan Habib Anis berawal dari konser di Surabaya, Solo, Bandung, dan Jakarta. Nah, ketika konser di Solo itu, Chrisye meminta diantar ke tempat Habib Anis. Sayangnya, mereka yang membuat konser bukan kalangan yang mengerti tentang hal-hal yang seperti ini. Tetapi dengan semangat mereka bekerja keras mencari tempat Habib Anis. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga.
Begitulah, setiap Habib Anis ke Jakarta Chrisye tidak pernah lupa untuk bersilaturahmi dan meminta nasehat kepada beliau. Subhanallah.. Itulah Chrisye, meski dia seorang muallaf namun mempunyai keimanan yang teguh. Ia menjaga amanah keimanannya sebagai ruh agama. Karena umur yang diberikan Allah kepada kita adalah amanah.
Sekarang Chrisye telah tiada dan berhasil menjaga amanah keimanannya. Ia meninggal dalam keadaan tenang. diringi bacaan Al-Qur’an anak dan istrinya. Ia sukses membina keluarga sakinah mawaddah sesuai tuntunan agama. Ia menghadap keharibaan Allah Swt di malam mulia nan istimewa Jum’at al- mubarak. Siang Jum’atnya jenazah Chrisye disaksikan oleh banyak umat Islam dan dishalatkan ketika shalat Jum’at diadakan.
MasyaAllah

Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad nabiyil umiyi wa'ala aalihi washohbihi wasalim

Sunday, December 30, 2018

KENAPA LAHIR KARYA-KARYA BESAR? SEPERTI INILAH ULAMA MENGATUR WAKTUNYA

KENAPA LAHIR KARYA-KARYA BESAR? SEPERTI INILAH ULAMA MENGATUR WAKTUNYA

Al-Imam Abu Yusuf Al-Qadhi mengatakan, “Salah seorang anakku meninggal dunia, tapi aku tidak bisa menghadiri pengurusan dan pemakamannya. Aku serahkan semua itu kepada kerabat dan tetanggaku. Karena aku khawatir ketinggalan pelajaran bersama Al-Imam Abu Hanifah. Kalau sampai ketinggalan, kesedihanku tidak akan pernah berakhir.”

Ubaid bin Ya’isy mengatakan, “Selama 30 tahun aku tidak pernah makan malam sendiri dengan tanganku. Selalu saja saudara perempuanku yang menyuapiku, sedangkan aku tetap menulis hadits-hadits Rasulullah saw.”

Ibnu Sahnun mempunyai seorang pembantu hamba sahaya. Setelah menyiapkan makan malam, pembantu mempersilahkan beliau makan. Karena tuannya tak kunjung makan, pembantu pun menyuapinya. Ibnu Sahnun terus saja membaca dan menulis hingga datang waktu subuh. Dia pun berkata, “Ayo mana makan malamnya?” Pembantu menjawab, “Loh, bukannya sudah aku suapi tadi?” Ibnu Sahnun menjawab, “Benarkah? Aku tidak merasa.”

Al-Imam Ath-Tabari pernah berkata kepada para pencatat buku, “Maukah kalian aku diktekan buku tafsir?” Mereka balik bertanya, “Memang berapa besar tafsirnya?” Ath-Thabari menjawab, “30 ribu lembar.” Mereka pun menolak, “Oh tidak. Ini adalah pekerjaan yang tidak akan pernah selesai walaupun sampai kami meninggal dunia.” Maka Ath-Thabari pun meringkasnya hingga bertebal 3 ribu lembar. Tafsir itu lalu didiktekan selama 7 tahun.

Seluruh tulisan Al-Imam Ath-Thabari berjumlah 358 ribu lembar. Beliau meninggal dunia dalam umur 86 tahun. Jika saja beliau sudah mulai menulis sejak umur 14 tahun, maka setiap harinya beliau menulis 14 lembar.

Al-Hafizh Al-Muhaddits Ibnu Syahin telah menulis 330 judul buku. Di antara yang besar adalah buku tafsir yang ditulisnya dalam seribu juz, buku hadits dalam seribu juz, buku sejarah dalam 150 juz, dan buku zuhud dalam seratus juz. Ibnu Syahin telah menulis ilmu yang belum pernah dicapai oleh siapapun manusia di atas bumi.

Imamul Haramain Al-Huwaini mengatakan, “Aku tidak membiasakan kapan tidur dan makan. Aku tidur hanya ketika ketiduran. Aku makan hanya ketika sedang ingin makan.” Kesenangan beliau adalah membaca dan berguru kepada siapa saja. Bahkan pada umur 50 tahun beliau masih mau belajar ilmu nahwu, sebuah ilmu yang sangat dasar dalam kaidah bahasa Arab.

Ibnu Aqil Al-Hanbali adalah ulama yang sangat membaca dan menulis. Waktu sangat beliau jaga. Sampai-sampai makanan pun beliau pilih yang lembut-lembut agar cepat menelannya. Kalau hanya ada roti yang didapatinya, maka beliau akan siram roti itu dengan air agar lembut dan langsung ditelan. Hal itu demi menghemat waktu untuk mempelajari ilmu agama.

Perjuangan para ulama dan santri demikian besar. Tak heran jika umat Islam adalah umat yang paling kaya dengan khazanah keilmuannya. Bagaimana dengan ulama dan santri saat ini, apakah bisa mengulangi kejayaan keilmuan masa lalu? (sof1/mukjizat.co)

Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa dimata gusdur

Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa dimata gusdur

Kejadian nyata, saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu Gus Dur bersama KH. Maman Imanul Haq sedang berada di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur.

Lalu Kyai Maman bertanya, “Ada apa Bib?”

“Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir al-Musawa.

Lalu Gus Dur bertanya kepada Kyai Maman, “Itu siapa?”

“Habib Mundzir, Pak,” jawab Kyai Maman.

“Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.

Dan ternyata betul apa yang dikatakan Gus Dur waktu itu, Pimpinan Majelis Rasulullah Saw. Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa itu kemudian meninggal dalam usia yang masih muda. Lahuma al-Fatihah...

Mengenang Habib Mundzir al Musawa: Sang Pemilik Tanah Jawa

mengenal sosok beliau dengan seksama, selain saya mendapati beliau adalah termasuk kalangan Habaib yang banyak dicintai oleh banyak pemuda-pemudi negeri ini. Itu bagi saya cukup menarik jika melihat fakta, bahwa betapa banyak Habaib yang lebih alim dari beliau, betapa banyak Habaib yang trah keluarganya lebih terkenal dari keluarga beliau, namun para pemuda-pemudi itu hati mereka lebih condong kepada diri beliau dibanding yang lainnya.

Saya kira hal itu terjadi karena setidaknya ada beberapa alasan pokok.

Pertama
karena hakekat kemaqbulan yang beliau miliki selama hidupnya adalah Tauriyyah dari keagungan Guru Fath beliau, Sayyidinal Habib Umar bin Hafidz.

Kemaqbulan dan kemasyhuran yang beliau miliki adalah keagungan Gurunya yang di letakkan “dengan sengaja“ oleh Sang Guru keatas pundaknya karena sesungguhnya keagungan semacam itu tidak pas /tidak tepat jika di letakkan di tanah Hadramaut yang mulia.

Tanah Hadramaut adalah tanah yang di ciptakan Tuhan untuk rumah-rumah kekhumulan, ketasatturan, dan tidak akan kuat menerima hal-hal yang berlawanan dengan itu semua. Sebagaimana pernah terjadi saat kemasyhuran Al Quthub Al Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi begitu memmpesona mata, para Auliya “berbisik“ bahwa keagungan semacam ini tidak akan pernah Hadramaut mampu kuat menahannya lama-lama.

Maka kemudian terjadi sebuah peristiwa-peristiwa di kota Seiwun yang membuat Al Habib Ali memutuskan untuk mengekspor Majlis-Majlis agungnya yang selalu di datangi puluhan ribu orang itu ke Tanah Jawa melalui salah satu murid beliau, Al Arifbillah Al Habib Alwi bin Muhammad al Habsyi. Kepada muridnya ini , beliau mengirim sebuah surat perintah untuk:

“Buatlah Majlis Maulid Tahunan di Jawa, dimana engkau kumpulkan banyak orang dari penjuru daerah untuk membaca untaian kisah Maulid ( Simthud Dhuror ) ku ini dan engkau jamu mereka semua …“.

Jadilah kemudian Majlis Maulid Al Habib Ali Al Habsyi tersebar kepenjuru negeri ini dengan pesatnya, karena kemasyhuran dan kemegahan-kemegahan semacam ini Tanah Jawa adalah tempatnya.

Senada dengan itu, keagungan Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz serta kemasyhurannya Tanah Hadramaut tidak pas untuk mengayominya. Maka beliau “titipkan” keagungannya itu kepada para murid beliau di luar Hadramaut, dan salah satunya melalui Al Habib Mundzir al Musawa dengan Majlis Rasulullahnya.

Atau yang kedua, mungkin alasannya memang muncul dari pancaran rahasia spiritual Habib Mundzir sendiri. Dimana selama berdakwah, beliau selalu menyampaikannya dengan hati sanubari, bukan sekedar kemahiran mengumbar narasi di atas mimbar atau kelihaian dalam mengalahkan hujjah musuh-musih dakwahnya.

Sesungguhnya dakwah (kalimat-kalimat) yang meluncur dari ruang-ruang hati, akan menumbuhkan buah-buah kemaqbulannya.

Al Habib Mundzir tampaknya memang sudah terpilih untuk mengambil peran itu. Dirinya “ terpilih “bahkan dimulai saat sepertinya keadaan tidak memungkinkannya.

Saat Al Habib Umar berkeliling Indonesia di awal tahun 90-an, untuk mencari calon murid yang akan beliau bawa ke Hadromut dan akan dididik disana, saat itu Habib Mundzir yang masih belajar di Madrasah Al Khairat sangat kepincut untuk dapat turut terpilih. Sayang sekali kuota calon santri itu sudah terpenuhi. Tidak ada lagi jatah tambahan.

Namun saat Guru Mulia Al Habib Umar berkunjung ke Al Khairat, dan itu kunjungan beliau yang terahir di saat itu, Allah Ta’ala “memilih“ untuk turut menyertakan Habib Mundzir dalam rombongan calon-calon santri yang akan mendapat bea siswa ke Hadramaut sana.

A Habib Ali Zainal Abidin Al Jufry berkata :
“Kami mengunjungi ma’had Al Khairat yang dipimpin oleh Al Habib Muhammad Naqib bin Syech Abi Bakar, dan jumlah pelajar yang akan dibawa oleh Sayyidi Al Habib Umar ke Tarim sudah terpenuhi.

Disaat aku duduk bersama para pelajar ma’had, seketika pandanganku tertuju kepada seorang pemuda yang sangat menarik perhatianku, sebab pancaran wajah dan ketawadhuannya. Maka aku berkata di dalam hati:

“Akan aku sampaikan kepada Sayyidi Umar tentang pemuda ini“

Ketika kami berdiri, pemuda itu datang menghampiri untuk menyalamiku. Aku bertanya kepadanya:

“Siapa namamu?“

Ia menjawab dengan sangat sopan dan penuh ketawadhuan:
“ Khadim (pelayan)mu, Mundzir “
.
Kemudian Sayyidi Umar datang dan akupun mengabarinya tentang pemuda itu, lalu beliau bertanya:
“Mana pemuda yang engkau ceritakan itu ? “
Aku menjawab : “ Itu dia, pemuda yang memakai peci warna hijau … “

Maka Al Habib Umar berkata:

“Anak ini harus ada diantara mereka ( para calon santri ) dan dia tidak boleh di undur sampai angkatan kedua.“

Mendengar perintah itu , al Habib Umar bin Muhammad Maulakhela berinisiatif untuk menjadi penanggung biaya perjalanan Pemuda Mundzir itu ke kota Tarim , dan ini dihitung sebagai sebuah jasa besar habib Umar mulakhella yang selalu diceritakan dan di ingat Habib Mundzir di dalam majlis-majlisnya .

Al Habib Mundzir selama beberapa tahun memikul tanggung jawab besar amanah kemuliaan dakwah Gurunya. Sampai kemudian betul-betul secara fisik dan rukhani beliau sudah tidak kuat lagi menanggungnya, jika saj tidak ada perhatian ruhaniyyah dari para aslaf dan guru-gurunya.

Saat genap usianya 40 tahun , di suatu pagi beliau berkata kepada istrinya:

“Alhamdulillah, aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW dan aku mengadukan keadaanku kepada beliau, betapa beratnya beban dakwah dan telah lemah kekuatanku sehingga aku tidak mampu memikul beban ini.

Maka beliau memberiku kabar gembira, Rasulullah SAW berkata:

“MUROKH KHOSUN, WAL AMRU INDA UMAR … Aku beri ijin kemurahan kepadamu, dan dalam hal ini terserah Umar (Habib Umar bin Hafidz ).“

Maksud baginda Nabi SAW dengan Umar adalah Habib Umar bin Hafidz guru beliau. Dan benar juga akhirnya, di sore hari itu juga, beliau wafat meninggalkan dunia yang penuh kepayahan ini, menuju belaian kasih aslaf-aslafnya, wabil khusus baginda nabi Muhammad SAW Al Musthofa.

Habib salim , putra Al Habib Umar bin Hafidz berkata:

“Dari perkataan Habib Mundzir yang pernah aku dengar, dia berkata:
“Wahai Salim, sungguh aku berharap ketika aku diletakkan kedalam kuburku, aku berharap Sayyidiy Umar mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah ta’ala, YA ROBB …SUNGGUH AKU TELAH MERIDHOINYA ..

Ketika Habib Mundzir wafat, perkataanku itu aku sampaikan kepada ayahku, dan beliau mengangkat kedua tangannya seraya berkata:
“YA ROBB …ANNI ANHU RODHIN …wahai Tuhan kami, sungguh aku telah meridhoinya“.

Sungguh mulia keadaan seorang murid yang meninggalkan dunia, sementara Gurunya yang Paripurna itu telah jatuh hati untuk meridhoinya.

“Ya bahtak, Ya Mundzir“
Beruntung sekali dirimu, wahai Habib Mundhir. Maha Guru tuan pun memuji:
“Anta Mundzir , wa anta mubasyir …Enkau ini Mundzir, di dalam dirimu ada kabar gembira“.

Pesona dan cahaya dalam diri Habib Mundzir begitu memppesona anak-anak negeri ini, Sebagaiman persaksian ba’dhus Shalihin dari Kota Tarim:

“Wajhuka Nawwir ,,, anta Musy Mundzir, anta Muhammad Maula Jawa, war Royah Batakunu fi yadika …. Wajahmu bersinar bercahaya, ( laksana ) engkau ini bukan Mundzir, tetapi engkau adalah Seorang yang akan dipuji-puji ( Muhammad ) sang pemilik Tanah Jawa. Dan bendera dakwah aka nada ditanganmu …”

Sesudah Habib Mundzir tiada, anak-anak negeri ini hanya tinggal mendapatkan kemudahannya saja. Bendera dakwah Majlis rasulullah semakin hari berkibar dimana-mana. Semakin hari semakin banyak anak-anak negeri yang ikut bersama mengibarkannya.

Alhamdulillah, menjadi mudah karena bagihan tersulitnya, beban-beban itu sudah terlebih dahulu Habib Mundzir al Musawwa yang memikulnya.

Jazallah anna Habiban Mundzir khoira. Jazalloh anna Habibana Mundzir ma huwa ahluh.
Semoga Allah membalas jasa Habib Mundzir kepada kita dengan sebaik-baik balasan. Semoga Allah membalas sesuai dengan apa yang beliau berhak mendapatkannya. Amin.

#alfatihah

Saturday, December 22, 2018

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

JANGAN PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH

Ada seorang sholeh yang telah naik haji sebanyak 11 kali. Lalu pada tahun berikutnya beliau mengajak murid beliau untuk berhaji bersama ke Makkah.

Pada saat berhaji, manakala sang guru mengucapkan "Labbaikallahumma Labbaik", sang murid selalu mendengar suara yg menjawab "La Labbaik" (tak ada panggilan untukmu).
Demikian jawaban La labbaik tsb berulang ulang ia dengar setiap sang guru mengucapkan Labbaikallaumma labbaik (aku penuh panggilan ya Allah). Ia mencoba mencari sumber suara, namun tak kunjung berhasil.

Sampai pada suatu hari sang murid tak bisa lagi menahan kesedihannya. Guru yg dia cintai, panutannya, malah mendapat penolakan sendiri dari Allah. Demikian pemahamannya. Maka sang murid pun demam, tak bisa muncul selama beberapa hari di hadapan gurunya.

Menyadari muridnya tak kelihatan selama beberapa hari, maka sang guru pun mencari keberadaan sang murid. Guru bertanya, "wahai muridku, ada apa denganmu? Mengapa aku tak melihat dirimu beberapa lama untuk ikut beribadah?"

Sang murid pun pecah tangisnya. Tak mampu lagi menahan kesedihan yg luar biasa. Maka ia menjawab :" duhai guruku, sesungguhnya hamba selalu mendengar jawaban yg mengatakan "La Labbaik" setiap kali hamba mendengar engkau mengucapkan Labbaikallah humma labbaik.. " Hamba tak kuasa mendengarnya duhai guru. Inilah yg menyebabkan hamba demam".

Apa yg terjadi?
Sang guru dengan lembut tersenyum pada sang murid..dengan penuh kasih sayang beliau menjawab : "oh ..jadi itu rupanya yg membuatmu demam..karena kesedihanmu yang mendengar jawaban untukku..
Ketahuilah nak, aku sudah 11 kali menunaikan ibadah haji, dan setiap tahun aku selalu mendengar jawaban (La labbaik) yang sama..

"Namun aku mencintai Allah Tuhanku..aku tak mau berputus asa dari rahmatNYA...Tugasku hanyalah beribadah, meninggikanNYA, memujiNYA. Maka aku hanya akan melakukan apa yang diperintahkanNYA untukku. Aku tak mau mengatur keputusan Rabb-ku tentang diriku. Bahkan jika aku ditempatkan oleh Nya di neraka, maka aku akan redha dengan keputusan Tuhanku untukku."

MasyaAllah
Siapa yang redha kepada Allah..maka Allah pun redha kepadanya

Dipahami dari Alhabib Muhammad Bagir bin Yahya

Wallahualam
Allahumma sholli'ala sayyidina Muhammad nabiyil umiyi wa aalihi washohbihi wasalim