Friday, July 26, 2019

Bacaan Shalawat Hajjiyyat Agar Dimudahkan Naik Haji

Penulis

 Annisa Nurul Hasanah

 -

26 Juli 2019

0

6892

BincangSyariah.Com – Semua orang Islam pastinya ingin menyempurnakan rukun Islam yang kelima, yakni menunaikan ibadah haji ke baitullah. Oleh sebab itu, banyak cara pun mereka lakukan, baik usaha lahir dengan menabung sebagian rezekinya maupun usaha batin dengan cara berdoa.

Syekh Ahmad Qusyairi di dalam kitab Al-Wasiilah Al-Hariyyah fi Al-Shalawat Ala Khairil Bariyyah telah menuliskan sebuah doa agar dapat menunaikan ibadah haji dalam bentuk shalawat yang disebut dengan shalawat hajjiyyah sebagaimana berikut.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَزِيَارَةَ قَبْرِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ أَفْضْلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ فِيْ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهٖ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin tuballighunaa bihaa hajja baitikal haraam wa ziyaarata qabri nabiyyika alaihi afdhalus shalaatu was salaamu fi luthfin wa ‘aafiyatin wa salaamatin wa bulughil maraam wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa barik wa sallim.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas junjungan kami Muhammad dengan berkah shalawat yang dapat menyampaikan kami dengannya untuk berkunjung ke rumah Mu yang mulia dan mengunjungi makam nabi-Mu, atasnya shalawat dan salam yang paling utama dalam kelembutan, sehat, selamat, dan tercapai cita-citanya, serta berkahilah dan salam untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

Demikianlah shalawat hajjiyat yang diajarkan oleh imam Ahmad Qusyairi di dalam kitabnya. Shalawat tersebut dapat kita amalkan sebagai bentuk doa atau harapan kita kepada Allah swt. agar dengan izinNya melalui shalawat hajjiyat ini kita dapat menunaikan ibadah haji. Aamiin. Wa Allahu a’lam bis Shawab.

Tuesday, July 23, 2019

MESKI TERTUNDA, KEIKHLASAN IMAM HADDAD RA KINI TERBAYAR LUNAS.

MESKI TERTUNDA, KEIKHLASAN IMAM HADDAD RA KINI TERBAYAR LUNAS.

Di jalanan sepi Desa Hawi - + 400 tahun yang lalu sekelompok Musafir bertanya kepada para penduduk desa, "Dimanakah rumah Abdullah Al-Haddad?" Para penduduk desa menjawab, "Apakah yang kalian maksud Abdullah si Buta?". Sebagaimana kaum Quraisy yang hanya mengenal Nabi Muhammad sebagai si Yatim.

AL-Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad adalah seorang ulama besar dengan mata rantai keilmuan yang bersambung pada guru-guru beliau sampai Nabi Muhammad saw. Bahkan, bukan hanya sanad ilmu, sanad nasab beliau juga bersambung kepada Nabi Muhammad saw.  Di usia 4 tahun, beliau mengalami sakit yang menyebabkan kehilangan penglihatannya. Namun, Allah menggantikan untuknya mata hati yang terang benderang.

Salah satu Guru beliau adalah Al-Imam Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas (Penyusun Ratib Al-Atthos). Ketika itu, banyak santri yang berebut untuk berguru kepada Habib Umar. Namun, yang disambut oleh Al-Habib Umar adalah Habib Abdullah Al-Haddad kecil. Beliau berbeda dengan yang lain di hadapan Sang Guru. Saat yang lain sibuk mencari, ia malah dicari. Saat yang lain sibuk mencintai, ia malah telah dicintai. Sungguh kedudukan yang luar biasa.

Hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Beliau mendapatkan kemuliaan ini tidak dengan cuma-cuma, melainkan dengan mujahadah yang sangat berat. Diceritakan, di awal mencari ilmu, setelah shalat subuh, beliau bertadarrus Alqur'an. Kemudian, berkelilinglah ia ke masjid-masjid kota Tarim untuk melakukan shalat sunnah sampai sekitar 200 roka'at. Tak lupa, beliau juga mengisi bak-bak air di kamar mandi masjid supaya orang yang akan berwudlu tidak perlu mengambil air lagi dari sumur. Beliau bukan melakukannya sekali, tetapi setiap hari.

Sampai nenek beliau yang bernama asy-Syarifah Salma binti al-Habib Umar bin Ahmad al-Manfar Ba’alawi berkata: ‘Wahai anakku, kasihanilah dirimu". Beliau selalu menyembunyikan berbagai cobaan yang dideritanya, sampai di akhir usianya. Dalam masalah ini beliau berkata kepada seorang kawan dekatnya,:“Sesungguhnya penyakit demam di tubuhku sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu dan hingga kini masih belum meninggalkan aku, meskipun demikian tidak seorang pun yang mengetahui penyakitku ini, sampai pun keluargaku sendiri.”

Beliau selalu berdoa kepada Allah, "Ya Allah, berilah kepadaku kedudukan Al-Habib Abdullah bin Abi Bakar Alaydrus Al-Akbar, Sampai akhirnya, Allah berikan kepadanya futuhal 'arifin (keterbukaan para arif billah. Saat sudah menjadi seorang ulama, beliau tidak memiliki banyak murid seperti yang lainnya. Beliau juga tak begitu dikenal di masanya. Tetapi, berkat keikhlasan dan kesungguhannya kepada Allah, tersebarlah nama dan ilmu beliau melalui 2 orang murid terbaiknya, Al-Habib Ahmad bin Zein (Pengarang kitab Risalatul Jami'ah, Syarah 'Ainiyyah) dan Al-Habib Muhammad bin Abdurrahman Al-Jufri.

Tidak ada Wali Allah yang meninggalkan dunia tanpa mewariskan sesuatu yang bermanfaat bagi ummat. Begitu pula Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad yang telah meninggalkan sebuah senjata dan perisai ampuh untuk melawan gangguan jin dan manusia yang diberi nama *Ratibul Haddad, Wiridul Lathif, Hizib Nashr*.

Kini, siapa yang tak rindu bersimpuh menziarahi makamnya? Kini, siapa yang tak mengenal namanya? Kitab-kitab beliau menyebar seantero negeri menemani hari-hari para santri. Mutiara hikmah beliau menghapus kegersangan hati penduduk bumi. Silsilah kitabnya dijadikan manhaj taklim universitas seluruh negeri. Diwannya pun menjadi rujukan setiap orang yang entah tak tau kemana harus melangkah.

Thoriqah Haddadiyah dinisbatkan padanya, seorang pemimpin para wali yaitu Al-Hujjatul Islam Al-Imam Al-Mujaddid Quthbul Aqthab Wal-Irsyad, Al-Gautsil Ibad Wal-Bilad, Al-'Alim Al-'Allamah Ad-Da'i Ilallah Al-'Arifbillah Shohibud-Dark Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad RA.

Imam Haddad RA menjadi pemimpin para wali (Al-Quthb Al-Aqthab Al-Gauts) lebih dari 60 Tahun. Beliau menerima libas atau pakaian kewalian dari al-’Arif Billah al-Habib Muhammad bin Alawi (Shahib Makkah). Beliau menerima libas tersebut tepat ketika al-Habib Muhammad bin Alawi wafat di kota Makkah pada tahun 1070 H. Pada waktu itu, usia Imam Haddad RA 26 Tahun. Kedudukan Wali Quthb itu beliau sandang hingga beliau wafat tahun 1132 H.

Imam Haddad berguru & memperoleh mandat (ijazah) Thariqah dari Sayyid Muhammad bin Alwi Makkah dari Imam Abdullah bin Ali dari Sayyid Abdullah al-Idrus dari Sayyid Umar bin Abdullah al-Idrus dari ayahnya Abdullah al-Idrus dari ayahnya Alwi & Alwi dari saudaranya Abu Bakar al-Idrus dari ayahnya al-Idrus al-Kabir dari Syaikh Ali dari putranya Syaikh Abi Bakar as-Sakran & juga dari pamannya yaitu Syaikh Umar al-Mukhdhar dari ayah mereka Imam Abdurrahman as-Segaf dari ayahnya Syaikh Maula ad-Dawilah dari ayahnya Syaikh Ali dan pamannya Syaikh Abdullah bin Syaikh Alawi dari ayahnya Syaikh al-Faqih al-Muqaddam dari ayahnya Syaikh Alawi bin al-Faqih dari kakeknya dan terus ke Sayyidina Ali bin Abi Thalib. (Ghayah al-Qashd wa al-Murad, juz 1, halaman: 219).

Suatu hari Imam Haddad RA berkata :
”Dahulu orang menuntut ilmu dari semua orang, kini semua orang menuntut ilmu dariku “.

Beliau adalah seorang Mujaddid (pembaharu) abad ke-11 dengan keilmuan setara dengan Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hambal. Salah satu dari kalam beliau adalah:

من تبع السلف اسلم، ومن تبع الخلف والله أعلم _

"Barangsiapa mengikuti ulama terdahulu, maka ia akan selamat. Dan barangsiapa mengikuti ulama masa kini, wallahu a'lam."_

📚 Dikutip dari kajian kitab Risalah Muawanah bersama Habib Mustafa Khird dan berbagai sumber.

Wallahu'alam Bis-Showab
=====================

*اَلصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ لٰلهِّ وَ بَرَكَاتُهُ ٬ اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَ عَلٰى عِبَادِ لٰلهِّ الصَّالِحِيْنَ*

Sobahul Kheir...

Friday, July 19, 2019

Ketika Wali Allah SWT Menikah

Ketika Wali Allah SWT Menikah

Dalam Kitab Risalah Qusyairiyah, Bab Syukur diceritakan...

Ada sepasang suami istri yg sudah lama menikah tapi tidak mempunyai anak sampai beliau sepuh atau sudah tua..

Kemudian ada sebagian ulama bertanya pada Wali Allah tersebut tentang keadaannya kok bisa sampai begitu. Lalu beliau bercerita:

Dulu ketika aku masih muda, aku menyukai seorang perempuan putri pamanku (misanan), begitu juga dia suka kepadaku. Dengan rahmat Allah perempuan itu menjadi istriku.

Pada waktu malam pertama, aku berkata," Kemarilah istriku, kita beribadah dahulu sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah karena telah menjadikan kita suami istri."

Lalu kami sholat pada malam itu, karena terlalu enak dalam sholat, kita lupa kepada pasangan kita, kita hanya ingat Allah dan kita sholat sampai subuh.

Di malam berikutnya, kejadian ini kembali terulang, dan selama 80 Tahun kejadian itu selalu terulang sampai sekarang.

Kemudian Ulama itu bertanya kepada Istrinya," Apakah memang seperti itu Wahai Fulanah?

Istrinya yang sudah tua itu menjawab," Ya, memang seperti apa yang dikatakan suamiku."

Masya Allah, itulah Hati seorang wali, Jika dia sudah beribadah maka ingatannya hanya Allah. Sampai lupa kepada pasangannya..

Mungkin karena inilah kenapa banyak temanku belum nikah, mereka terlalu khusuk dalam beribadah sampai lupa bahwa kiamat sudah dekat

Monday, July 15, 2019

"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."

"NASEHAT al-Habib Umar bin Hafidz Untuk Para Istri, Suami, Anak Laki-laki, Ibu, Anak...."

Jadilah...

"ISTRI"
Yang tunduk patuh pada suami, yang senantiasa berseri seri saat dipandang, yang ridho terdiam saat suami marah, tidak merasa lebih apalagi meninggikan suara, tercantik di hadapan suami, terharum saat menemani suami beristirahat, tak menuntut keduniaan yang tidak mampu diberikan suaminya, yang sadar bahwa ridho-Nya ada pada ridho suaminya.

Berusaha menjadi...

"SUAMI"
Yang mengerti bahwa istrinya bukan pembantu, yang sadar tak melulu ingin dilayani, yang malu jika menyuruh ini itu karena tahu istrinya sudah repot seharian urusan anak dan rumah, yang tak berharap keadaan rumah lapang saat pulang karena sadar itulah resiko hadirnya amanah amanah yang masih kecil, yang sadar pekerjaan rumah tangga juga kewajibannya, yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena rasa sayangnya terhadap istrinya yang kelelahan.

Usahakan menjadi...

"ANAK LELAKI"
Yang sadar bahwa ibunya yang paling berhak atas dirinya, yang mengutamakan dan memperhatikan urusan ibunya, yang lebih mencintai ibunya dibanding mencintai istri dan anak anaknya, yang sadar bahwa surganya ada pada keridhoan ibunya.

Selalu berusaha menjadi...

"ORANG TUA"
Yang sadar bahwa anak perempuannya jika menikah sudah bukan lagi miliknya lagi, yang selalu menasehati untuk mentaati suaminya selama suaminya tidak menyuruhnya kepada perkara munkar, yang sadar bahwa keridhoan Allah SWT bagi anaknya telah berpindah pada ridho suaminya.

Istiqomah menjadi...

"IBU#
Yang meskipun tahu surga berada di bawah telapak kakinya, tapi tidak pernah sekalipun menyinggung hal tersebut saat anaknya ada kelalaian terhadapnya, yang selalu sadar bahwa mungkin segala kekurangan pada anak anaknya adalah hasil didikannya yang salah selama ini, yang sadar bahwa jika dirinya salah berucap maka malaikat akan mengijabah do'anya, karena itu dia akan berhati berhati dalam menjaga lisannya dari berkata yang mengutuk anaknya.

Usaha terus agar menjadi...

"ANAK"
Yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi orangtuanya dalam keheningan sepertiga malam terakhir, meskipun sehari hari dalam kesibukan rumah tangganya, dalam kesibukan usahanya, dalam kesibukan pekerjaannnya.

Akhirnya menjadi...

"ORANG-ORANG"
Yang saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran, yang saling memaklumi jika hal hal di atas lupa atau lalai dilakukan, sehingga saling memaafkan diantara kita,
maka...
Rahmat Allah SWT berada diantara kita dan Allah SWT dengan kemurahanNya memaafkan kesalahan kesalahan kita...

Wallahu A'lam Bishawab

credit: FP Nibrosuz Zaman