Sunday, July 23, 2023

Surat Yang Hilang?

Surat Yang Hilang?

Sebab SS Pak Prof ini terlanjur viral, saya jadi ingin membahas ini tipis-tipis dengan harapan para pembaca umum bisa menambah wawasan tentang ilmu al-Qur'an.

Begini, dalam ilmu al-Qur'an dan ushul fiqh ada satu bab yang berjudul Nasakh. Nasakh ini artinya menghapus suatu ayat. Nasakh terbagi menjadi tiga jenis, yakni:

1. Menghapus tulisan dan pemberlakuannya
2. Menghapus tulisan tapi tetap diberlakukan
3. Menghapus pemberlakuan tapi tulisannya masih ada

Dari segi ada tidaknya ganti, nasakh ada yang dihapus lalu diganti dengan ayat lain. Ada pula yang dihapus tapi tidak ada gantinya, semisal dua ayat yang akan kita bahas ini.

Nah, salah satu contoh ayat (surat) yang dihapus tulisannya dari mushaf adalah dua surat pendek berisi satu ayat doa, yakni surat al-Hafd (الحفد) yang isinya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إياك نعبد ولك نصلي ونسجد وإليك نسعى ونحفد نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك بالكفار ملحق

dan surat al-Khul' (الخلع) yang isinya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك الخير كله ونشكرك ولا نكفرك ونخلع ونترك من يفجرك

Kedua surat pendek itu memang sudah dihapus tulisannya sehingga kita tak dapat menjumpainya dalam mushaf standar yang ada saat ini. Imam Suyuthi dalam tafsirnya menyampaikan beberapa riwayat yang berbeda yang memuat sedikit perbedaan redaksi kedua surat tersebut. Namun demikian bukan berarti keduanya hilang tidak terpakai sebab seperti diterangkan dalam riwayat dari Umar, as-Sufyan, al-Hasan dan lain-lain, kedua surat yang dihapus tersebut justru tetap dibaca sebagai doa qunut. (as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur, VIII/297-298). Jadi, anda boleh membaca keduanya sebagai qunut.

Meski sudah dihapus dari mushaf, Ubay bin Ka'ab dan Ibnu Mas'ud tetap menuliskannya di mushaf pribadi mereka. Keduanya diletakkan secara berurutan sebagai berikut: surat al-Ashr lalu al-Khul' lalu al-Hafd lalu al-Humazah dan seterusnya (as-Suyuthi, al-Itqan, I/223). Langkah ini wajar sebab koleksi pribadi para sahabat kadang memuat hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan di sana. Ada juga ayat yang tidak ditulis dalam koleksi pribadi sahabat tapi mereka hafal sebagai bagian dari al-Qur'an pada masa lalu sebelum dihapus, yakni ayat rajam sehingga anda tidak akan menemukannya di al-Qur'an sekarang. Hal seperti ini bukan temuan baru sebab catatan keberadannya diabadikan oleh para ulama dalam karya mereka.

Jadi, apakah kedua surat ini hilang? Jawabannya adalah tidak hilang, hanya memang tidak ditulis sebab dinasakh. Kalau memang hilang, tentu tidak akan dijumpai di mana pun dan tidak akan dibaca saat qunut.

Pernyataan dalam SS pak prof di potongan quote ceramah maupun di bukunya bahwa surat ini hilang dan mencoba direkonstruksi oleh kawannya adalah pernyataan aneh. Ini sama seperti orang yang masuk ke garasi mobil anda dan menemukan stiker di sana lalu bilang bahwa dia menemukan stiker yang hilang dari mobil anda dan mencoba merekonstruksinya kembali. Anda mungkin akan senyum-senyum berkata: "Mas, stiker itu gak hilang, memang sudah tidak saya pasang".

Ohya, tulisan yang tepat adalah al-Hafd pakai huruf dal (د) dan dalam bentuk mashdar sehingga tidak tepat bila ditulis al-Hafidz atau al-Hafiz. Juga yang tepat adalah al-Khul' sehingga tidak tepat ditulis al-Khal' apalagi al-Halaq.

Semoga bermanfaat.

Saturday, July 22, 2023

Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional

**[[ Kyai Ibnu Taimiyyah dan Cerita Irrasional ]]**

Sesuatu yang bersifat irrasional, memang selalu tak masuk akal. Ya, namanya saja diluar koridor akal biasa. Terkait cerita irrasional, ada sebagian kalangan yang menelannya bulat-bulat, jika itu berkaitan dengan tokoh idolanya. Tak jarang ada yang menolak mentah-mentah semua cerita irrasional itu.

Kita akan membaca beberapa kisah yang sepertinya irrasional. Cerita ini berkaitan dengan Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H).

Kenapa dipilih cerita Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) disini?. Biasanya jika sesuatu yang tak masuk akal itu terjadi kepada beliau, hampir-hampir tak ada yang membantah cerita tersebut. Bahkan oleh orang yang biasanya suka mengkhurafat-tahayulkan kelompok lain.

Lain halnya jika cerita tak masuk akal ini terjadi pada diri orang yang disebut “kyai”. Memang tak bisa dipungkiri, ada orang awam yang mengiyakan saja cerita-cerita irrasional itu, bahkan menambah-nambahi cerita biar seru dan wah. Tapi disisi lain ada pula yang malah dengan mudah menuduh sang kyai bekerjasama dengan jin, sampai menuduh syirik.

Disitu kadang saya merasa sedih.

Memanggil Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dengan sebutan Kyai Ibnu Taimiyyah tentu sah-sah saja. Karena memang kata kyai sebenarnya untuk makna "yang dituakan ataupun dihormati".

Kita akan baca beberapa kejadian irrasional yang pernah terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Kejadian-kejadian ini sangat bisa dipertanggungjawabkan validitas datanya. Karena datanya primer, langsung dari kitab karangan murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bisa Meramal Masa Depan ]]*

Pernah suatu ketika Mbah Mad Dalhar atau KH. Ahmad Abdul Haq (w. 2010 M); pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Watucongol Magelang kedatangan tamu yang belum beliau kenal sebelumnya. Setelah bersalaman, serta merta Mbah Mad bilang ke tamu tersebut:

“Kamu ini kerjaannya menghalalkan sesuatu yang haram ya?”

Sontak saja tamu tersebut kaget sekaligus takut, kenapa Mbah Mad bilang seperti itu. Padahal sepertinya tak pernah si tamu menghalalkan sesuatu yang memang haram menurut agama.

Selang beberapa saat, Mbah Mad berkata sebelum tamu itu bertanya kenapa. “Pegawai KUA itu kan kerjanya menikahkan orang. Nah, laki-laki dan perempuan yang awalnya haram untuk berbuat sesuatu, gara-gara kamu nikahkan sekarang jadi halal”. Oh, begitu! Ternyata si tamu itu memang kerjanya jadi pegawai KUA.

Tentu bagi sebagian orang bertanya-tanya, darimana Mbah Kyai bisa tahu bahwa tamunya adalah pegawai KUA. Karena pada saat itu, si tamu juga tak lagi memakai seragam KUA. Si Tamu juga tak mengisi buku tamu dengan menuliskan pekerjaannya. Darimana kyai tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Tentu jika awalnya sudah tak suka kyia, akan bilang; “Iya, tuh! Kyai khurafat, tak masuk akal, itu doktrin keramat wali yang sesat, mengesampingkan akal sehat!”

Biarlah dia berkata seperti itu. Mari kita baca cerita dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali (w. 751 H) tentang sang guru; Ibnu Taimiyyah al-Harrani (w. 728 H). Suatu ketika Ibnu Qayyim pernah bilang:

ولقد شاهدت من فراسة شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله - أمورا عجيبة. وما لم أشاهده منها أعظم وأعظم

Saya telah menyaksikan firasat Ibnu Taimiyyah pada banyak kejadian yang menghebohkan. Dan apa yang belum saya saksikan, lebih banyak dan lebih heboh lagi. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459)

Ibnu Qayyim (w. 751 H) ini bisa dibilang murid terdekat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Diantara kejadian aneh yang dialami oleh Ibnu Qayyim adalah Ibnu Taimiyyah bisa tahu sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi.

وأخبرني غير مرة بأمور باطنة تختص بي مما عزمت عليه، ولم ينطق به لساني. وأخبرني ببعض حوادث كبار تجري في المستقبل. ولم يعين أوقاتها. وقد رأيت بعضها وأنا أنتظر بقيتها. وما شاهده كبار أصحابه من ذلك أضعاف أضعاف ما شاهدته. والله أعلم.

(Ibnu Taimiyyah) mengabarkan kepadaku hal yang sebenarnya masih dalam pikiran saya, dan saya belum mengucapkannya kepada beliau. Beliau Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga mengabarkan kepadaku kejadian-kajadian besar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Hanya beliau tidak memberikan kepastian waktu akan terjadi hal tadi. Sebagian saya lihat dan saksikan sendiri, sebagiannya masih saya tunggu. Kejadian yang disaksikan oleh para murid beliau yang lain, malah lebih banyak lagi daripada yang saya lihat. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, Madarij as-Salikin, h. 2/ 459).

Nah, sepantasnya kita juga menanyakan hal sama; darimana Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) tahu perkata ghaib? Khurafatkah beliau? Atau mungkin bekerjasama dengan jin?

Ah, kalo itu terjadi pada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) rasanya kok tak mungkin. Beliau kan ulama salaf?

Hal serupa pernah terjadi kepada murid beliau yang lain, yaitu Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H). Beliau bahkan menuliskan biografi lengkap dengan karamah dan firasat-firasat Ibnu Taimiyyah (w. 728 H). Nama kitabnya adalah al-A’lam al-Aliyyah fi Manaqib Ibnu Taimiyyah.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Kasyaf ]]*

Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali (w. 749 H) pernah bercerita:

وحدثني أيضا قال أخبرني الشيخ ابن عماد الدين المقرئ المطرز قال قدمت على الشيخ ومعي حينئذ نفقة فسلمت عليه فرد علي ورحب بي وأدناني ولم يسألني هل معك نفقة ام لا
فلما كان بعد أيام ونفدت نفقتي أردت أن اخرج من مجلسه بعد ان صليت مع الناس وراءه فمنعني وأجلسني دونهم فلما خلا المجلس دفع الي جملة دراهم وقال انت الآن بغير نفقة فارتفق بهذه فعجبت من ذلك

Telah menceritakan kepadaku Syeikh Ibnu Imadiddin al-Muqri’; beliau berkata: Suatu ketika saya datang kepada Syeikh Ibnu Taimiyyah. Saat itu saya membawa bekal nafkah. Saya menyalami beliau, hanya setelah itu beliau tak menanyakan kepadaku apakah saya punya bekal nafkah atau tidak.

Selang beberapa hari, saat bekal nafkah saya habis, saya bertemu dengan beliau lagi. Selepas shalat bersama beliau dan saya akan pamit, beliau menahanku. Saya diminta duduk di belakangnya seraya beliau memberiku sejumlah dirham. Beliau berkata; “Kamu kan sekarang sudah tak ada bekal nafkah, ini buat kamu saja. Disitu saya takjub. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) bisa tahu bahwa Ibnu Imadiddin al-Muqri’ tak punya bekal nafkah pada pertemuan kedua. Ibnu Imadiddin menyimpulkan:

وعلمت ان الله كشفه على حالي أولا لما كان معي نفقة وآخرا لما نفدت واحتجت الى نفقة

Saya yakin, Allah telah membukakan (kasyaf) keadaanku kepada Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ketika bekal nafkah saya habis pada pertemuan kedua (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 60)

Ternyata Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) telah di-kasyaf-kan mata batinnya oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana penuturan murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Mendoakan Orang Sakit Langsung Sembuh ]]*

Kadang menjadi seorang kyai memang harus serba bisa. Jika ada masalah, datangnya ke kyai, mau nikah datangnya ke kyai, bahkan sakitpun datangnya ke kyai. Memangnya kyai multi talent? Padahal kadang hanya dido’akan saja.

Tapi ya begitulah, alhamdulillah datangnya masih ke kyai, bukan ke dukun. Asal tidak salah saja, datang ke dukun yang berpenampilan kyai, atau ke kyai yang memasang tarif per kunjungan.

Suatu ketika Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pernah mendo’akan orang sakit. Setelah didoakan langsung segera sembuh.

وحدثني ايضا قال مرضت بدمشق اذ كنت فيها مرضة شديدة منعتني حتى من الجلوس فلم اشعر إلا والشيخ عند رأسي وأنا مثقل مشتد بالحمى والمرض فدعا لي وقال جاءت العافية. فما هو إلا أن فارقني وجاءت العافية وشفيت من وقتي

Suatu ketika saya sakit di Damaskus. Saat itu sakitnya cukup parah, sampai duduk saja susah. Tak terasa Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) sudah berada diatas saya. Beliau mendoakan saya, dan berkata; kesembuhan telah datang. Setelah beberapa saat beliau pergi, benar saja saya segera sembuh saat itu juga. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 58). Hebat juga Ibnu Taimiyyah (w. 728 H).

*[[ Jika Merasa Takut dan Khawatir, Datang Saja ke Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) ]]*

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) menuturkan:

وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة.

Jika kami merasa takut, sering berburuk sangka dan bumi terasa sempit, maka kami datang kepada Ibnu Taimiyyah. Ketika kami melihat beliau dan mendengarkan perkataan beliau, maka rasa takut tadi seketika hilang, berganti keyakinan dan ketenangan. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah w. 751 H, al-Wabil as-Shayyib, h. 48)

Memang begitulah kyai, kadang masyarakat datang kepadanya hanya untuk menentramkan batin mereka.

Maka, jika setelah bertemu kyai atau ustadz, atau setelah mengikuti kajiannya, kok tak merasa tentram tapi malah bertambah panas, ada baiknya untuk muhasabah lagi. Barangkali ada sesuatu yang salah, entah apa itu.

*[[ Keramat Kyai Ibnu Taimiyyah: Menentang Beliau Akan Mendapatkan Bala’ ]]*

Kadang murid-murid Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) juga agak berlebihan juga ketika menceritakan keramat beliau. Contohnya dibawah ini:

ومن اظهر كراماته أنه ما سمع بأحد عاداه او غض منه إلا وابتلي بعدة بلايا غالبها في دينه وهذا ظاهر مشهور لا يحتاج فيه الى شرح صفته

Keramat paling nampak dari beliau adalah jika ada yang menentang atau memusuhi beliau, biasanya akan mendapatkan bala’ atau cobaan, biasanya dalam keagamaannya. Ini adalah sesuatu yang masyhur dan tak perlu dijelaskan bagaimana sifatnya. (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

*[[ Kyai Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Memang Banyak Keramatnya ]]*

Maka Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H berkesimpulan:

قلت وكرامات الشيخ رضي الله عنه كثيرة جدا لا يليق بهذا المختصر اكثر من ذكر هذا القدر منها

Keramatnya Ibnu Taimiyyah itu sangat banyak (Sirajuddin Abu Hafsh Umar bin Ali w. 749 H, al-A’lam al-Aliyyah, h. 62)

Itulah beberapa contoh keramat dan cerita irrasional dari Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) yang diceritakan langsung oleh beberapa murid beliau. Dan itu hanya sebagiannya saja. Jika mau lebih banyak, silahkan baca-baca lagi biografi beliau langsung di kitab-kitab murid beliau.

*[[ Kyai Ibnu Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) Bercerita Tentang Keramat: Ada Orang Bisa Berjalan Diatas Air Dengan Doa Tertentu ]]*

Jika tadi yang bercerita adalah murid Ibnu Taimiyyah tentang gurunya. Ibnu Taimiyyah sendiri mempunyai kitab yang berjudul al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan; Beda antara wali Allah dan wali Syeitan.

Suatu kesempatan Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menuliskan:

والعلاء بن الحضرمي كان عامل رسول الله صلى الله عليه وسلم على البحرين وكان يقول في دعائه: يا عليم يا حليم يا علي يا عظيم، فيستجاب له، ودعا الله بأن يسقوا ويتوضؤوا، لما عدموا الماء، والإسقاء لما بعدهم، فأجيب.
ودعا الله لما اعترضهم البحر ولم يقدروا على المرور بخيولهم، فمروا كلهم على الماء ما ابتلت سروج خيولهم

Al-Ala’ bin al-Hadhromi termasuk salah satu pekerja Nabi Muhammad di Bahrain. Suatu ketika dia berdoa: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim! Maka doanya terkabul. Beliau juga berdoa ketika sedang tidak ada air, agar bisa wudhu dan minum. Dan beliau dikabulkan doanya.

Beliau berdoa ketika mau melewati laut, agar bisa berjalan diatas air bersama dengan kudanya. Maka beliau bersama rombongannya bisa berjalan diatas air tanpa basah sedikitpun. (Ibnu Taimiyyah al-Harrani w. 728 H, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman wa Auliya as-Syeithan, h. 162).

Itulah salah satu keramat shahabat Nabi yang diceritakan oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam kitabnya. Hal yang menarik adalah shahabat Nabi al-Ala’ bin al-Hadhromiy dalam do’anya beliau mengucapkan: ya Alim, ya Halim, ya Aliy, ya Adzim!

Darimanakah doa itu didapatkan? Adakah haditsnya? Bukankah itu membuat-buat doa yang tak diajarkan oleh Nabi? Bid’ahkah?

Kadang ada orang yang nyinyir jika ada orang yang mengamalkan suatu kalimah thayyibah tertentu, misalnya: dengan membaca ya Hayyu ya Qayyum, insyaAllah bisa berjalan diatas air, dst. Dengan mengatakan, itu tak dalilnya.

*[[ Keramat Wali dan Sikap Kita ]]*

Tentu masih banyak lagi cerita tak masuk akal yang terjadi kepada para kekasih Allah. Tak sedikit memang yang hanya cerita fiktif belaka.

Agama Islam tak mengingkari adanya sesuatu yang irrasional. Maka jika ada kejadian tak masuk akal terjadi pada diri seseorang, kita akan gali lebih dalam lagi terkait siapa orang itu. Apakah wali Allah atau wali Syeitan?

Kita akan membaca beberapa episode menarik dari hidupnya Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) pada kesempatan yang lain, insyaAllah. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa'fu anhu. Lahu al-Fatihah..

Monday, June 26, 2023

Nama2 sayyidah fatimah dan maknanya

Nama2 sayyidah fatimah dan maknanya

1. Fâtimah, 
2. As-Siddîqah,
3. Al-Mubârakah,
4.. Ath-Thâhirah,
5. Az-Zâkiyah,
6. Ar-Râdhiyah,
7. Al-Mardhiyah,
8. Al-Muhaddatsah dan
9. Az-Zahrâ’.
10.Al-BATUL

1. ​Fâthimah  (yang melindungi)

لِأَنَّ اللهَ فَطَمَهَا وَ فَطَمَ مَنْ أَحَبَّهَا مِنَ النَّارِ

“Karena Allah menjauhkannya dan menjauhkan orang yang mencintainya dari Api Neraka.”

2. ​As-Siddîqah

As-Siddîqah berarti yang
kebenarannya sempurna.

Fathimah disebut As-Siddîqah
karena ia membenarkan ayat-ayat Tuhannya,

kenabian ayahnya,
keutamaan suaminya dan
pengangkatan suaminya
sebagai penerus Nabi,
demikian pula anak-anaknya.

Fathimah benar perbuatannya,
selalu berbuat baik, dan memiliki ibadah
yang istimewa serta keyakinan yg dalam
dan tidak lagi disentuh oleh keraguan,

melainkan telah diperkuat,
berdasarkan firman Allah:
Quran 57:19
------------------
وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ ۖ
وَالشُّهَدَاءُ عِندَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ ۖ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Dan orang-orang yg beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi
saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka. (Q.S. Al-Hadid: 19).

Ada juga pendapat yang mengatakan
bahwa As-Siddîqah berarti orang yg dijaga.

3. ​Al-Mubârakah

لِظُهُوْرِ بَرَكَاتِهَا

“Karena pancaran berkah darinya.”

Allamah Majlisi, pengarang
kitab Al-Bihar, berkata; ‘

Al-Mubârakah adalah wanita yg diberkati
dalam hal keilmuan, keutamaan dan berbagai
kesempurnaan, serta berbagai mukjizat,
demikian pula dgn keturunannya yg mulia.

Kitab Tâj al-’Arus mengartikan
al-barakah dengan pertumbuhan,
kebahagiaan dan kelebihan.

Al-Raghib berkata,
“Karena berita-berita dari Tuhan
muncul melalui cara yg tak dapat ditahan,
dan dalam bentuk yang tak terhitung,

maka dikatakanlah segala sesuatu yang
dapat dilihat sebagai suatu kelebihan indrawi adalah diberkati, dan ada berkat di dalamnya.

Allah swt telah memberkati Sayyidah Fathimah dan keturunannya. Allah menciptakan keturunan Rasul Allah dan menciptakan
banyak kebaikan pada keturunannya.

4. ​Ath-Thâhirah

Nama ini diberikan sesuai ayat:

Quran 33:33
------------------

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ
أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Sesungguhnya Allah hanya ingin menghilangkan kotoran dari kalian
hai Ahlul Bait dan menyucikan kalian sesuci-sucinya. (Q.S. Al-Ahzab: 33)

5.​Az-Zakiyah

Sayyidah Fathimah Az-Zahra
dinamai Az-Zakiyah karena beliau
telah menyucikan dirinya melalui akhlak mulia

dan menjauhkan semua
bentuk kejahatan keburukan,
baik itu emosi, dengki, ego, malas,
dan perangai-perangai hina lainnya. 

Beliau adalah penghulu
yang suci dan disucikan.

Rasulullah menamainya juga
dengan Ummu Abîha (ibu bagi ayahnya).

Beliau telah menyempurnakan hidupnya di dalam rumah Imamah dan penjagaan.

6. ​Ar-Râdhiyah

Sayyidah Fathimah dinamai Ar-Rhâdiyah
krn beliau rela pd takdir dan ketentuan Allah.

Itulah derajat keimanan yang paling tinggi.

Fathimah menanggung berbagai petaka
dan derita, ketakutan, kefakiran, boikot,
dan berbagai kesusahan serta kesedihan
sejak awal sampai akhir kehidupannya,
padahal ia masih sangat belia.

Allah SWT. berfirman:

Quran 89:27
------------------
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

Hai jiwa yang tenang.

Quran 89:28
------------------
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Fathimah rela atas apa yg diberikan Allah
di dunia, baik berupa qadha dan takdir.

Karena kerelaan Fathimah,
Tuhan juga rela padanya.

7. ​Al-Mardhiyyah

Fathimah Az-Zahra a.s. dinamai
Al-Mardhiyyah krn telah diridhai Allah atas keteguhan dan ketaatannya yg sangat tinggi.

8. ​Al-Muhaddatsah

Al-Muhaddatsah berarti orang
yang berbicara dengan para malaikat.

Syekh Shaduq di dpm kitab
‘Ilal Al-Syara’i, dari Zaid bin Ali berkata;

‘Saya mendengar
Abu Abdillah As-Shadiq berkata:

“Fathimah diberi nama Muhaddatsah
karena malaikat dari langit turun dan memanggilnya seperti Maryam putri Imran:

Wahai Fathimah,
sungguh Allah telah memilihmu dan menyucikanmu serta memilihmu
di atas seluruh wanita di sekalian alam”.

9. Az-Zahra

لِأَنَّهَا كَانَتْ إِذَا قَامَ فِي مِحْرَابِهَا زَهَرَ نُوْرُهَا
لِأَهْلِ السَّمَاءِ كَمَا يَزْهَرُ نُوْرُ الْكَوَاكِب لِأَهْلِ الْأَرْضِ

“Karena ketika fatimah berdiri (solat)
di mihrabnya, cahayanya memancar
bagi penghuni langit seperti memancarnya cahaya bintang pada penduduk bumi.”

dalam Kitab Al-Bihar, jilid 10 dari
Amali Assaduq dari Ibnu Abbas bahwa

Rasulullah saw bersabda:
“Adapun putriku Fathimah,
maka ia penghulu wanita di seluruh alam
sejak pertama sampai akhir.

Dialah segumpal daging dariku,
dialah cahaya mataku,

dialah buah hatiku,

dialah ruhku yang ada di kedua sampingku,

dialah bidadari wanita

di saat berdiri di dalam
mihrabnya di depan Tuhannya,

cahayanya gemerlap menyinari (zahara)
para malaikat langit seperti cahaya
bintang menyinari penghuni bumi”.

Hadits ini menjelaskan makna dan sebab digelarinya Fathimah dengan Az-Zahra.

Fathimah juga dianugerahi
wajah yang bersinar berkilau.

Dan masih banyak lagi hadits
yang menjelaskan hal ini.

10.Al-Batul

Nabi saw ditanya:
Apa makna Al-Batul ?

Beliau menjawab:
“Al-Batul adalah yang
tak pernah merah sedikitpun”

Sungguh Allah tidak suka jika Fathimah dicemari oleh darah haid atau darah nifas,

karena itulah Fathimah, 
penghulu wanita yg tercipta dr buah surga,
dan telah disucikan sesuci-sucinya.

Saturday, June 24, 2023

REZEKI TERBAIK SEORANG DAI

REZEKI TERBAIK SEORANG DAI

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R. Rozikin, Dosen di Universitas Brawijaya)

Dari semua rezeki halal yang mungkin masuk ke dalam kantong seorang dai,  rezeki yang terbaik jika diurutkan mulai kualitas tertinggi hingga level bawah adalah sebagai berikut

1. Hasil kerja halal yang tidak terkait aktivitas dakwah/mengajar

2. Upah mengajar/dakwah

3. Hadiah/pemberian penguasa

4. Pemberian murid/muhibbin/fans/teman/saudara

5. Utang

Maknanya, seorang ustaz yang berdagang/menjadi pengusaha atau menjadi tani, atau menjadi tukang cukur misalnya atau menjual jasa halal apapun, itu lebih bagus dan lebih utama daripada menggantungkan rezeki dari hasil ceramah dan berdakwah, baik diakadi maupun tidak. Sebab saat berdakwah beliau bisa lebih terbantu untuk ikhlas dan tidak mengharap uang setelah mengajar. Juga berdasarkan dalil bahwa makanan terbaik adalah yang berasal dari hasil karya tangan kita sendiri. Bukan menunggu uluran tangan orang.

Tetapi, mengajar agama lalu diberi “amplop” sebagai “bisyārah” atau mengajar dengan akad ijarah itu lebih utama dan lebih mulia daripada menggantungkan rezeki dari pemberian dan santunan penguasa. Sebab, pemberian setelah dakwah tanpa diakadi jelas mubah dan tidak merusak keikhlasan. Jika diakadi sekalipun maka juga jelas kehalalannya karena ada dalil yang memubahkannya. Berbeda dengan pemberian penguasa yang umumnya hartanya tercampur dengan yang tidak halal. 

Walaupun demikian, mendapatkan hadiah dari penguasa masih lebih mulia daripada mendapatkan rezeki dari hadiah murid/muhibbin/fans/teman/saudara. Sebab, pemberian dari murid itu bisa membuat guru menjadi sulit ikhlas, karena setiap mengajar akan ada godaan berniat mendapatkan pemberian murid. Juga karena ada potensi lidah menjadi kelu untuk mengingatkan murid yang salah sementara dia sering memberi hadiah.

Tapi menerima pemberian murid masih  lebih baik daripada berutang, karena khawatirnya wafat dalam keadaan belum bisa melunasi utangnya.

Di riwayatkan Imam Ahmad berkata,

أجرة التعليم خير من جوائز السلطان وجوائز السلطان ‌خير ‌من ‌صلة ‌الإخوان». «مجموع الفتاوى» (30/ 193)

Artinya,

“Upah mengajar lebih baik daripada hadiah penguasa dan hadiah penguasa lebih baik daripada pemberian saudara (dalam din)/para murid” (Majmū’ al-Fatāwā, juz 30 hlm 193)